google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kafe Pustaka Malang Jadi Ruang Reflektif Sejarah Perempuan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Sore itu, Rabu (23/4/2025), suasana di Kafe Pustaka Kota Malang berubah menjadi ruang refleksi sejarah yang intens dan menggugah. Puluhan peserta tampak menyimak dengan saksama saat diskusi publik bertajuk Perempuan, Buruh, dan Luka Kolonial dimulai, beriringan dengan agenda bedah buku Rasina karya sastrawan Iksaka Banu.

Acara ini bukan sekadar perbincangan sastra, tetapi menjadi ajang menyibak lapisan sejarah yang selama ini kerap terabaikan. Mengangkat kisah-kisah ketidakadilan kolonial, Rasina menjadi pintu masuk untuk mengulas kembali luka sejarah yang masih berdenyut dalam ingatan kolektif bangsa.

Buku Rasina: Fiksi yang Menggugat Realitas Penindasan

Buku Rasina yang ditulis Iksaka Banu, dikenal sebagai salah satu karya sastra yang dengan tajam menyoroti sisi gelap kolonialisme Belanda di Hindia Timur. Cerita-cerita pendek dalam buku ini menyisipkan potret ketidakadilan struktural, ketimpangan kelas, dan kekerasan simbolik yang dialami rakyat pribumi, terutama perempuan dan kaum buruh.

Dalam diskusi, buku ini tidak hanya dibedah dari aspek sastra, tetapi juga dijadikan lensa untuk memahami bagaimana sistem kolonial mengonstruksi kekerasan berbasis gender dan kelas. Diskusi pun berkembang menjadi perbincangan lintas disiplin antara sejarah, komunikasi, dan gerakan sosial.

FX Domini BB Hera: Sejarah Kekerasan Perempuan yang Terlupakan

Sesi pertama diisi oleh FX Domini BB Hera, Ketua Himpunan Mahasiswa Departemen Sejarah tahun 2009 yang kini dikenal sebagai pengkaji sejarah sosial dan kolonialisme. Hera membuka diskusi dengan materi bertajuk Jejak Kekerasan Kolonial Terhadap Perempuan dan Buruh di Hindia Belanda. Dengan gaya bertutur yang lugas, Hera memaparkan bagaimana kekerasan kolonial tidak hanya terjadi secara fisik, tetapi juga terinstitusionalisasi dalam sistem kerja paksa, peraturan moral kolonial, hingga praktik segregasi sosial. Ia menyoroti betapa peran perempuan pribumi dipinggirkan, bahkan hanya dicatat sebagai objek bukan subjek dalam narasi sejarah resmi.

“Sejarah sering kali memuliakan maskulinitas, dan melupakan bahwa ada ribuan perempuan yang menjadi korban sistem kolonial. Mereka bekerja, melawan, dan menderita, namun nama-nama mereka nyaris tak tercatat,” tegas Hera dalam paparannya.

Yuventia Prisca: Perlawanan Perempuan Adalah Narasi yang Harus Dihidupkan

Sesi kedua dilanjutkan oleh Yuventia Prisca, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Malang, yang membawakan materi bertajuk Semangat Perlawanan Perempuan terhadap Kekerasan. Prisca mengajak peserta melihat perempuan bukan hanya sebagai korban, tetapi sebagai pelaku sejarah yang penuh daya. Melalui berbagai contoh kasus, ia menunjukkan bagaimana perempuan di masa kolonial melawan lewat pendidikan, jaringan komunitas, bahkan lewat bahasa. Ia menyebut tokoh-tokoh seperti Rasina dalam karya Iksaka Banu sebagai simbol perlawanan tersembunyi yang kini perlu dimunculkan ke permukaan.

“Perlawanan tidak selalu dalam bentuk senjata. Ada banyak bentuk perjuangan perempuan dari menolak kerja paksa, menyelundupkan informasi, hingga mendidik anak-anak mereka di tengah tekanan kolonial,” ungkap Prisca dengan penuh semangat.

Dialog Kritis, Kesadaran Baru

Diskusi berkembang hidup. Peserta yang terdiri dari mahasiswa, aktivis, peneliti muda, dan pegiat literasi saling bertanya dan memberikan refleksi. Ada yang mengangkat pertanyaan soal representasi perempuan dalam sastra kolonial, ada pula yang menyoal bagaimana kekerasan sistemik di masa lalu masih bergaung dalam relasi sosial hari ini.

Acara ini tak hanya menjadi ajang diskusi intelektual, tetapi juga momen kontemplatif yang mengajak peserta merekonstruksi narasi sejarah yang lebih inklusif dan adil gender. Semangatnya jelas: membuka luka masa lalu bukan untuk meratapi, melainkan untuk memahami, dan dari pemahaman itulah harapan tumbuh.

Dari Sastra ke Aksi Kesadaran Sosial

Bedah buku Rasina dan diskusi publik ini menjadi bukti bahwa sastra bisa menjadi jembatan untuk memahami sejarah, dan sejarah bisa menjadi pemantik kesadaran sosial. Melalui acara ini, harapan untuk membangun narasi yang lebih adil bagi perempuan dan buruh di masa lalu dan masa kini semakin menguat.

Kafe Pustaka malam itu bukan sekadar ruang baca, melainkan tempat di mana ingatan dan perlawanan disusun ulang dalam diskusi yang hangat dan menggugah. Sebuah pengingat bahwa perjuangan perempuan dalam sejarah bukan cerita pinggiran, melainkan inti dari narasi kebangsaan itu sendiri. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *