google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Karnaval Merdeka Dinilai Kehilangan Ruh Nasionalisme

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Perayaan Hari Kemerdekaan Republik Indonesia setiap Agustus selalu identik dengan gegap gempita karnaval, lomba, hingga upacara di berbagai instansi. Namun, di balik kemeriahan itu, budayawan Kota Malang Isa Wahyudi, yang akrab disapa Ki Demang, menilai ada pergeseran makna mendasar yang patut dicermati.

Kreativitas yang Bergeser dari Akar Sejarah

Ki Demang mengakui kreativitas masyarakat dalam mengisi lomba kemerdekaan patut diapresiasi. Tidak lagi hanya lomba tradisional seperti balap karung, tarik tambang, atau panjat pinang, kini juga hadir lomba-lomba unik bahkan nyeleneh seperti parade cosplay hingga joget massal. Fenomena itu menurutnya menandai adaptasi masyarakat terhadap perubahan zaman.

“Ini menunjukkan kreativitas sebagai sarana ekspresi identitas kelompok. Namun sayangnya, sering kali melenceng dari makna historis kemerdekaan itu sendiri,” katanya.

Bagi Ki Demang, perayaan seharusnya tetap mengakar pada ruh perjuangan, bukan sekadar ajang menyalurkan ide-ide hiburan yang bisa mengaburkan nilai sejarah.

Upacara Bendera Jadi Tontonan

Budayawan yang dikenal vokal dalam kritik budaya ini juga menyoroti upacara bendera, salah satu ritual paling sakral dalam perayaan kemerdekaan. Ia menilai, upacara yang semestinya jadi simbol kolektif kini kerap dipersepsi sekadar tontonan, bahkan tak jarang diselimuti insiden.

“Bendera gagal berkibar, peserta pingsan, itu sering terjadi. Upacara yang semestinya sakral, kini bergeser menjadi hiburan semata. Apalagi ketika lebih sering diproduksi untuk viral di media sosial,” tegasnya.

Ki Demang mengingatkan, tanpa makna mendalam, upacara hanya akan menjadi formalitas seremonial tanpa ruh kebangsaan.

Karnaval Kehilangan Ruh Nasionalisme

Lebih lanjut, ia juga menyoroti karnaval kemerdekaan yang makin didominasi oleh unsur hiburan. Menurutnya, karnaval seharusnya menonjolkan budaya daerah, simbol perjuangan, serta kekayaan tradisi nusantara. Namun realitas di lapangan, banyak karnaval yang justru kehilangan arah.

“Banyak karnaval kehilangan ruh nasionalisme. Alih-alih pawai budaya, lebih sering menjadi tontonan sensasional. Ini gejala dekulturalisasi,” jelasnya dengan nada prihatin.

Beban Ekonomi Warga

Selain pergeseran makna, Ki Demang juga menyoroti beban ekonomi yang kerap menyertai perayaan. Tak jarang warga harus mengeluarkan biaya untuk iuran RT, membeli kostum karnaval, hingga kewajiban mengikuti kegiatan yang membutuhkan dana tambahan.

“Di sini muncul dissonansi kognitif. Warga ingin gembira merayakan, tapi juga terbebani secara finansial. Akhirnya kegembiraan bercampur dengan rasa terpaksa,” ungkapnya.

Bagi sebagian kalangan, kondisi ini justru menurunkan semangat merdeka karena lebih menonjolkan beban ketimbang kebersamaan.

Seruan Mengembalikan Makna

Di akhir pandangannya, Ki Demang menegaskan bahwa perayaan kemerdekaan tidak harus kehilangan keceriaan. Namun, semangat itu seharusnya dibingkai dalam ruang refleksi, bukan sekadar pesta tahunan. Ia mendorong agar panitia kegiatan lebih kreatif dalam mengintegrasikan nilai sejarah dan budaya, tanpa membebani warga dengan biaya besar.

“Spirit nasionalisme jangan sampai tenggelam dalam hingar-bingar festival. Perayaan kemerdekaan seharusnya jadi ruang rekoleksi kolektif, tempat bangsa ini meneguhkan kembali nilai perjuangan,” pungkasnya. (05/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *