google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kartini, Obor Kesetaraan untuk Masa Depan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Nama Kartini mungkin kerap terdengar dalam konteks sejarah atau peringatan tahunan belaka. Namun, diskusi hangat yang berlangsung di Universitas Negeri Malang (UM) pada Senin, (19/5/2025), membuktikan bahwa Kartini jauh dari sekadar sosok historis. Melalui Bincang Buku Trilogi Kartini, gagasan-gagasannya kembali dihidupkan untuk membakar semangat perubahan dan kesetaraan di masa kini dan mendatang.

Acara ini menghadirkan Wardiman Djojonegoro, mantan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan era Kabinet Pembangunan VI sekaligus penulis trilogi tersebut, bersama Rektor UM, Hariyono. Keduanya mengupas isi, nilai, dan relevansi pemikiran Kartini dengan berbagai tantangan zaman sekarang mulai dari patriarki hingga ketimpangan ekonomi berbasis gender.

Trilogi Kartini: Surat, Biografi, dan Gagasan Abadi

Wardiman menyusun trilogi ini dengan struktur yang cermat. Buku pertama menyuguhkan 179 surat asli Kartini yang ditulis antara tahun 1899 hingga 1904 surat-surat yang menunjukkan betapa tajam dan luas wawasan perempuan muda ini terhadap dunia sekitarnya, sekaligus keprihatinan mendalam terhadap kondisi bangsanya.

Buku kedua merupakan biografi Kartini yang dikupas secara naratif dan mendalam, menampilkan sosok manusiawi yang bergulat dalam keterbatasan adat dan tekanan sistem sosial. Sementara buku ketiga adalah refleksi kontemporer berjudul Inspirasi Kartini dan Kesetaraan Gender di Indonesia yang menyoroti relevansi nilai-nilai Kartini terhadap tantangan perempuan masa kini.

Menurut Wardiman, dari ratusan surat dan rekam jejak hidup Kartini, ada tiga nilai utama yang bisa dipetik untuk masa depan. Pertama, penghormatan terhadap hak asasi manusia. Kedua, pentingnya keadilan dan kesetaraan antara laki-laki dan perempuan.

“Ketiga, pemberdayaan ekonomi perempuan sebagai pilar strategis pembangunan bangsa,” ucap Wardiman.

Perempuan Berdaya, Bangsa Maju

Wardiman menjelaskan pemberdayaan perempuan bukanlah agenda sektoral atau simbolik. Ini adalah langkah strategis yang berdampak langsung pada kualitas generasi mendatang.

“Perempuan yang mandiri secara ekonomi akan lebih leluasa mengatur masa depan anak-anaknya. Itu akan menciptakan mata rantai kemajuan yang berkelanjutan,” ujarnya.

Lebih dari itu, ia membeberkan delapan prinsip utama dalam perjuangan kesetaraan gender.

“Mulai dari jaminan hak asasi manusia, akses terhadap layanan kesehatan ibu dan anak, pendidikan yang setara, hingga perlawanan terhadap budaya patriarki yang kerap membatasi ruang gerak perempuan,” jelas Wardiman.

Dalam konteks pendidikan, Wardiman menegaskan bahwa perempuan harus diberi kesempatan seluas-luasnya untuk memasuki semua bidang keilmuan dan profesi, bukan hanya yang selama ini dianggap cocok atau feminin. Ia menyindir anggapan lama bahwa perempuan hanya cocok menjadi guru atau pegawai negeri.

“Kenapa tidak jadi insinyur, dokter, pilot, atau ilmuwan? Kartini dulu saja melampaui zamannya, apalagi sekarang,” katanya.

Kartini, Simbol Perlawanan dalam Diam
Sementara itu, Rektor UM Hariyono memberikan dimensi emosional dan filosofis pada sosok Kartini. Baginya, Kartini adalah figur yang hidup dalam sistem sosial yang tidak memberinya pilihan, tetapi tetap mampu menyalakan obor pemikiran yang tak padam hingga kini.

“Ia bahkan harus menerima dipoligami, tetapi tidak kehilangan daya untuk berpikir dan menulis. Dari batas-batas itulah, Kartini bangkit melawan melalui kata-kata,” ujar Hariyono.

Mantan ketua DPC GMNI Malang itu menambahkan tradisi, jika tidak dipertanyakan, bisa membeku dan membelenggu. Kartini telah mengajarkan bahwa tradisi bisa dikritisi tanpa harus memusuhi akar budaya.

“Dialektika antara kemanusiaan dan budaya inilah yang membuat Kartini tetap relevan di era mana pun,” sebutnya.

Dari Kartini untuk Kartini-Kartini Masa Kini

Diskusi ini menjadi ruang reflektif yang menyentuh tidak hanya sisi akademis, tetapi juga sisi kemanusiaan. Pembacaan surat-surat Kartini oleh penulis asal Malang, A Elwiq PR, menambah suasana haru dan kagum. Kata demi kata Kartini ternyata masih menohok, masih membangkitkan kesadaran bahwa perjuangan belum selesai.

Lebih dari sekadar nostalgia, bincang buku ini menegaskan bahwa semangat Kartini sejati adalah tentang aksi nyata, bukan seremoni tahunan. Ia hidup dalam setiap kebijakan yang berpihak pada perempuan, dalam setiap kampus yang membuka akses setara bagi semua gender, dan dalam setiap suara perempuan yang berani menuntut keadilan.

Warisan Kartini, Bukan untuk Dipuja Tapi Dilanjutkan

Wardiman menutup diskusi dengan seruan penuh makna: Kita tak boleh berhenti pada mengenang Kartini. Tugas kita adalah melanjutkan perjuangannya, mewarisi semangatnya, dan mengubahnya menjadi gerakan nyata di berbagai bidang.

Sosok Kartini memang berasal dari abad ke-19, tetapi ide-ide yang ia tanam telah tumbuh melampaui zaman. Saat perempuan masih bergulat dengan diskriminasi, saat suara mereka masih dipinggirkan di ruang publik, maka semangat Kartini tetap dibutuhkan. Bukan hanya untuk perempuan, tetapi untuk seluruh bangsa yang ingin maju secara adil dan bermartabat.

Kartini bukan sekadar nama di buku sejarah. Ia adalah teladan masa depan untuk perempuan dan laki-laki, untuk rakyat dan pemimpin, untuk mereka yang percaya bahwa kesetaraan bukan impian, melainkan keniscayaan. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *