google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kemah Pancasila Lapasila UM Teguhkan Semangat Kebangsaan di Era Digital

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Di tengah tantangan globalisasi dan derasnya arus ideologi transnasional, Unit Pelaksana Teknis (UPT) Laboratorium Pancasila Universitas Negeri Malang (Lapasila UM) kembali meneguhkan perannya dalam menjaga nilai-nilai kebangsaan. Melalui kegiatan Kemah Pancasila yang digelar di P-WEC (Petungsewu Wildlife Education Center), Sabtu (8/11/2025), Lapasila UM menghadirkan ruang refleksi bagi generasi muda untuk memahami kembali makna Pancasila sebagai dasar dan pandangan hidup bangsa.

Kegiatan tahunan ini diikuti oleh puluhan mahasiswa, tidak hanya dari Universitas Negeri Malang, tetapi juga dari Universitas Brawijaya (UB) dan Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Keikutsertaan lintas kampus ini menunjukkan bahwa semangat menanamkan nilai-nilai Pancasila tidak mengenal batas institusi, melainkan menjadi tanggung jawab bersama seluruh generasi penerus bangsa.

Kepala UPT Lapasila UM, dr. Akhirul Aminulloh, dalam sambutannya menegaskan Kemah Pancasila bukan sekadar kegiatan seremonial, tetapi merupakan bagian dari upaya konkret menjaga keberlangsungan ideologi bangsa di tengah derasnya gempuran budaya luar. Ia menekankan bahwa Pancasila harus dipahami bukan hanya sebagai dokumen sejarah, melainkan sebagai realitas hidup yang dihidupi dan diamalkan.

“Adik-adik sekalian, kita harus memahami bahwasannya Pancasila itu tidak ada sebelum 1 Juni 1945. Tetapi ketika Bung Karno menyampaikan pidato pada 1 Juni 1945, saat itu juga lahirlah gagasan tentang dasar kebangsaan yang kemudian menjadi fondasi bagi Indonesia merdeka,” ujar Akhirul kepada iKoneksi.com saat ditemui di lokasi kegiatan, Jumat (7/11/2025).

Lebih lanjut, ia menjelaskan momentum 18 Agustus 1945 menjadi tonggak penting karena pada tanggal tersebut, secara konstitusional, Pancasila ditetapkan sebagai dasar negara Republik Indonesia.

“Sejak saat itu, Pancasila bukan hanya ide, melainkan komitmen bersama seluruh anak bangsa untuk hidup dalam keberagaman dan persatuan,” sebutnya.

Namun, Akhirul juga mengingatkan bahwa keberadaan Pancasila sebagai ideologi tidak boleh dianggap sesuatu yang statis. Menurutnya, Pancasila hanya akan terus hidup selama bangsa Indonesia menjadikannya pedoman dalam berbangsa dan bernegara.

“Selama kita menjadikan Pancasila sebagai pedoman, maka selama itu pula Pancasila akan ada. Tetapi kalau kita lalai, bisa saja 50 tahun atau 100 tahun lagi, Pancasila hanya tinggal catatan sejarah,” ucapnya penuh makna.

Ia mengaitkan hal tersebut dengan fenomena sejarah dunia. Banyak bangsa besar yang dulu berjaya kini tinggal nama, seperti Uni Soviet yang runtuh pada 1990 dan terpecah menjadi banyak negara.

“Kita tentu tidak ingin Indonesia mengalami hal yang sama. Itulah mengapa semangat untuk meneguhkan Pancasila harus terus dijaga,” ujarnya tegas.

Melalui Kemah Pancasila, lanjut Akhirul, Lapasila UM ingin menguatkan kesadaran kolektif generasi muda bahwa ideologi bangsa harus dipertahankan dengan pemahaman, penghayatan, dan pengamalan nyata di kehidupan sehari-hari. Ia menilai, ancaman ideologi transnasional yang berbasis agama, ekonomi, maupun kebudayaan kini semakin masif melalui ruang digital.

“Era digital membuat batas ideologi menjadi kabur. Nilai-nilai asing mudah masuk dan memengaruhi cara berpikir generasi muda. Karena itu, kegiatan seperti ini penting agar kita memiliki benteng nilai dan kesadaran kebangsaan yang kuat,” tegasnya.

Suasana kegiatan yang berlangsung selama dua hari itu terasa hidup dan dinamis. Para peserta tidak hanya mendengarkan paparan materi, tetapi juga diajak berdiskusi, berdialog, dan mengikuti simulasi interaktif tentang nilai-nilai kebangsaan. Kegiatan api unggun pada malam hari menjadi momen reflektif di mana seluruh peserta menyatukan tekad untuk menjaga persatuan bangsa di tengah perbedaan.

Bagi mahasiswa peserta, Kemah Pancasila menjadi ajang pembelajaran yang tak hanya memperkaya wawasan kebangsaan, tetapi juga menumbuhkan rasa cinta tanah air.

“Kami jadi lebih paham bahwa Pancasila bukan sekadar hafalan lima sila, tapi jalan hidup yang harus diterapkan dalam kehidupan bermasyarakat,” ungkap salah satu peserta dari Universitas Brawijaya.

Akhirul menutup sambutannya dengan pesan penuh makna. Ia menegaskan bahwa menjaga Pancasila berarti menjaga Indonesia itu sendiri.

“Ideologi ini bukan hanya milik generasi terdahulu, tapi juga tanggung jawab kita semua untuk meneruskan dan menjaganya dari rongrongan ideologi yang ingin memecah belah bangsa,” serunya.

Dengan semangat kebersamaan dan refleksi kebangsaan yang kental, Kemah Pancasila 2025 menjadi bukti nyata bahwa semangat nasionalisme dan kesadaran ideologis tidak pernah padam di kalangan mahasiswa.

“Lapasila UM pun meneguhkan langkahnya untuk terus menjadi garda terdepan dalam pendidikan kebangsaan, agar Pancasila tetap menjadi mercusuar dalam perjalanan bangsa menuju masa depan yang berdaulat dan berkeadaban,” tutup Akhirul.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *