google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Kota Batu Terancam Hilang Julukan Kota Apel, Petani Beralih Tanam Sayur

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Julukan “Kota Apel” yang selama ini melekat pada Kota Batu, Jawa Timur, kini menghadapi ancaman serius. Penurunan produktivitas buah apel dari tahun ke tahun tanpa solusi yang berarti telah memukul semangat para petani. Tidak hanya hasil panen yang anjlok, biaya perawatan tanaman apel juga semakin tinggi hingga tak lagi sebanding dengan penghasilan yang diperoleh. Situasi ini menyebabkan banyak petani menyerah dan mulai beralih ke tanaman lain, bahkan mengganti profesi.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) Kota Batu menunjukkan tren yang mengkhawatirkan. Pada 2021, produksi apel mencapai 350.090,88 kuintal. Namun, jumlah tersebut terus menurun pada tahun-tahun berikutnya: 299.962,90 kuintal pada 2022, lalu merosot menjadi 218.621,79 kuintal pada 2023. Angka paling mencolok tercatat pada 2024, yakni hanya 140.285,42 kuintal. Dalam empat tahun terakhir, penurunan ini tidak pernah mengalami pembalikan.

Salah satu petani di kawasan Tulungrejo, Kecamatan Bumiaji, bernama Joko, mengaku baru saja menebang pohon-pohon apel tua miliknya. Ia berencana beralih menanam sayuran yang dianggap lebih menjanjikan. Keputusan ini diambil karena merawat pohon apel kini dianggap lebih membebani dibanding menguntungkan.

“Sudah berat mempertahankan apel. Biaya perawatan tinggi, obat-obatan mahal, panennya sedikit, kadang harganya juga rendah. Jadi yang sudah tidak produktif kami tebang, rencananya kami tanami sayuran saja,” kata Joko saat ditemui iKoneksi.com pada Kamis (17/7/2025).

Menurut Joko, kondisi ini juga dialami oleh petani apel lainnya di Tulungrejo. Banyak dari mereka menebang pohon apel yang berusia 40 hingga 50 tahun karena dianggap sudah tidak produktif. Mereka mulai menanam tanaman hortikultura lain yang dianggap lebih cepat panen dan lebih menguntungkan.

“Pohon apel yang tua ini rentan kena penyakit dan produktivitasnya menurun. Apalagi cuaca yang tidak menentu seperti sekarang juga sangat mempengaruhi hasil panen. Kalau ini terus berlanjut, tentu kita terus rugi,” ungkapnya.

Ia menambahkan tidak menutup kemungkinan, dalam beberapa tahun ke depan, lahan-lahan apel di Kota Batu akan semakin menyusut jika tidak ada langkah penyelamatan yang konkret. Dwi menyebutkan bahwa saat ini beban terbesar petani adalah tingginya biaya produksi, ketidakstabilan iklim, dan rendahnya harga jual apel di pasaran.

“Memang bukan tidak mungkin lahan apel di Kota Batu akan terus berkurang. Biaya tinggi, hasil rendah, cuaca tak menentu. Itu beban yang sangat berat bagi petani,” bebernya.

Petani seperti Joko hanya bisa berharap ada campur tangan pemerintah maupun lembaga terkait yang bisa membantu mencarikan solusi. Misalnya, dengan menghadirkan varietas apel baru yang lebih adaptif terhadap iklim, memberikan subsidi obat-obatan pertanian, hingga menciptakan pasar yang stabil untuk hasil panen mereka.

“Tanpa langkah konkret, Kota Batu tidak hanya akan kehilangan panen apel, tetapi juga identitas dan kebanggaan lokal yang telah melekat selama puluhan tahun. Kini, masa depan Kota Apel berada di ujung tanduk, menanti siapa yang benar-benar peduli untuk menyelamatkannya,” pungkasnya. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *