google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Mahasiswa HKBP Nommensen Serukan Penolakan Keras Konversi Teh ke Sawit

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Simalungun, iKoneksi.com – Rencana konversi kebun teh Sidamanik menjadi kebun kelapa sawit yang digagas oleh PTPN IV menuai gelombang penolakan. Salah satunya datang dari Michael Purba, mahasiswa Program Studi Agroekoteknologi Fakultas Pertanian Universitas HKBP Nommensen Medan sekaligus kader HIMAPSI, yang menyuarakan sikap tegasnya menolak rencana tersebut.

Dalam pernyataannya, Michael menyebut kebun teh Sidamanik bukan sekadar komoditas pertanian biasa. Ia merupakan warisan agraria Simalungun yang menyimpan nilai sejarah, ekologis, ekonomi, serta sosial yang sangat tinggi.

Teh Sidamanik: Warisan Hidup yang Terancam

Michael menegaskan bahwa kebun teh Sidamanik merupakan penghidupan ribuan masyarakat sekitar, sekaligus ikon wisata yang telah dikenal luas. Mengubah fungsi lahan tersebut menjadi perkebunan kelapa sawit menurutnya bukan hanya bentuk pengabaian terhadap nilai-nilai ekologis, tapi juga pengkhianatan terhadap masa depan masyarakat lokal.

“Kebun teh ini bukan tanah kosong. Ini tanah penuh kehidupan. Jika dikonversi menjadi sawit, maka kita bukan hanya kehilangan komoditas, tapi juga identitas dan sumber nafkah masyarakat Simalungun,” ujarnya.

Kekecewaan Terhadap Sikap Pemerintah Daerah

Lebih lanjut, Michael mengungkapkan kekecewaannya terhadap Pemerintah Kabupaten Simalungun yang hingga kini belum mengambil sikap tegas atas isu tersebut. Ia mendesak Pemkab agar berhenti diam atau bahkan terkesan mendukung langkah konversi yang hanya menguntungkan segelintir pihak.

“Seharusnya Pemkab berdiri bersama rakyat, bukan bersama investor. Jika pemerintah daerah tetap diam, itu sama saja dengan membiarkan warisan daerah dirampas demi kepentingan bisnis jangka pendek,” ujarnya dengan tegas.

Ancaman Serius terhadap Lingkungan dan Ekonomi Rakyat

Michael juga menjabarkan sejumlah dampak serius yang akan terjadi jika konversi ini tetap dilakukan. Menurutnya, sawit memang menjanjikan secara finansial dalam jangka pendek, namun dalam jangka panjang justru menimbulkan kerusakan lingkungan seperti penurunan kesuburan tanah, meningkatnya risiko banjir dan kekeringan, serta hilangnya mata pencaharian warga.

“Sawit itu seperti racun lambat. Ia tampak menjanjikan di awal, tapi setelahnya akan menghancurkan struktur tanah, mengurangi cadangan air bersih, dan membuat petani kehilangan lahan produktif mereka,” paparnya.

Seruan untuk Bupati dan DPRD Simalungun

Menutup pernyataannya, Michael menyerukan agar Bupati Simalungun dan DPRD Kabupaten Simalungun segera turun tangan dan mengambil sikap tegas untuk menolak konversi kebun teh Sidamanik. Ia menekankan bahwa sudah saatnya pemimpin daerah berpihak kepada rakyat, bukan korporasi.

“Kami menuntut tindakan nyata, bukan sekadar janji. Jangan gadaikan tanah leluhur kami untuk kepentingan jangka pendek. Pertahankan kebun teh Sidamanik. Lindungi alam dan rakyat Simalungun!” pungkasnya. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *