google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Mahasiswa STIKES Maharani Edukasi Siswa SMKN 2 Soal Cedera Olahraga

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Mencegah lebih baik daripada mengobati. Ungkapan ini tampaknya menjadi semangat yang diusung oleh mahasiswa Jurusan Keperawatan 5B Angkatan 2023 Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan (STIKES) Maharani Kota Malang ketika mereka menggelar kegiatan penyuluhan bertajuk “Pertolongan Pertama pada Cedera Olahraga” di Aula Pertamina SMKN 2 Kota Malang, Senin (3/11/2025).

Kegiatan yang berlangsung penuh semangat itu diikuti puluhan siswa dari berbagai jurusan di SMKN 2 Malang. Mereka tampak antusias menyimak penjelasan dan praktik yang disampaikan langsung oleh mahasiswa keperawatan STIKES Maharani, yang tampil percaya diri di hadapan peserta.

Tujuan utama kegiatan ini sederhana namun krusial membekali para siswa dengan pengetahuan dasar tentang bagaimana memberikan pertolongan pertama ketika terjadi cedera saat berolahraga. Dalam konteks sekolah kejuruan seperti SMKN 2 Malang, di mana aktivitas fisik sering dilakukan baik dalam kegiatan olahraga maupun ekstrakurikuler, pengetahuan ini menjadi sangat penting.

Pemateri utama kegiatan, Liana Indah Azizah, menjelaskan kesadaran akan pentingnya penanganan cepat dan tepat terhadap cedera olahraga masih rendah, terutama di kalangan remaja. Padahal, keterlambatan atau kesalahan dalam memberikan pertolongan pertama dapat memperburuk kondisi korban.

“Banyak yang menganggap cedera olahraga itu hal biasa, padahal kalau tidak ditangani dengan benar bisa menimbulkan komplikasi serius. Melalui penyuluhan ini kami ingin menanamkan pemahaman dasar tentang apa yang harus dilakukan sesaat setelah cedera terjadi,” kata Liana dalam sesi wawancara setelah kegiatan, Senin (3/11/2025)

Ia menambahkan, penanganan pertama yang benar dapat mempercepat proses penyembuhan dan mencegah dampak jangka panjang. Karena itu, mahasiswa STIKES Maharani berusaha mengemas kegiatan ini tidak hanya berupa ceramah, tetapi juga simulasi langsung agar siswa bisa memahami langkah-langkah secara praktis.

Dalam penyuluhan tersebut, mahasiswa menjelaskan berbagai jenis cedera olahraga seperti keseleo, kram otot, luka terbuka, dan patah tulang ringan. Setiap jenis cedera memiliki teknik pertolongan berbeda, dan peserta diajak untuk mempraktikkan cara mengompres, membalut, hingga menstabilkan bagian tubuh yang cedera.

Salah satu peserta, siswa kelas XI jurusan Teknik Otomotif, mengaku baru tahu pentingnya memperhatikan posisi tubuh saat membantu teman yang cedera.

“Selama ini kalau ada teman jatuh ya asal bantu bangun aja. Sekarang jadi tahu harus hati-hati, terutama kalau cedera di kaki atau tangan,” ujarnya dengan antusias.

Kegiatan ini juga menjadi bagian dari implementasi pembelajaran mahasiswa STIKES Maharani yang tidak hanya berfokus pada teori di kelas, tetapi juga pengabdian masyarakat. Menurut pihak kampus, keterlibatan mahasiswa dalam kegiatan seperti ini adalah bagian dari upaya mencetak tenaga kesehatan yang kompeten dan berjiwa sosial.

Liana berharap, setelah kegiatan ini, para siswa dapat menjadi agen kecil kesehatan di lingkungan sekolah mereka masing-masing. Ia menekankan bahwa pertolongan pertama bukan hanya tanggung jawab tenaga medis, tetapi juga bisa dilakukan oleh siapa pun yang memiliki pengetahuan dasar.

“Kami ingin mengubah mindset bahwa membantu orang yang cedera itu harus tenaga kesehatan. Setiap orang bisa belajar cara sederhana untuk menyelamatkan nyawa, dan itu dimulai dari edukasi seperti ini,” jelas Liana.

Kegiatan yang berlangsung sekitar dua jam itu ditutup dengan sesi tanya jawab interaktif, di mana para siswa diberikan kesempatan untuk bertanya langsung dan mencoba praktik sederhana di bawah bimbingan mahasiswa. Suasana akrab dan edukatif membuat kegiatan terasa hidup, sekaligus menumbuhkan kesadaran baru di kalangan siswa mengenai pentingnya keselamatan dalam berolahraga.

“Dengan semangat kolaborasi antara dunia pendidikan kesehatan dan sekolah menengah kejuruan ini, diharapkan kesadaran tentang pentingnya pertolongan pertama pada cedera olahraga semakin meluas. Tak hanya menjadi bekal di lingkungan sekolah, tetapi juga menjadi kebiasaan baik di masyarakat,” terang Liana.

Menurut Liana kegiatan yang diinisiasi mahasiswa STIKES Maharani ini menjadi bukti nyata bahwa kepedulian dan edukasi kesehatan dapat dilakukan dengan cara sederhana, namun berdampak besar bagi keselamatan banyak orang.

“Sebuah langkah kecil, namun berarti, menuju generasi muda yang lebih peduli dan tanggap terhadap kesehatan,” tukasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *