google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Matahari Tutup 8 Gerai, Ekonomi Lesu Jadi Penyebab

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Perusahaan ritel fesyen terkemuka di Indonesia, PT Matahari Department Store Tbk (LPPF), kembali dilaporkan akan menutup sejumlah gerainya dalam waktu dekat. Informasi ini dikonfirmasi oleh Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (Aprindo), Solihin, yang mengatakan sekitar delapan gerai Matahari akan ditutup secara permanen. Keputusan tersebut, meskipun menyedihkan bagi banyak pihak, mencerminkan situasi yang semakin sulit dihadapi oleh perusahaan ritel besar di tengah lesunya perekonomian Indonesia.

Daya Beli Masyarakat yang Lesu

Solihin menjelaskan bahwa penutupan sejumlah gerai tersebut adalah dampak langsung dari daya beli masyarakat yang masih terbilang lesu.

“Mereka terpaksa tutup karena kondisi perekonomian yang belum pulih,” katanya dalam wawancara dengan iKoneksi.com pada Rabu (7/5/2025).

Hal ini diperburuk oleh tingginya angka Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) yang terjadi belakangan ini. Menurutnya, penutupan gerai merupakan langkah terakhir yang harus diambil oleh Matahari karena kondisi ekonomi yang belum menunjukkan tanda-tanda pemulihan.

“Dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia telah menghadapi tantangan ekonomi yang berat. Inflasi yang tinggi, ketidakpastian global, serta dampak dari pandemi COVID-19, semuanya memengaruhi daya beli masyarakat. Banyak keluarga yang kini lebih memilih untuk menahan belanja non-prioritas, seperti pakaian, yang akhirnya memengaruhi kinerja penjualan perusahaan-perusahaan ritel besar, termasuk Matahari,” ungkap Solihin.

Tren Belanja Pakaian yang Menurun

Solihin juga menyoroti penurunan tren membeli pakaian baru yang semakin drastis. Kebiasaan masyarakat yang lebih memilih berhemat membuat banyak peritel pakaian harus menyesuaikan strategi operasional mereka.

“Tren membeli baju baru memang turun drastis, ini sangat merugikan peritel pakaian seperti Matahari,” ungkapnya.

Penurunan permintaan akan barang fesyen ini menjadi tantangan besar bagi Matahari, yang selama ini dikenal dengan produk-produk pakaian dan kebutuhan rumah tangga yang dijual di gerai-gerainya.

Laporan Keuangan LPPF 2024: Penurunan Penjualan

Dalam laporan keuangan yang dipublikasikan untuk tahun 2024, PT Matahari Department Store mencatatkan penurunan penjualan barang dagangan. Total penjualan tercatat sebesar Rp12,30 triliun, mengalami penurunan tipis sebesar 1,95% dibandingkan dengan tahun sebelumnya yang mencapai Rp12,55 triliun. Penurunan ini tidak hanya terjadi pada penjualan eceran-gerai, yang turun 1,85% menjadi Rp3,66 triliun, tetapi juga pada penjualan konsinyasi yang menurun 2% menjadi Rp8,64 triliun.

Satu hal yang menarik, meskipun penurunan pendapatan terjadi, perusahaan berhasil menekan beban operasional. Beban pokok pendapatan dan beban penjualan konsinyasi mengalami penurunan yang signifikan, masing-masing menjadi Rp5,90 triliun dan Rp2,13 triliun. Beban usaha juga dapat ditekan menjadi Rp2,97 triliun, dan beban lain-lain turun menjadi Rp262,9 miliar. Dengan langkah efisiensi ini, Matahari berhasil mencatatkan laba yang dapat diatribusikan kepada pemilik entitas induk LPPF sebesar Rp827,7 miliar, meningkat 22,54% dibandingkan tahun sebelumnya.

Penutupan Gerai Sebagai Langkah Realokasi

Solihin mengungkapkan Matahari menyebutkan penutupan gerai-gerai yang berkinerja buruk sepanjang tahun 2024 merupakan bagian dari strategi realokasi sumber daya perusahaan. Menurut manajemen, penutupan ini bertujuan untuk memfokuskan upaya perusahaan pada lokasi-lokasi yang lebih strategis dan berkinerja lebih tinggi.

“Langkah ini juga sejalan dengan upaya perusahaan untuk mengoptimalkan operasional dan menjaga efisiensi agar dapat tetap bertahan di tengah tantangan ekonomi yang ada,” sebutnya.

Pihak manajemen LPPF menjelaskan bahwa 13 gerai yang sudah ditutup sepanjang tahun 2024 adalah gerai-gerai yang mengalami penurunan kinerja signifikan. Dengan mengalihkan sumber daya dan fokus pada lokasi yang lebih menguntungkan, diharapkan Matahari dapat lebih beradaptasi dengan kondisi pasar yang kini berubah.

Harapan Masa Depan dan Tantangan Industri Ritel

Meskipun langkah-langkah efisiensi ini diambil untuk mempertahankan kelangsungan hidup perusahaan, masa depan industri ritel di Indonesia, khususnya ritel fesyen, masih terbilang penuh tantangan.

“Penurunan daya beli, perubahan perilaku konsumen, dan ketatnya persaingan antar peritel membuat para pelaku usaha harus cerdas dalam beradaptasi. Matahari, meskipun terpaksa menutup gerainya, masih memiliki peluang untuk bangkit jika dapat menemukan strategi yang lebih tepat sasaran dalam menghadapi kondisi ekonomi yang serba tidak pasti ini,” pungkas Solihin. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *