google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Mendikdasmen Ajak Kampus Muhammadiyah Bangun Pendidikan Unggul dan Inklusif

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Kota Malang kembali menjadi pusat perhatian dunia pendidikan nasional. Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah (Mendikdasmen) Republik Indonesia, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed., mengajak seluruh Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) untuk berkolaborasi membangun pendidikan nasional yang unggul, inklusif, dan berkarakter.

Ajakan itu disampaikan langsung oleh Abdul Mu’ti saat menghadiri Forum Rektor PTMA 2025 di Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Jumat (17/10/2025). Dalam forum yang mempertemukan puluhan rektor dari berbagai perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah di seluruh Indonesia itu, ia menegaskan bahwa kemajuan pendidikan nasional tidak bisa dilakukan oleh pemerintah seorang diri, melainkan harus melalui sinergi dengan lembaga pendidikan yang telah terbukti memiliki dedikasi kuat terhadap kemajuan bangsa.

Kolaborasi Jadi Kunci Mewujudkan Reformasi Pendidikan

Menurut Mu’ti, Muhammadiyah memiliki sejarah panjang dalam mengawal reformasi pendidikan Indonesia. Melalui jaringan perguruan tingginya yang luas, PTMA telah berkontribusi dalam mencetak tenaga pendidik, pemimpin masyarakat, hingga inovator di berbagai bidang. Karena itu, Kemendikdasmen membuka ruang kolaborasi strategis dalam pelaksanaan berbagai program prioritas nasional.

“Tahun ini kami menjalankan lima hingga enam program utama, dan Muhammadiyah bisa menjadi mitra utama dalam mempercepat pelaksanaannya,” ujarnya.

Mu’ti menuturkan, program pertama yang disorot adalah revitalisasi satuan pendidikan. Program ini tidak hanya fokus pada pembangunan fisik atau sarana prasarana sekolah, tetapi juga pada manajemen, tata kelola, hingga peningkatan kapasitas kepala sekolah dan tenaga pendidik.

Mu’ti menegaskan revitalisasi sekolah diarahkan agar lembaga pendidikan di seluruh Indonesia mampu mengelola pembelajaran secara mandiri, adaptif terhadap perubahan zaman, dan memiliki layanan pendidikan yang bermutu tinggi. Tahun ini, ada lebih dari 16.100 sekolah yang ikut dalam program revitalisasi dengan total anggaran Rp16,9 triliun.

“Meski tahun depan anggaran sedikit berkurang, kami akan memastikan kualitas program tetap terjaga,” sebutnya.

Peningkatan Kualitas Guru Jadi Fokus Utama

Selain revitalisasi, Mu’ti juga menyoroti pentingnya peningkatan kualitas guru. Pemerintah telah menyiapkan 808 ribu kuota Pendidikan Profesi Guru (PPG) dan memperluas program Rekognisi Pembelajaran Lampau (RPL) untuk guru yang belum menyelesaikan studi sarjana.

“Kami ingin memastikan tidak ada guru yang terhambat kariernya hanya karena kendala administratif. Pengalaman mengajar kini bisa diakui hingga 70 persen dalam sistem RPL,” jelasnya.

Menurutnya, guru adalah pilar utama dalam mewujudkan pembelajaran bermakna (deep learning). Karena itu, perguruan tinggi, khususnya PTMA, diharapkan terlibat dalam penyelenggaraan pelatihan guru, pengembangan modul, serta riset terkait inovasi pembelajaran.

Bahasa Inggris dan AI Jadi Fokus Pembelajaran Baru

Mu’ti juga mengumumkan kebijakan baru yang cukup menarik: mulai 2027, Bahasa Inggris akan menjadi mata pelajaran wajib sejak kelas 3 SD.

“Kita ingin menyiapkan generasi yang mampu bersaing secara global sejak dini. Karena itu, pelatihan guru bahasa Inggris akan menjadi prioritas,” ujarnya.

Ia juga menginginkan istilah “pelatihan” diganti menjadi “pendidikan”, agar program tersebut memiliki dampak profesional yang lebih kuat dan diakui secara formal.

Selain Bahasa Inggris, pemerintah juga tengah menyiapkan pelatihan coding dan kecerdasan buatan (AI) bagi tenaga pendidik. Awalnya bersifat pilihan, namun ke depan akan menjadi mata pelajaran wajib.

“Dunia pendidikan harus menyiapkan siswa bukan hanya sebagai pengguna teknologi, tetapi juga pencipta. Karena itu, kebutuhan guru coding dan AI akan meningkat pesat,” tegas Mu’ti.

PTMA Didorong Terlibat dalam Penelitian Kebijakan

Lebih jauh, Mu’ti menekankan pentingnya riset kebijakan (policy research) sebagai dasar pengambilan keputusan di bidang pendidikan. Menurutnya, perguruan tinggi Muhammadiyah dan Aisyiyah memiliki kapasitas akademik yang kuat untuk mendukung arah kebijakan Kemendikdasmen.

“Kami ingin setiap kebijakan lahir dari kajian ilmiah yang matang, bukan sekadar administrasi. Pendidikan adalah rekayasa sosial yang membentuk karakter bangsa,” ujarnya menegaskan.

Ia juga mengungkapkan bahwa kinerja Kemendikdasmen saat ini dinilai sebagai salah satu yang terbaik secara nasional, berkat kebijakan yang berbasis data dan hasil penelitian.

Pendidikan Inklusif, Cerdas, dan Berkarakter

Mu’ti menutup paparannya dengan pesan penting: pendidikan bukan sekadar mencerdaskan otak, tetapi juga membentuk karakter dan kepekaan sosial.

“Pendidikan yang unggul adalah yang inklusif membuka kesempatan bagi semua anak bangsa untuk tumbuh bersama tanpa diskriminasi,” tuturnya di hadapan para rektor.

Forum Rektor PTMA 2025 di UMM pun menjadi momentum penting untuk memperkuat sinergi antara pemerintah dan kampus Muhammadiyah-Aisyiyah.

“Melalui kolaborasi ini, diharapkan pendidikan nasional Indonesia dapat melangkah lebih cepat menuju masa depan yang unggul, berdaya saing, dan berkeadilan bagi seluruh rakyat,” tandas Mu’ti.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *