google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Menelusuri Sejarah Jalan Raya Pos Lewat Film Pramoedya

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Komunitas Sabtu Membaca kembali menggelar acara literasi yang menggugah pemikiran. Kali ini, mereka menyelenggarakan pemutaran film dokumenter Jalan Raya Pos, sebuah karya yang diadaptasi dari esai monumental Pramoedya Ananta Toer. Acara yang berlangsung pada Sabtu (1/2/2025) ini juga menghadirkan sesi diskusi mendalam bersama Mundi Rahayu, Guru Besar Kajian Budaya UIN Maulana Malik Ibrahim, dan FX Domini BB Hera, seorang sejarawan.

Film dokumenter ini mengangkat kisah pembangunan Jalan Raya Pos oleh Gubernur Jenderal Herman Willem Daendels pada tahun 1809. Namun, lebih dari sekadar proyek infrastruktur, film ini mengupas dampak sosial, politik, dan ekonomi yang menyertai pembangunannya, termasuk penderitaan rakyat kecil di balik proyek ambisius tersebut.

Menggali Sejarah, Menyingkap Ketimpangan Sosial

Diskusi dimulai dengan paparan Mundi Rahayu, yang menekankan pentingnya memahami konteks sejarah dan politik dalam film ini.

“Film ini bukan hanya bercerita tentang jalan raya atau sosok Daendels, tetapi juga tentang dampak sosialnya yang masih terasa hingga era Orde Baru,” ujar Mundi.

Ia menyoroti bagaimana film ini menggambarkan ketimpangan ekonomi yang terjadi di Indonesia, di mana proyek pembangunan sering kali menguntungkan segelintir orang kaya, sementara rakyat kecil justru semakin terpinggirkan.

“Film ini menunjukkan paradoks besar: proyek-proyek besar menguntungkan beberapa orang, tetapi menyengsarakan banyak lainnya,” katanya.

Mundi juga mengingatkan Pram adalah seorang penulis yang terus dibungkam dan karyanya dilarang, namun tetap produktif dan berani menyuarakan kebenaran.

“Dulu membaca karya Pram itu berisiko. Kini kita bisa menikmatinya dengan bebas, tetapi apakah kita benar-benar memahami pesan yang ingin ia sampaikan?” tanyanya retoris.

Jalan Raya Pos: Bukti Pelanggaran Hak Asasi?

FX Domini BB Hera menyoroti aspek sejarah dalam film ini, khususnya terkait nasib para pekerja yang membangun Jalan Raya Pos. Ia menjelaskan bahwa meskipun mereka tidak bekerja secara paksa dalam definisi resmi, penderitaan mereka tidak bisa diabaikan.

“Banyak yang tidak tahu bahwa proyek ini menelan korban jiwa yang tidak sedikit. Sayangnya, catatan sejarah resmi tidak pernah benar-benar mengungkapkan berapa banyak yang tewas,” jelasnya.

FX Domini juga menyinggung kemungkinan potensi gugatan hukum terhadap proyek tersebut sebagai bentuk pengungkapan kejahatan masa lalu.

“Belanda memiliki kepentingan untuk membuka kejahatan masa lalunya, tetapi apakah kita sebagai bangsa sudah cukup sadar untuk menuntut keadilan?” lugas Sisco sapaan akrabnya.

Mewarisi Keberanian Pramoedya

Acara ini bukan sekadar menonton film atau mengenang Pramoedya, tetapi menjadi momen refleksi bagi peserta tentang pentingnya sejarah dalam membentuk identitas bangsa.

“Film “Jalan Raya Pos” bukan hanya kisah masa lalu, tetapi cerminan realitas yang masih terjadi hari ini—di mana pembangunan sering kali membawa ketimpangan sosial dan pengorbanan rakyat kecil. Melalui diskusi ini, para peserta diajak untuk meneruskan semangat Pram: terus mempertanyakan kebenaran, menolak ketidakadilan, dan berani bersuara dalam menghadapi tantangan zaman,” pungkas Sisco. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *