google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Menteri LH Bongkar Fakta: Air Kemasan Bukan dari Pegunungan

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com — Pernyataan mengejutkan datang dari Menteri Lingkungan Hidup dan Kehutanan (LHK) Hanif Faisol Nurofiq. Ia secara terbuka mengungkap bahwa sebagian besar air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia ternyata tidak berasal dari sumber air pegunungan, seperti yang selama ini diklaim oleh berbagai merek besar.

Hanif menegaskan, air yang digunakan untuk produk-produk tersebut sebagian besar berasal dari air tanah, bukan dari sumber air permukaan atau pegunungan seperti yang sering ditampilkan dalam label atau iklan kemasan.

“Bapak jangan terpedaya oleh minuman-minuman yang ada di atas meja itu. Belum ada satupun minuman kemasan yang menggunakan air permukaan secara sustainable untuk produknya. Hanya untuk pricing-nya, iya,” kata Hanif kepada iKoneksi.com saat ditemui di kantornya, Senin (27/10/2025).

Pernyataan ini sontak mengguncang publik dan memantik diskusi luas mengenai transparansi industri air kemasan yang selama ini menggunakan citra “alami” untuk menarik konsumen.

Label “Pegunungan” yang Menyesatkan

Menurut Hanif, banyak produk air kemasan yang menggunakan label seperti air pegunungan alami atau sumber air murni dari alam, padahal secara faktual air tersebut berasal dari sumur tanah dalam (groundwater). Praktik ini dinilai menyesatkan konsumen dan berpotensi merusak ekosistem air tanah dalam jangka panjang.

“Namanya air minum pegunungan, tetapi yang digunakan air tanah,” tutur Hanif secara tegas.

Ia menjelaskan, eksploitasi air tanah yang dilakukan secara masif oleh perusahaan air minum dapat menimbulkan dampak serius bagi lingkungan, terutama terhadap ketersediaan air bersih bagi masyarakat dan keseimbangan hidrologis daerah.

Ancaman Krisis Air Akibat Eksploitasi Tanah Berlebihan

Hanif memaparkan air tanah adalah sumber daya alam yang sangat sulit untuk pulih, berbeda dengan air permukaan yang bisa diperbaharui secara alami.
Menurut data yang ia sampaikan, laju rembesan atau pengisian kembali air tanah hanya sekitar 100 sentimeter per hari, sehingga jika cadangan air tanah habis dieksploitasi, pemulihannya bisa memakan waktu puluhan bahkan ratusan tahun.

“Konsep konservasi sebagai investasi jangka panjang ini baru sebatas drama. Baru sebatas mantra yang sering disampaikan oleh perusahaan, belum kita implementasikan secara nyata,” kritiknya tajam.

Hanif mengingatkan, jika tidak ada langkah konservasi konkret, bukan tidak mungkin Indonesia akan menghadapi krisis air bersih di masa depan. Terlebih, sebagian besar wilayah Indonesia kini mengalami penurunan debit air tanah akibat aktivitas industri dan pembangunan perkotaan yang masif.

Tanggapan Danone: Klaim Tetap dari Pegunungan

Menanggapi pernyataan tersebut, Danone Indonesia, produsen merek air kemasan ternama Aqua, menyatakan bahwa produk mereka tetap bersumber dari air pegunungan yang terlindungi.

Dalam keterangan resminya, Danone menjelaskan bahwa Aqua diambil dari 19 sumber air pegunungan yang tersebar di berbagai daerah di Indonesia. Setiap sumber air, menurut mereka, melalui proses seleksi ketat dengan 9 kriteria ilmiah dan 5 tahapan evaluasi, serta dilakukan penelitian minimal selama satu tahun sebelum digunakan.

“Air AQUA berasal dari 19 sumber air pegunungan yang tersebar di seluruh Indonesia. Setiap sumber air dipilih melalui proses seleksi ketat yang melibatkan kriteria ilmiah,” tulis pernyataan resmi Danone, Kamis (23/4/2025).

Namun, pernyataan tersebut belum cukup untuk meredam perdebatan di publik. Banyak pihak menilai perlu adanya audit independen terhadap sumber air perusahaan air kemasan, guna memastikan bahwa klaim “air pegunungan” benar-benar sesuai dengan fakta di lapangan.

Seruan untuk Transparansi dan Konservasi

Pengakuan Menteri Hanif membuka ruang bagi pembenahan besar dalam industri air kemasan. Ia menyerukan agar setiap perusahaan wajib transparan dalam mencantumkan sumber air yang digunakan, termasuk menampilkan lokasi dan metode pengambilannya.

Lebih jauh, Hanif menekankan pentingnya konservasi air tanah sebagai investasi jangka panjang. Tanpa upaya nyata, industri air kemasan yang terus bergantung pada air tanah akan menjadi ancaman bagi keberlanjutan sumber daya alam dan kehidupan masyarakat di sekitarnya.

“Kalau kita terus mengambil tanpa mengembalikan, maka suatu saat kita akan kekeringan di negeri yang katanya kaya air ini,” tutup Hanif.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *