google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Miris! Konferda GMNI Sumut 2025 Diwarnai Kisruh dan Dugaan Intervensi Senior

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com — Harapan besar untuk melahirkan semangat baru di tubuh Gerakan Mahasiswa Nasional Indonesia (GMNI) Sumatera Utara) justru berubah menjadi kekecewaan mendalam. Konferensi Daerah (Konferda) GMNI Sumut 2025, yang digelar di Kota Medan pada 7–10 November 2025, kini menjadi sorotan tajam setelah muncul dugaan kuat adanya intervensi senior terhadap proses demokrasi kaderisasi.

Padahal, kegiatan ini awalnya diharapkan menjadi ruang konsolidasi ideologis, ajang pertukaran gagasan, serta momentum regenerasi yang sehat. Namun yang terjadi justru sebaliknya: sidang tertunda tanpa alasan jelas, suasana internal memanas, dan kader dari berbagai daerah terkatung-katung tanpa kepastian.

Awal Lancar, Akhir Berujung Polemik

Konferda tersebut dibuka langsung oleh Ketua DPD PA GMNI Sumatera Utara, Dr. Sutarto, M.Si, yang juga menjabat Wakil Ketua DPRD Sumatera Utara. Pada tahap awal, suasana berjalan kondusif dan penuh semangat perjuangan. Namun, setelah sesi pembukaan, tidak satu pun sidang dilaksanakan hingga 11 November 2025.

Keterlambatan ini menjadi awal dari gelombang kekecewaan kader. Banyak peserta yang datang dari kabupaten dan kota di seluruh Sumatera Utara merasa perjuangan mereka seolah dipermainkan. Mereka menuding adanya “tangan tak terlihat” dari oknum senior yang mengarahkan dukungan kepada salah satu calon ketua.

“Kami datang untuk berkonferda, bukan untuk menonton permainan politik. Kalau semua sudah diatur oleh senior, untuk apa ada forum demokrasi?” ungkap Josua, Ketua DPC GMNI Asahan, dengan nada kesal.

Dugaan Intervensi dan Kader yang Terlantar

Bukan hanya stagnasi sidang yang menimbulkan keresahan, tetapi juga kondisi logistik peserta yang memprihatinkan.
Sewa gedung untuk pelaksanaan konferda dikabarkan telah habis, sementara keputusan tentang jadwal sidang maupun mekanisme pemilihan tak kunjung diumumkan. Banyak kader harus bertahan dengan biaya pribadi, bahkan ada yang tidur seadanya di lokasi acara.

“Kami makan seadanya dan dibiarkan begitu saja. Minum pun beli sendiri. Ini sangat memalukan untuk organisasi sebesar GMNI,” tutur Windi, Ketua DPC GMNI Kota Binjai.
Ia menegaskan, jika benar ada intervensi dari senior, maka hal itu adalah “pengkhianatan terhadap nilai-nilai marhaenisme.”

Roh Marhaenisme yang Terkubur

GMNI, yang dikenal sebagai organisasi ideologis berlandaskan ajaran Bung Karno tentang nasionalisme, demokrasi, dan perjuangan untuk rakyat kecil, kini menghadapi ujian berat. Kader-kader muda menilai bahwa roh perjuangan itu mulai terkubur di bawah bayang-bayang kepentingan politik internal.

“Senior seharusnya menjadi pembimbing, bukan dalang. Kalau kader tidak diberi ruang menentukan pilihan, maka hilanglah makna perjuangan itu sendiri,” tegas Josua kembali.

Sementara itu, salah satu Ketua DPC lain yang enggan disebutkan namanya juga menuding keras praktik manipulatif di balik forum tersebut.

“Kalau senior ikut bermain, itu bukan membimbing   itu memperalat!” katanya lantang.

Kemarahan para kader bukan tanpa alasan. Intervensi dari senior dianggap telah mencederai nilai-nilai dasar GMNI, yang seharusnya menempatkan independensi dan kesetaraan kader sebagai prinsip utama dalam organisasi.

Kekecewaan dan Tanda Bahaya bagi GMNI

Situasi di Medan menjadi gambaran nyata bagaimana idealisme kader muda berbenturan dengan kepentingan politik elit internal. Kader yang datang dengan penuh harapan kini pulang membawa kecewa. Mereka mempertanyakan apakah GMNI masih setia pada cita-cita rakyat marhaen, atau justru berubah menjadi panggung elitis yang kehilangan arah perjuangan.

“Nilai-nilai Bung Karno tentang kemandirian berpikir dan keberanian bersuara kini seolah terkubur di bawah kepentingan pribadi,” sebut Windi dengan nada getir.

Kisruh ini pun menjadi tamparan keras bagi organisasi mahasiswa yang lahir dari rahim perjuangan rakyat kecil tersebut. GMNI yang dulu dikenal lantang membela kaum tertindas, kini justru tersandung oleh persoalan internalnya sendiri.

Pertanyaan Besar: Masihkah GMNI Setia pada Rakyat?

Windi dan Josua mengungkapkan publik dan keluarga besar GMNI kini menunggu langkah DPD GMNI Sumatera Utara terkhususnya bagaimana sikap Ketua DPD GMNI SUMUT, Armando Sitompul yang seakan hilang ditelan bumi (Hilang dari arena, red). Apakah mereka mampu menuntaskan polemik ini dengan kepala dingin dan mengembalikan ruh perjuangan ideologis? Ataukah organisasi ini akan terus terseret dalam pusaran kepentingan yang menodai semangat Bung Karno?

“Pertanyaan itu kini menggema di tengah para kader muda yang masih memegang teguh idealisme Apakah Konferda GMNI Sumut 2025 masih berbicara tentang perjuangan rakyat atau sekadar tentang siapa yang paling lihai mengatur arah suara?,” tanya Windi dan Josua.

“Roh perjuangan Bung Karno menangis di tanah Sumatera Utara menyaksikan anak ideologisnya tersesat di jalan yang penuh kepentingan,” pungkas Windi dan Josua

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *