google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

MURI Anugerahkan Rekor Unik untuk Tokoh Inspiratif

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com — Museum Rekor Dunia Indonesia (MURI) kembali menorehkan sejarah baru. Dalam peringatan 35 tahun eksistensinya, MURI menggelar seremoni penghargaan yang bukan hanya sekadar ajang seremoni, tetapi juga panggung apresiasi terhadap semangat luar biasa anak bangsa. Bertempat di Gedung Jaya Suprana Institute, Kelapa Gading, Jakarta Utara, Kamis (22/5/2025), acara ini dihadiri oleh tokoh-tokoh dari beragam bidang yang telah mengukir prestasi unik dan menginspirasi.

35 Tahun MURI: Catatan Perjalanan Anak Bangsa

Museum Rekor Dunia Indonesia yang didirikan oleh tokoh kebudayaan Jaya Suprana, telah menjadi wadah dokumentasi kreativitas dan prestasi rakyat Indonesia sejak pertama kali berdiri pada 1990. Hingga saat ini, lebih dari 12.000 rekor telah dicatat, mencerminkan semangat tak kenal batas dari masyarakat Indonesia di berbagai sektor seni, budaya, pendidikan, teknologi, hingga ekonomi.

Perayaan tahun ini bukan sekadar memperingati usia ke-35 MURI, melainkan juga menjadi bukti bahwa bangsa ini tak pernah kehabisan inspirasi. Dalam pidato pembukaan, Jaya menyebutkan potensi Indonesia sangat besar dan apabila dikembangkan secara konsisten, mampu menempatkan bangsa ini sebagai kekuatan kebudayaan dunia.

“Bila potensi yang kita semua miliki dikembangkan ke arah kemajuan, maka saya yakin peradaban Indonesia akan abadi,” ungkap Jaya dengan penuh keyakinan.

Ragam Rekor, Ragam Cerita yang Menyentuh

Yang menarik dari penghargaan kali ini bukan hanya jumlah rekor yang tercatat, melainkan keberagaman bidang yang diangkat. Tiap rekor membawa kisah tersendiri, menyentuh sisi personal, historis, hingga emosional dari para penerimanya.

Hartono Sumarsono: Merawat Warisan Batik Lewat Buku

Hartono Sumarsono menerima rekor sebagai penulis buku batik terbanyak di Indonesia. Kisahnya bermula pada tahun 1983, saat ia terpesona pada sebuah porselen China di Pasar Jalan Surabaya. Seorang penjual menyarankannya untuk menelusuri lebih jauh tentang kekayaan batik Nusantara. Ia pun mulai menulis dan mengarsipkan pengetahuannya hingga kini telah menghasilkan puluhan buku tentang batik.

“Kita sebagai orang Indonesia maka pakailah batik sebagai wujud cintamu buat Indonesia,” pesannya tegas.

Serlika Aprita: Menulis Hukum dari Hati

Dosen perempuan ini dianugerahi rekor penulis buku ilmu hukum terbanyak di Indonesia. Meski telah menulis 65 buku, Serlika hanya mendaftarkan 35 buku ke MURI jumlah yang ia sesuaikan dengan usia ulang tahunnya tahun ini. Di tengah kesibukannya mengajar dan meneliti, ia tetap produktif berkarya, menjadikan hukum sebagai instrumen pencerahan.

Teguh Santosa: Suara Indonesia untuk Korea

Teguh Santosa mencatat sejarah sebagai orang Indonesia pertama yang menulis buku tentang reunifikasi Korea. Buku tersebut diangkat dari disertasinya di Program Doktor Ilmu Hubungan Internasional, Universitas Padjadjaran. Namun penghargaan yang ia terima tak hanya sebatas rekor MURI, tetapi juga Mahakarya Kebudayaan penghormatan tertinggi MURI untuk tokoh budaya.

“Ini rekor ke-6 saya dari MURI. Tapi yang terpenting, ini soal bagaimana Indonesia bisa berkontribusi dalam pemikiran global,” ujarnya.

Kreativitas dan Kepedulian: Wajah Lain dari Para Rekoris

Pusat Gadai Indonesia: Emas untuk Nasabah Setia

Andrew Susanto, CEO Pusat Gadai Indonesia, mendapatkan penghargaan MURI atas pemberian emas terbanyak kepada nasabah, yakni sebanyak 8.000 gram emas senilai lebih dari Rp12 miliar. Ia menyebut program tersebut lahir dari salah hitung yang justru menjadi inspirasi.

“Rp12 miliar terlalu murah untuk mendapatkan MURI,” ujarnya sambil tertawa, menegaskan nilai terbesar adalah loyalitas nasabah.

Kiki Adam: Busana Dansa sebagai Ekspresi Jiwa

Desainer busana dansa ini menerima rekor atas karya busana yang menekankan seni sebagai ekspresi jiwa, bukan sekadar hiasan panggung. Ia menggambarkan bahwa tiap rancangannya mengandung narasi pribadi dan jiwa penari yang memakainya.

“Saya pemimpi, Pak. Busana dansa itu bukan kostum, tapi ekspresi jiwa,” kata Kiki, mengajak audiens melihat seni dari sisi batiniah.

Erlien Ermawati: Koleksi dari Kecintaan pada Kopi

Mungkin terdengar ringan, namun koleksi kartu member Starbucks terbanyak di Indonesia yang dimiliki Erlien Ermawati sebanyak 273 kartu mencerminkan semangat mengoleksi sebagai bentuk kecintaan dan dokumentasi budaya urban masa kini.

Intercity Evergreen: Semangat Olahraga Tak Mengenal Usia

“Komunitas ini menyelenggarakan pertandingan bola basket veteran terbanyak, membuktikan bahwa semangat berolahraga tak lekang oleh waktu. Anggotanya berasal dari berbagai usia dan latar belakang, tapi disatukan oleh semangat untuk tetap aktif dan sehat,” papar Kiki.

Wawancara yang Menggugah dan Reflektif

Salah satu momen paling menyentuh dalam acara ini adalah ketika Jaya sendiri mewawancarai satu per satu penerima rekor. Ia mengulik sisi manusiawi dari pencapaian mereka, dari awal mula ketertarikan, perjuangan, kegagalan, hingga keberhasilan.

“Momen ini membuat audiens bukan hanya mengagumi prestasi, tapi juga merasa terinspirasi secara personal,” terang Jaya.

Panggung untuk Mereka yang Berani Beda

Penghargaan MURI kali ini menurut Jaya adalah refleksi bahwa keunikan adalah kekuatan. Tak semua prestasi lahir dari panggung megah atau gelar akademik tinggi. Sebagian muncul dari hobi, dedikasi diam-diam, hingga kebiasaan yang dilakukan dengan sepenuh hati.

Jaya Suprana menutup acara dengan satu pernyataan kuat:

“Indonesia adalah negeri yang penuh keajaiban. Tugas kita adalah merawat dan menampilkannya kepada dunia. Dan itulah yang dilakukan MURI. Bukan sekadar mencatat angka, tapi memberi ruang pada mereka yang berani berbeda, yang percaya bahwa kerja keras, kreativitas, dan keberanian untuk menonjol adalah bentuk cinta pada negeri,” pungkas Jaya. (05/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *