google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Pancasila Terdegradasi, Refleksi Pedih di Hari Lahirnya

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Hari Lahir Pancasila yang diperingati setiap 1 Juni seharusnya menjadi momen sakral bagi bangsa Indonesia untuk kembali merenungi jati dirinya sebagai negara yang berlandaskan nilai-nilai luhur. Namun ironisnya, di tengah gegap gempita perayaan simbolik dan pidato-pidato penuh semangat nasionalisme, realitas di lapangan justru menampilkan wajah muram Indonesia: korupsi yang merajalela, hukum yang tidak adil, serta kebobrokan moral di tingkat elite dan akar rumput.

Pancasila, yang dahulu digali dari kearifan lokal oleh para pendiri bangsa dan dirumuskan sebagai landasan hidup bernegara, kini seolah kehilangan makna sejatinya. Ia tereduksi menjadi jargon kosong yang menghiasi baliho politikus dan pidato para pejabat, namun absen dalam tindakan nyata. Justru yang sering menggaungkan nama Pancasila itulah yang terlibat dalam praktik menyimpang menyalahgunakan kekuasaan, memperkaya diri, dan menjadikan hukum sebagai alat kekuasaan.

Dekadensi Moral Para Pemimpin

Media massa dan media sosial dalam beberapa tahun terakhir seperti tak pernah berhenti memberitakan praktik korupsi berjamaah oleh pejabat publik. Mulai dari penggelapan anggaran hingga gratifikasi berjilid-jilid, semua menjadi tontonan publik yang nyaris dianggap biasa. Lebih memprihatinkan lagi, sebagian politikus hanya sibuk membangun citra diri demi kekuasaan, bukan memperjuangkan aspirasi rakyat. Mereka pandai berbicara tentang kebangsaan di depan kamera, namun nihil dalam aksi nyata.

Di sektor penegakan hukum pun tak kalah memalukan. Sebagian aparat penegak hukum justru menjadi pelindung para pemilik modal, bukannya penegak keadilan. Mafia hukum tumbuh subur, menciptakan ilusi bahwa hukum hanya tajam ke bawah, tumpul ke atas. Hal ini memperkuat rasa frustrasi dan ketidakpercayaan rakyat terhadap institusi negara.

Krisis Kepercayaan dan Pudarnya Semangat Pancasila

Di masyarakat akar rumput, keadilan sosial terasa semakin menjauh. Premanisme kian marak sebagai jalan pintas menyelesaikan konflik, sementara segelintir pengusaha terus mengeksploitasi sumber daya alam tanpa mempertimbangkan kerusakan lingkungan dan hak masyarakat sekitar. Dalam kondisi ini, Pancasila tidak lebih dari simbol kosong, kehilangan roh dan semangat perjuangannya.

Akibatnya, istilah Pancasila pun mulai dimaknai secara peyoratif. Bukan lagi sebagai falsafah luhur bangsa, melainkan sebagai alat retorika yang kerap digunakan untuk menutupi kebusukan sistem. Kondisi ini menciptakan keputusasaan kolektif: rakyat kecil makin apatis, sementara elite politik terus mempermainkan idealisme bangsa.

Menggali Kembali Etika Pancasila

Padahal, Pancasila bukan sekadar teks formal. Ia adalah sistem nilai dan prinsip etika yang jika dihayati dan dijalankan dengan konsisten, mampu menuntun bangsa menuju keadilan, kemakmuran, dan martabat. Lima sila yang termaktub di dalamnya memuat prinsip-prinsip ketuhanan, kemanusiaan, persatuan, demokrasi bermusyawarah, dan keadilan sosial. Semua ini seyogianya bukan hanya dipelajari di bangku sekolah atau seminar, tetapi diinternalisasi dalam kehidupan sehari-hari terutama oleh para pemimpin bangsa.

Etika yang terkandung dalam Pancasila mengajarkan bahwa kekuasaan adalah amanah, bukan alat memperkaya diri. Keadilan harus dijalankan tanpa pandang bulu. Demokrasi seharusnya berakar pada musyawarah, bukan transaksionalitas politik. Dan yang paling penting, kemanusiaan dan solidaritas sosial harus menjadi dasar dalam setiap kebijakan publik.

Saatnya Refleksi, Bukan Sekadar Seremoni

Peringatan Hari Lahir Pancasila tidak boleh lagi hanya menjadi seremoni tahunan yang formalistis. Ini harus menjadi titik refleksi nasional. Momen untuk bertanya secara jujur kepada diri sendiri: apakah Pancasila masih hidup dalam tindakan kita? Apakah keadilan sosial telah terwujud bagi seluruh rakyat Indonesia? Apakah pemimpin kita sungguh menjadikan Pancasila sebagai kompas moral atau hanya perisai politik?

Pertanyaan-pertanyaan ini bukan untuk mencaci, tetapi untuk membangkitkan kesadaran kolektif bahwa Pancasila harus terus dibumikan. Bahwa tugas menjaga Pancasila tidak bisa dibebankan hanya kepada negara, tetapi harus menjadi tanggung jawab bersama pemimpin, rakyat, akademisi, ulama, aktivis, dan pemuda.

Menyalakan Kembali Api Pancasila

Membumikan Pancasila adalah pekerjaan lintas generasi yang harus terus dilakukan dengan ketekunan dan kejujuran. Jika api Pancasila benar-benar dijaga dan diwariskan dengan tulus, maka bangsa ini akan tetap berada di jalur yang benar menuju masa depan yang lebih adil, berdaulat, dan bermartabat. Momentum Hari Lahir Pancasila tahun ini bukan untuk sekadar menghafal lima sila, melainkan untuk menyalakan kembali semangatnya dalam setiap sendi kehidupan berbangsa.

Penulis: Akhirul Aminulloh

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *