google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Peran Wartawan Kian Genting di Era Disrupsi Digital

  • Bagikan
banner 468x60

Ganzhou, iKoneksi.com – Di tengah gelombang deras informasi digital yang kian tak terbendung, peran wartawan dan jurnalisme berkualitas justru semakin mendesak dan vital. Situasi dunia yang berubah cepat, dipenuhi konflik terbuka, serta disrupsi di segala bidang, menuntut kehadiran insan pers yang bukan hanya cekatan, tapi juga berpegang teguh pada kebenaran dan nilai-nilai kemanusiaan.

Hal itu disampaikan Ketua Umum Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI), Teguh Santosa, dalam keterangannya dari Kota Ganzhou, Provinsi Jiangxi, Tiongkok, saat menghadiri forum bergengsi Belt and Road Journalists Forum (BRJF) 2025, Rabu (16/7/2025). Forum ini diikuti lebih dari 100 negara dan diselenggarakan oleh Belt and Road Journalists Network (BRJN) bersama International Home of Journalists (IHJ), dengan tuan rumah Asosiasi Wartawan Seluruh Tiongkok atau All China Journalists Association (ACJA).

Wartawan dan Tanggung Jawab Global

Dalam paparannya, Teguh menegaskan bahwa wartawan tidak bisa lagi hanya bertugas menyampaikan fakta. Lebih dari itu, mereka adalah aktor penting dalam menjaga kestabilan sosial, melawan misinformasi, serta menjembatani perbedaan peradaban di dunia yang kian terpolarisasi.

“Bagaimana pun juga, kebenaran adalah elemen paling penting yang harus diperjuangkan wartawan. Informasi yang akurat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan harus menjadi prioritas utama,” tutur Teguh, yang juga mantan anggota Dewan Kehormatan Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Pusat.

Platform Boleh Berubah, Prinsip Harus Teguh

Teguh menyoroti banyaknya platform digital seperti Instagram, TikTok, Twitter (X), hingga aplikasi lainnya yang saat ini menjadi ruang utama bagi publik mengonsumsi informasi. Meski demikian, ia mengingatkan bahwa perubahan media tidak boleh mengubah prinsip dasar jurnalisme.

“Platform boleh apa saja, tapi prinsip emas dan etika jurnalistik tidak boleh diabaikan,” seru.

Teguh juga mengingatkan agar wartawan tidak terjebak pada keinginan untuk sekadar viral atau mengejar “for your page” (fyp) semata. Menurutnya, teknik penulisan yang menarik memang penting, tetapi tidak boleh mengorbankan akurasi dan nilai etik.

Antisipasi Dampak Disinformasi

Dalam era digital yang penuh disrupsi, Teguh menekankan bahwa perhatian ekstra harus diberikan terhadap dampak dari setiap pemberitaan. Wartawan, katanya, harus peka terhadap potensi kontraproduktif bahkan destruktif dari informasi yang mereka sebarkan.

“Di tengah derasnya arus informasi, kita tidak boleh menjadi bagian dari persoalan. Justru wartawan harus menjadi bagian dari solusi,” jelasnya.

Forum Wartawan Dunia yang Strategis

BRJF sendiri telah diselenggarakan sejak 2017 dan menjadi forum penting bagi para wartawan dunia dalam mendorong kolaborasi dan dialog lintas budaya. Teguh menjadi satu-satunya perwakilan Indonesia saat pendirian BRJN di Beijing kala itu, saat menjabat Ketua Bidang Luar Negeri PWI Pusat.

Mengangkat tema “Mempromosikan Dialog Peradaban dan Modernisasi Global Melalui Kekuatan Jurnalis”, BRJF 2025 mengajak komunitas wartawan internasional untuk bersatu menghadapi tantangan informasi global yang penuh jebakan polarisasi, konflik identitas, dan manipulasi algoritma.

“Tema ini sejalan dengan kekhawatiran melemahnya peran wartawan di tengah badai disrupsi informasi. Saya harap forum ini memacu kita semua menghasilkan karya pers yang menciptakan kesejahteraan dan perdamaian dunia,” pungkas Teguh Santosa. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *