google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

PGSD UMM Bahas Matthew Effect dan Tantangan Literasi Nasional

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com – Pendidikan yang berkualitas bukan hanya tentang angka dan gelar, melainkan soal kemampuan dasar yang mampu mengubah masa depan anak. Hal ini menjadi inti dalam kuliah tamu yang diselenggarakan oleh Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar (PGSD) Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) pada 1 Juli 2025.

Hadir sebagai pemateri, Education Coordinator Inovasi Jawa Timur dari program kemitraan Australia-Indonesia (Australia-Indonesia Partnership), Anhar Putra Iswanto, M.Si., menyoroti pentingnya pemahaman tentang Matthew Effect dalam dunia pendidikan.

Anhar menjelaskan Matthew Effect merupakan sebuah fenomena di mana anak-anak yang sejak awal memiliki kemampuan membaca yang baik akan cenderung terus berkembang dalam kemampuan literasinya. Mereka membaca lebih banyak, memahami lebih dalam, dan akhirnya memiliki peluang masa depan yang lebih baik dibandingkan mereka yang tidak memiliki kemampuan dasar membaca sejak dini.

“Bila kita tidak memperhatikan kemampuan literasi sejak awal, maka akan ada kesenjangan yang terus melebar. Anak-anak yang tertinggal dalam membaca akan semakin tertinggal, dan yang unggul akan semakin unggul. Inilah yang disebut Matthew Effect,” ungkap Anhar di hadapan ratusan mahasiswa PGSD UMM.

Ia juga mengungkapkan data yang cukup mencemaskan. Berdasarkan hasil Programme for International Student Assessment (PISA), Indonesia menempati peringkat ke-63 dalam aspek literasi, jauh tertinggal dari negara-negara tetangga seperti Singapura, Malaysia, dan Thailand.

“Selama ini kita salah kaprah memaknai literasi hanya sebagai kemampuan membaca teks. Padahal, literasi mencakup pemahaman, kemampuan menggunakan informasi, merefleksi, serta berinteraksi dengan teks untuk menunjang tujuan pribadi dan sosial,” tegasnya.

Selain literasi, Anhar turut membahas kondisi numerasi di Indonesia. Ia menyayangkan bahwa pengajaran matematika di sekolah kerap terbatas pada kemampuan berhitung semata. Padahal, menurut definisi dari Kementerian Pendidikan, numerasi adalah kemampuan menerapkan konsep dan pengetahuan matematika untuk memahami kejadian sehari-hari, menyelesaikan masalah, dan membuat keputusan.

Tantangan literasi dan numerasi, menurut Anhar, tak lepas dari peran para pendidik. Ia menyoroti bahwa keterbatasan sarana prasarana, kurangnya keterlibatan kepala sekolah dan guru dalam mendukung semangat literasi, serta minimnya kebiasaan membaca di lingkungan sekolah menjadi hambatan nyata.

“Solusi utamanya adalah menghadirkan guru berkualitas. Salah satu indikator guru yang baik adalah memiliki kemampuan storytelling yang kuat. Guru harus bisa menyampaikan materi dengan narasi menarik yang bisa menghidupkan imajinasi siswa,” paparnya.

Menariknya, Anhar juga memperkenalkan konsep growth mindset, istilah yang dicetuskan oleh psikolog Carol Dweck. Ia menekankan bahwa kesuksesan anak tidak semata-mata ditentukan oleh kecerdasan, tapi oleh pola pikir yang berkembang.

“Anak yang percaya bahwa kemampuan bisa diasah melalui usaha dan proses akan lebih tangguh menghadapi kegagalan. Ini jauh lebih penting dari sekadar nilai tinggi,” jelasnya.

Sementara itu, Kaprodi PGSD UMM, Bustanol Arifin, M.Pd., berharap kuliah tamu ini bisa menjadi bekal penting bagi para mahasiswa calon guru dalam menyusun strategi pembelajaran literasi yang lebih efektif.

“Calon guru harus menjadi agen perubahan. Mereka tidak hanya mengajar, tapi juga menyalakan semangat literasi di hati anak-anak. Menumbuhkan minat membaca dan menulis sejak dini adalah fondasi untuk membentuk generasi pembelajar yang kritis dan kreatif,” ungkap Bustanol.

Ia menekankan guru masa kini harus mampu merespons tantangan zaman dengan metode pembelajaran yang adaptif dan inspiratif. Dengan begitu, dunia pendidikan Indonesia dapat bergerak lebih maju dan melahirkan generasi emas yang bukan hanya unggul secara akademik, tetapi juga memiliki daya pikir dan karakter yang kuat.

“Melalui kegiatan kuliah tamu ini, UMM kembali menegaskan perannya sebagai kampus yang tak hanya fokus pada penguasaan materi, tetapi juga pada pembentukan karakter dan kesiapan menghadapi tantangan pendidikan nasional,” tutup Bustanol. (05/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *