google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

PIKI Pematangsiantar Serukan Aksi Damai, Tolak Kekerasan dalam Demonstrasi

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Pematangsiantar, iKoneksi.com – Suasana politik nasional kembali memanas pasca maraknya aksi demonstrasi yang menuntut pembubaran DPR serta pengusutan tuntas kasus pelindasan Affan oleh mobil baracuda Brimob di Jakarta. Gelombang aksi yang terjadi di berbagai daerah, termasuk Jakarta dan Makassar, bahkan berujung ricuh hingga menelan korban jiwa. Situasi ini menjadi perhatian serius banyak pihak, termasuk Persatuan Inteligensia Kristen Indonesia (PIKI) Kota Pematangsiantar.

Ketua DPC PIKI Pematangsiantar, Basrin Aritama Nababan, menyampaikan seruan yang tegas sekaligus menyentuh hati, terutama terkait rencana aksi serentak yang digelar pada 1 September 2025. Dalam keterangannya, Basrin menekankan pentingnya menjaga perdamaian di tengah derasnya arus tuntutan yang disuarakan masyarakat.

Belasungkawa untuk Korban Kerusuhan

Dengan nada penuh keprihatinan, Basrin Aritama Nababan terlebih dahulu menyampaikan duka mendalam atas jatuhnya korban dalam aksi demonstrasi yang berujung bentrokan. Ia menegaskan, tragedi tersebut harus menjadi pelajaran berharga agar peristiwa serupa tidak kembali terulang.

“Kepada saudara-saudari kami, para mahasiswa Kelompok Cipayung, pengemudi ojek online, dan seluruh masyarakat Kota Pematangsiantar, dengan hati yang hancur saya menyampaikan duka cita sedalam-dalamnya atas meninggalnya saudara-saudara kita dalam peristiwa tragis di Jakarta, Makassar, dan daerah lain. Semoga Tuhan memberikan penghiburan dan kekuatan bagi keluarga yang ditinggalkan,” ujarnya.

Basrin menilai semangat perjuangan masyarakat melalui aksi demonstrasi merupakan hal wajar dalam demokrasi. Namun, ia mengingatkan bahwa aspirasi tidak boleh dicoreng oleh darah dan air mata.

Ajakan untuk Menahan Diri

Di tengah rencana aksi yang sudah bergema, PIKI Pematangsiantar mengajak masyarakat untuk sejenak merenungkan kembali arah perjuangan. Basrin menegaskan bahwa memperjuangkan keadilan tidak seharusnya harus mengorbankan nyawa.

“Apakah perjuangan harus dibayar dengan nyawa? Apakah suara kita akan didengar jika ia diiringi oleh air mata dan darah?” katanya dengan tegas.

Pernyataan itu sekaligus menjadi refleksi agar aksi-aksi yang terjadi di berbagai daerah tidak lagi terjerumus ke dalam kekerasan dan kericuhan.

Tiga Seruan PIKI untuk Aksi Damai

PIKI Kota Pematangsiantar mengeluarkan tiga poin seruan utama yang diharapkan bisa menjadi pedoman bersama dalam menyikapi aksi serentak:

  1. Jadikan aksi damai sebagai pilihan. Pematangsiantar disebut sebagai rumah bersama yang sudah dikenal dengan tradisi toleransi.

“Jangan biarkan nama kota ini ikut tercatat dalam daftar kota duka,” tegas Basrin.

  1. Salurkan perjuangan melalui hati dan akal. Menurutnya, solusi terbaik selalu lahir dari dialog dan musyawarah, bukan bentrokan.
  2. Lindungi Pematangsiantar, jaga Indonesia. Basrin menyerukan agar masyarakat Kota Pematangsiantar bisa menunjukkan teladan bahwa aspirasi tetap bisa disampaikan tanpa mengorbankan kedamaian.

Menjadi Jembatan, Bukan Penghalang

Basrin juga menegaskan bahwa PIKI berdiri bersama rakyat, bukan untuk menghalangi perjuangan mereka. Ia menempatkan PIKI sebagai jembatan yang ingin memastikan agar aspirasi berjalan mulia, damai, dan tanpa noda.

“Kami berdiri bersama kalian, bukan sebagai pihak yang menghalangi, melainkan sebagai jembatan agar perjuangan ini berjalan dengan mulia,” ungkapnya.

Menjaga Siantar Tetap Kondusif

Lebih jauh, PIKI mengingatkan bahwa kondisi nasional yang panas jangan sampai menyeret Pematangsiantar ke dalam pusaran konflik. Kota yang dikenal dengan kerukunan dan toleransinya ini, kata Basrin, harus tetap menjadi benteng perdamaian.

“Di tengah kegaduhan nasional, mari buktikan bahwa Siantar mampu menjaga kondusivitas. Biarlah kita menjadi teladan bagi bangsa,” tuturnya.

Harapan untuk Indonesia

“Seruan PIKI ini mencerminkan keprihatinan sekaligus harapan besar bahwa bangsa Indonesia mampu keluar dari situasi sulit tanpa harus melalui jalan kekerasan. Basrin menutup seruannya dengan doa agar Tuhan Yang Maha Esa senantiasa melindungi masyarakat Pematangsiantar serta memberikan kedamaian bagi Indonesia,” tukasnya.

Catatan Redaksi: Seruan PIKI Kota Pematangsiantar ini menjadi pengingat penting bagi semua pihak bahwa demokrasi seharusnya menjadi wadah bagi aspirasi, bukan kuburan bagi generasi muda. Di tengah amarah dan kekecewaan, suara damai justru menjadi senjata paling ampuh. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *