google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Proyek Futuristik Neom Terancam Runtuh Akibat Tarif Trump

  • Bagikan
banner 468x60

Washington DC, iKoneksi.com – Kerajaan Arab Saudi tengah menghadapi kenyataan pahit yang mengguncang ambisi besar mereka untuk menciptakan kota masa depan Neom. Proyek megacity futuristik yang digagas Putra Mahkota Mohammed bin Salman (MBS) sebagai bagian dari Visi 2030 kini dilaporkan menuju jurang kehancuran finansial. Penyebabnya bukan hanya manajemen internal yang kacau, tetapi juga dampak eksternal berupa kebijakan ekonomi global, terutama dari Amerika Serikat.

Salah satu faktor yang paling merusak ialah kebijakan tarif resiprokal yang dicanangkan Presiden Amerika Serikat, Donald Trump. Langkah kontroversial ini menekan rantai pasokan global yang vital untuk proyek Neom. Setiap bagian dari komponen, material, dan logistik yang melewati pelabuhan Amerika kini dikenakan tarif berlapis, membuat pengadaan menjadi lambat dan biaya melonjak tajam.

Dari US$500 Miliar Menjadi US$8,8 Triliun

Ketika pertama kali diumumkan, Neom dipromosikan sebagai mahakarya abad ke-21 senilai US$500 miliar atau sekitar Rp8.419 triliun. Namun, audit internal yang bocor ke media dan dilaporkan oleh Wall Street Journal menunjukkan kenyataan jauh lebih buruk. Biaya proyek kini diperkirakan melonjak dua puluh kali lipat menjadi US$8,8 triliun atau sekitar Rp148.174 triliun.

Audit yang didukung oleh firma konsultan McKinsey & Co menemukan bahwa tim eksekutif proyek mendasarkan perencanaan mereka pada asumsi ekonomi yang sangat optimis dan tidak realistis. Bahkan, ditemukan indikasi adanya manipulasi data secara sengaja oleh beberapa anggota manajemen.

Temuan ini menimbulkan pertanyaan besar: apakah Neom benar-benar proyek pembangunan atau hanya impian utopis yang dikemas sebagai kebijakan nasional?

Harga Minyak Jatuh, Saudi Terjepit

Masalah Neom semakin pelik saat harga minyak global mengalami penurunan drastis. Hanya dalam sepekan, harga minyak Brent anjlok hingga 11% ke level US$64,21 per barel, sementara West Texas Intermediate turun ke US$60,70—angka yang belum terlihat sejak 2021.

Bagi Arab Saudi, negara yang menggantungkan lebih dari 60% pendapatannya dari sektor minyak, situasi ini sangat meresahkan. Kepala Ekonom HSBC untuk Timur Tengah, Simon Williams, menyebut bahwa meskipun pendapatan non-minyak meningkat, pengeluaran pemerintah jauh lebih cepat melesat. Artinya, ketergantungan Saudi terhadap minyak justru meningkat, bukan menurun seperti visi diversifikasi yang dijanjikan.

“Penurunan harga minyak yang berkelanjutan akan memaksa pemerintah memangkas belanja secara besar-besaran untuk menghindari defisit dan lonjakan utang,” kata Simon memperingatkan.

Defisit Meningkat, Utang Menggunung

Data anggaran terbaru menunjukkan bahwa Arab Saudi menghadapi defisit sebesar US$26 miliar untuk tahun 2025. Lebih dari itu, sepanjang tahun ini, kerajaan telah mengumpulkan utang sebesar US$18,4 miliar. Angka tersebut diperkirakan masih belum cukup untuk menutup biaya pembangunan Neom yang terus membengkak.

“Satu-satunya penopang utama proyek ini, Dana Investasi Publik (PIF) Saudi, memang memiliki aset sebesar US$925 miliar. Namun, dengan Produk Domestik Bruto (PDB) nasional yang hanya US$1,1 triliun, dan porsi dominan pendapatan dari minyak, kekuatan finansial kerajaan mulai diragukan,” ungkap Simon.

Dampak Tarif Trump Tak Bisa Diabaikan

Para analis menyebut tarif-tarif Trump sebagai paku tambahan di peti mati proyek Neom. Ketegangan dagang antara AS dan mitra utamanya seperti Tiongkok membuat logistik global terguncang. Komponen penting untuk membangun Neom kini tersendat karena biaya impor naik drastis.

Situasi ini membuat banyak pihak mulai mempertanyakan kelangsungan proyek Neom. Apakah ambisi Arab Saudi terlalu besar untuk kondisi ekonomi dunia yang sedang rapuh? Ataukah Neom akan menjadi simbol kegagalan ekonomi berbasis mimpi futuristik yang tidak membumi?

Mimpi Besar yang Terancam Jadi Bencana Ekonomi

Neom yang tadinya dijanjikan sebagai kota masa depan dengan teknologi tinggi dan kehidupan bebas karbon, kini berubah menjadi proyek penuh tanda tanya. Dengan biaya yang meledak, tarif dagang yang menjerat, serta pendapatan minyak yang terjun bebas, tak sedikit pengamat menilai bahwa Neom bisa berubah dari simbol kemajuan menjadi beban nasional. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *