google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

RS Vita Insani Bantah Serobot Fasilitas Milik Pemko

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Pematangsiantar, iKoneksi.com — Rumah Sakit Vita Insani, yang selama ini dikenal sebagai pelopor rumah sakit swasta modern di Pematangsiantar, tengah diterpa isu tidak sedap. Beberapa waktu terakhir, beredar kabar bahwa rumah sakit yang berdiri sejak tahun 1983 itu diduga menyerobot fasilitas umum milik Pemerintah Kota (Pemko) Pematangsiantar. Dugaan tersebut antara lain mencakup penggunaan saluran irigasi sebagai akses jalan serta pendirian bangunan yang menutupi fasilitas umum di sekitarnya.

Namun tudingan itu langsung dibantah oleh pemilik dan pendiri RS Vita Insani, dr. Sarmedi Purba. Dalam wawancara eksklusif, Sarmedi menegaskan tidak ada unsur penyerobotan terhadap fasilitas umum. Menurutnya, renovasi yang dilakukan justru bertujuan memperbaiki tampilan rumah sakit dan memberikan kenyamanan bagi pejalan kaki.

“Kami hanya merenovasi bangunan agar masyarakat, pasien, dan pengunjung rumah sakit tidak kehujanan saat berjalan kaki. Tidak ada penyerobotan. Justru dulu, trotoar yang ada di Jalan Sutomo dan Jalan Merdeka itu adalah milik pemilik bangunan, bukan Pemko,” tegas Sarmedi.

Gorong-Gorong Jadi Sorotan, Sarmedi: Pemko Harus Bayar Sewa

Salah satu hal yang dipermasalahkan oleh Pemko Siantar adalah keberadaan gorong-gorong yang melintasi kawasan rumah sakit. Pemko menganggap saluran air tersebut adalah fasilitas umum yang harus dilindungi. Namun Sarmedi memiliki pandangan berbeda. Ia menyebut bahwa gorong-gorong itu melintasi tanah pribadi milik RS Vita Insani, dan oleh karena itu, seharusnya Pemko yang membayar sewa atas penggunaan lahan tersebut.

“Kalau gorong-gorong itu melintas di atas tanah kami, justru Pemko yang seharusnya menyewa. Anehnya, sampai sekarang tidak ada kejelasan atau MoU dari pihak Pemko tentang ini. Kami terus dituduh tanpa dasar,” ungkap Sarmedi.

Kekecewaan terhadap Pemerintah Kota

Lebih jauh, Sarmedi menyampaikan rasa kecewanya terhadap sikap Pemerintah Kota Pematangsiantar. Ia mempertanyakan mengapa berbagai persoalan ini baru diangkat setelah RS Vita Insani berdiri dan melayani masyarakat selama lebih dari empat dekade. Menurutnya, bukannya didukung, kehadiran rumah sakit justru seolah dipersulit.

“Rumah sakit ini sudah berdiri 43 tahun. Kenapa baru sekarang dipermasalahkan semuanya? Kalau ada investor atau pihak swasta yang ingin membangun dan memajukan kota, jangan disulitkan. Kita butuh kolaborasi, bukan konfrontasi,” kata Sarmedi dengan nada kecewa.

Seruan untuk Mendukung Investasi Kesehatan

Sarmedi menegaskan pembangunan fasilitas kesehatan bukan hanya tanggung jawab pemerintah, tetapi juga membutuhkan partisipasi sektor swasta. Ia berharap ke depan, Pemko Siantar dapat lebih terbuka dan memberikan dukungan nyata terhadap pengusaha atau investor yang ingin memberikan kontribusi positif.

“Kami di sini membangun rumah sakit yang melayani masyarakat luas, bukan untuk kepentingan pribadi. Justru yang kami inginkan adalah Kota Pematangsiantar menjadi pusat kesehatan regional yang unggul. Tapi bagaimana itu bisa terjadi kalau setiap upaya justru dicurigai dan dipersulit?” jelas Sarmedi.

Transparansi dan Dialog Jadi Kunci

Kasus ini menjadi gambaran perlunya komunikasi terbuka antara pemerintah daerah dan sektor swasta. Di tengah kebutuhan layanan kesehatan yang terus meningkat, sinergi justru menjadi kunci. Ketimbang saling menyalahkan, sebaiknya semua pihak duduk bersama, menyamakan persepsi, dan mencari solusi jangka panjang demi kemajuan Kota Pematangsiantar. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *