google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

RSJ Wikarta Mandala, Harapan yang Menjadi Rumah Hantu

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com – Di balik hawa sejuk pegunungan Pujon, Kabupaten Malang, berdiri sebuah bangunan tua yang dulu diharapkan menjadi tempat pemulihan jiwa. Rumah Sakit Jiwa (RSJ) Wikarta Mandala, yang berlokasi di Jalan Trunojoyo, Dusun Sebalu, Desa Pandesari, kini justru lebih dikenal masyarakat sebagai “ghost house” atau rumah hantu. Ironinya, meski tampilannya menyeramkan dan nyaris terbengkalai, tempat ini masih menampung sedikitnya sembilan pasien Orang Dengan Gangguan Jiwa (ODGJ).

Bangunan Terbengkalai, Pasien Tetap Tinggal

Dengan luas lahan sekitar lima hektare, pemandangan RSJ ini memunculkan keprihatinan mendalam. Rumput liar menjalar tanpa kendali, tembok bangunan rapuh dimakan usia, dan kesan mistis menyelimuti setiap sudut. Namun, di balik kesan angker itu, ada manusia yang masih bertahan hidup pasien yang seharusnya mendapat perawatan layak.

Keberadaan pasien di dalam bangunan lapuk tersebut menimbulkan ironi. Harapan untuk sembuh yang semestinya ditawarkan oleh sebuah rumah sakit justru berubah menjadi potret pengabaian.

Pengelola Tertutup, Pemerintah Desa Tak Dilibatkan

Kondisi makin mengkhawatirkan karena pihak pengelola RSJ menutup diri dari masyarakat sekitar. Sekretaris Desa Pandesari, Suyono, mengaku pihaknya tidak pernah diajak berkomunikasi.

“Kami tidak pernah masuk ke sana. Bahkan pihak rumah sakit pun tidak pernah berkomunikasi dengan balai desa,” ujarnya.

Kepala Dusun Sebalu, Imam Basori, bersama Kasun Krajan, Hikma Yuda Mandala, juga membenarkan bahwa Muspika sempat berkunjung pada 24 Juli lalu. Namun, mereka hanya diizinkan sampai halaman, tanpa bisa melihat kondisi pasien di dalam.

“Yang terlihat dari luar saja sudah tidak terawat,” tegas Imam.

Pertanyaan Soal Hak Pasien

Situasi ini menimbulkan pertanyaan besar: bagaimana nasib sembilan pasien di balik dinding tua itu? Apakah mereka mendapat perawatan medis yang layak, atau sekadar dititipkan begitu saja?

Warga setempat menyuarakan keprihatinan. Wahyu, salah seorang warga, menyayangkan keadaan RSJ yang kini viral sebagai “rumah hantu” di sebuah kanal YouTube.

“Yang saya sayangkan adalah pasiennya. Mereka itu manusia, bukan beban. Mereka butuh perhatian, bukan ditelantarkan,” katanya haru.

Seorang warga lain, Joko, mengungkapkan sebagian besar pasien di sana merupakan keturunan Tionghoa.

“Kami heran, bagaimana keluarganya bisa menitipkan orang tercinta di tempat seperti itu?” ujarnya.

Sengketa Lahan Memperburuk Situasi

Permasalahan semakin rumit karena RSJ Wikarta Mandala berada dalam sengketa lahan. Informasi yang beredar menyebutkan adanya klaim kepemilikan dari Andar M. Situmorang SH berdasarkan transaksi pada 1997, sementara pihak RSJ masih mengacu pada kepemilikan Dr. Soeyono.

Persoalan hukum ini justru membuat fokus perawatan pasien terabaikan. Padahal, dalam kondisi apapun, hak pasien harus menjadi prioritas. Sengketa lahan tidak boleh menjadi alasan untuk mengorbankan martabat manusia.

Penolakan Media, Simbol Tertutupnya Transparansi

Upaya konfirmasi jurnalis iKoneksi.com pun kandas. Pihak pengelola menolak memberikan keterangan.

“Kami tidak punya kewenangan menjawab,” ujar Sukarjo di pintu gerbang, sembari menutup portal dan meminta jurnalis keluar.

Penolakan ini kian menegaskan adanya ketertutupan yang menambah tanda tanya besar mengenai kondisi di dalam rumah sakit.

Panggilan untuk Negara dan Nurani

Kasus RSJ Wikarta Mandala adalah cermin dari bagaimana negara memperlakukan kelompok rentan. Ketika pasien ODGJ dibiarkan di bangunan tak layak, tanpa pengawasan, dan tanpa komunikasi terbuka, maka yang dipertaruhkan bukan hanya kesehatan jiwa pasien, melainkan juga nurani kita sebagai bangsa.

Sudah saatnya pemerintah daerah, kementerian terkait, dan aparat hukum turun tangan. Audit medis, verifikasi izin, dan relokasi pasien ke fasilitas yang layak harus segera dilakukan. Negara tidak boleh abai hanya karena persoalan sengketa lahan.

Jangan Biarkan Harapan Menjadi Sunyi

Menurut Wahyu RSJ Wikarta Mandala seharusnya menjadi tempat pemulihan, bukan simbol keputusasaan. Setiap pasien ODGJ berhak atas perawatan manusiawi, lingkungan yang layak, dan perlakuan penuh empati.

“Kisah rumah sakit ini adalah pengingat bahwa di balik pagar besi yang berkarat, ada jiwa-jiwa yang masih berjuang. Dan tugas kita bersama adalah memastikan bahwa mereka tidak dilupakan. Karena setiap manusia seberat apapun beban yang dipikulnya tetap berhak hidup dengan martabat,” pungkas Wahyu. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *