google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Libur Sekolah Dongkrak Tingkat Hunian Hotel Kota Batu, Tarif Kamar Justru Turun

  • Bagikan
banner 468x60

 

Kota Batu, iKoneksi.com- Libur sekolah membawa angin segar bagi industri perhotelan di Kota Batu. Okupansi atau tingkat hunian hotel bahkan sempat menembus 90 persen pada puncak musim liburan. Namun, tingginya keterisian kamar ternyata belum otomatis mendongkrak pendapatan hotel.

Ketua Perhimpunan Hotel dan Restoran Indonesia (PHRI), Sujud Hariadi Kota Batu mengatakan, okupansi memang mengalami peningkatan dibanding periode liburan sekolah tahun lalu. Puncak okupansi yang sebelumnya tidak sampai 80 persen, tapi kini mampu mencapai sekitar 90 persen.

“Kalau okupansi naik, iya. Dibanding liburan yang sama tahun lalu juga ada peningkatan. Tahun lalu puncaknya tidak sampai 80 persen, sekarang bisa sekitar 90 persen,” ujarnya.

Secara rata-rata selama masa libur sekolah, okupansi hotel juga mengalami kenaikan. Jika tahun lalu rata-rata berada di kisaran 50–60 persen, kini meningkat menjadi sekitar 60–70 persen.

Mayoritas tamu masih didominasi wisatawan domestik, terutama dari Jawa Timur, khususnya Surabaya. Selain itu, wisatawan dari Jawa Tengah dan Jawa Barat juga cukup banyak datang ke Kota Batu. Sementara wisatawan mancanegara masih tergolong minim.

Sebagian besar tamu memilih menginap selama dua malam. Durasi tersebut dinilai menjadi pola ideal bagi wisatawan yang berlibur menggunakan jalur darat karena memiliki waktu lebih leluasa menikmati destinasi wisata sebelum kembali ke daerah asal.

Meski demikian, tingginya okupansi tidak selalu berbanding lurus dengan peningkatan pendapatan hotel. Sebab, harga jual kamar atau room rate justru cenderung lebih rendah dibandingkan tahun lalu.

“Kita harus bedakan antara okupansi dengan rate. Okupansi memang naik, tetapi harga kamar justru lebih bagus tahun lalu. Jadi revenue yang diterima hotel belum tentu ikut naik,” jelasnya.

Menurut dia, industri hotel memiliki karakteristik harga yang sangat dinamis. Saat permintaan melemah atau persaingan meningkat, hotel akan lebih mudah menurunkan tarif demi menjaga tingkat keterisian kamar.

Kondisi itu membuat peningkatan jumlah tamu belum tentu menghasilkan pendapatan yang lebih besar. Bahkan, hotel dengan okupansi tinggi tetap bisa memperoleh pemasukan yang stagnan apabila tarif kamar harus ditekan.

Ia menambahkan, kemampuan hotel mempertahankan harga kamar sangat bergantung pada kualitas fasilitas yang dimiliki. Hotel yang tidak melakukan pembaruan fasilitas umumnya akan kesulitan menjaga tarif tetap tinggi.

“Kalau hotel ingin mempertahankan bahkan menaikkan harga, harus ada pembaruan. Misalnya memperbaiki interior, menambah fasilitas seperti kolam renang atau fasilitas lain. Kalau tidak ada peningkatan kualitas, biasanya harga akan turun mengikuti kelasnya,” pungkasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *