google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Rudy Hermanto Ungkap Dugaan Playing Victim di PDIP Medan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Medan, iKoneksi.com – Dinamika politik internal PDI Perjuangan (PDIP) Kota Medan kembali memanas. Kader senior PDIP Sumut, Rudy Hermanto, menyoroti munculnya spanduk bernuansa SARA yang dipasang di kantor lama DPC PDIP kawasan Medan Petisah. Menurutnya, ada dugaan kuat spanduk itu sengaja dipasang sebagai strategi “playing victim” untuk mendiskreditkan salah satu calon ketua DPC sekaligus membangun simpati bagi calon lainnya.

“Permainan ini terlalu mudah ditebak. Kader tidak akan terpengaruh dengan upaya penggiringan opini murahan lewat spanduk SARA,” tegas Rudy Hermanto saat dimintai tanggapan iKoneksi.com, Ahad (28/9/2025) di Medan.

PDIP Disebut Konsisten Menjaga Pluralisme

Lebih jauh, Rudy menegaskan isu SARA tidak akan laku di tubuh PDIP. Partai berlambang banteng moncong putih itu disebutnya sudah terbukti sebagai garda terdepan dalam menjaga demokrasi, pluralisme, dan keberagaman bangsa.

“Sudah pasti pelaku pemasangan spanduk SARA itu bukan kader. Itu ulah penyusup yang ingin memancing di air keruh,” ujarnya.

Rudy menilai, maraknya perbincangan publik terkait spanduk tersebut harus direspons serius oleh DPC PDIP Medan. Menurutnya, langkah terbaik adalah melakukan investigasi internal sekaligus melaporkan kasus itu ke pihak kepolisian. Hal ini penting untuk memastikan kebenaran apakah spanduk itu memang benar terpasang atau sekadar hasil rekayasa foto yang sengaja dipublikasikan ke media sosial.

Tuntutan Laporan Resmi ke Polisi

Rudy mengingatkan, jika DPC PDIP tidak segera mengambil tindakan hukum, hal itu bisa menimbulkan kesan pembiaran. Ia juga meminta agar klarifikasi dilakukan terhadap akun media sosial yang pertama kali menampilkan foto spanduk tersebut.

“Sudah banyak kader dan pengurus PAC yang meminta DPC melapor ke kepolisian. Saya kira Hasyim sebagai Ketua DPC harus menyahuti desakan ini agar tidak muncul dugaan pembiaran terhadap praktik playing victim yang jelas merugikan partai,” tegas mantan anggota DPRD Sumut itu.

Ancaman dan Intimidasi Muncul

Di tengah memanasnya isu ini, beredar pula kabar adanya intimidasi dan teror kepada sejumlah kader. Sekretaris PAC Medan Amplas, Emil Pane, dikabarkan mendapat ancaman melalui telepon dan pesan singkat dari pihak tak dikenal. Pesan itu berisi larangan untuk tidak melanjutkan narasi regenerasi kepemimpinan.

Tidak hanya Emil, dua anggota DPRD Medan yang sempat diusulkan sebagai calon Ketua DPC, yakni Paul Mei Anton Simanjuntak dan Margareth MS, juga disebut-sebut mengalami tekanan. Keduanya dipaksa membuat surat pernyataan di atas materai yang berisi penolakan dan pengingkaran terhadap Surat Terbuka Kader kepada Ketua Umum PDIP Megawati Soekarnoputri.

Rudy menilai, jika benar ancaman dan intimidasi itu terjadi, maka persoalan ini masuk kategori serius.

“Tidak tertutup kemungkinan DPP akan turun tangan melakukan investigasi untuk mencari tahu siapa dalang intimidasi itu,” ucapnya.

Seruan Kedewasaan Demokrasi

Menutup keterangannya, Rudy Hermanto mengajak semua pihak untuk menjaga marwah partai. Ia berharap seluruh calon ketua DPC Medan dan para pendukungnya dapat memperlihatkan sikap dewasa dalam berdemokrasi.

Menurutnya, derasnya tuntutan regenerasi merupakan hal wajar, terutama setelah Hasyim menjabat Ketua DPC selama dua periode. Arus perubahan, kata Rudy, adalah bagian dari dinamika sehat dalam tubuh partai.

“Saya kira Hasyim tidak perlu ngotot mempertahankan kursi ketua. Realitas di lapangan sudah jelas, kuatnya aspirasi regenerasi adalah harapan kader demi kebesaran PDIP di Kota Medan,” pungkasnya. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *