google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Saifudin Zuhri Perkuat Sinergi Islam dan Nasionalisme

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com – Anggota Komisi A DPRD Jawa Timur sekaligus Ketua DPC Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan Kota Batu, Saifudin Zuhri, menggelar sosialisasi bertema “Toleransi dan Keberagaman sebagai Pilar Harmoni Sosial melalui Pemanfaatan Media yang Edukatif” di Gedung Lumba-Lumba, Kecamatan Turen, Kabupaten Malang, Ahad (22/2/2026).

Kegiatan tersebut diikuti kalangan Nahdliyin se-Kabupaten Malang. Hadir sebagai narasumber pertama anggota DPRD Kabupaten Malang, Zulham Akhmad Mubarroq, dan narasumber kedua Prasetyo Marhaen.

Dalam pemaparannya, Saifudin menekankan pentingnya toleransi dan keberagaman sebagai fondasi menjaga harmoni sosial, khususnya di tengah arus informasi digital yang kian deras.

Menurutnya, media sosial dan platform digital harus dimanfaatkan sebagai sarana edukasi, bukan ruang penyebaran hoaks atau ujaran kebencian.

“Media hari ini bisa menjadi perekat, tapi juga bisa menjadi pemecah. Karena itu, harus digunakan secara bertanggung jawab,” kata dia.

Kepada peserta, Saifudin menegaskan Pancasila adalah perekat utama bangsa. Ia menilai kekuatan Islam dan nasionalisme selama ini menjadi dua pilar penting yang menopang berdirinya Negara Kesatuan Republik Indonesia.

“Islam dan nasionalisme bukan dua kutub yang bertentangan. Keduanya justru saling menguatkan dalam bingkai Pancasila,” tegasnya.

Ia menyebut, sinergi antara kekuatan Islam dan nasionalis telah melahirkan sejumlah keputusan penting negara, termasuk penetapan Hari Santri dan 1 Juni sebagai Hari Lahir Pancasila.

“Ini bukti bahwa negara hadir mengakomodasi nilai-nilai keislaman sekaligus menjaga semangat kebangsaan,” tekan dia.

Saifudin menambahkan, harmoni sosial tidak cukup hanya dijaga melalui regulasi, tetapi juga melalui praktik keseharian, termasuk dalam bermedia. Ia mengajak peserta untuk menjadi agen literasi digital yang mampu menyaring informasi sebelum menyebarkannya.

Narasumber pertama, Zulham Akhmad Mubarroq, menyoroti pentingnya peran tokoh agama dan organisasi masyarakat dalam menjaga stabilitas sosial di tingkat lokal.

“Ketahanan sosial berawal dari lingkungan. Kalau masyarakat rukun, daerah akan kuat,” ujarnya.

Sementara itu, Prasetyo Marhaen menekankan nilai toleransi telah lama menjadi bagian dari tradisi keislaman di Indonesia. Ia mengingatkan bahwa perbedaan adalah keniscayaan yang harus dikelola dengan bijak.

“Keberagaman adalah sunnatullah. Tugas kita menjaga agar perbedaan tidak berubah menjadi perpecahan,” ucap dia.

Diskusi berlangsung interaktif. Peserta menyampaikan pandangan terkait tantangan keberagaman di era digital, termasuk maraknya polarisasi akibat informasi yang tidak terverifikasi.

Saifudin menutup kegiatan dengan ajakan memperkuat persaudaraan kebangsaan.

“Kalau Islam dan nasionalisme berjalan beriringan, Indonesia akan tetap kokoh,” serunya.

“Sosialisasi tersebut menjadi bagian dari upaya membangun kesadaran kolektif tentang pentingnya toleransi, literasi media, dan penguatan nilai-nilai Pancasila di tengah masyarakat,” tandas dia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *