google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Sekda Kota Malang Dorong Budaya Birokrasi Sederhana dan Efisien

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Di tengah upaya reformasi birokrasi yang terus digencarkan pemerintah, Sekretaris Daerah (Sekda) Kota Malang, Erik Setyo Santoso, mengingatkan pentingnya membangun budaya kerja yang sederhana, efisien, dan berintegritas tinggi. Pesan tersebut disampaikannya saat memimpin apel pagi di halaman Balai Kota Malang, Senin (22/9/2025), di hadapan seluruh Aparatur Sipil Negara (ASN) dan pegawai perangkat daerah.

Dalam arahannya, Erik menuturkan birokrasi yang baik bukan hanya diukur dari besarnya anggaran atau banyaknya program, melainkan dari kemampuan aparatur untuk bekerja efektif dan memberikan dampak nyata bagi masyarakat.

“Membangun kebiasaan efisien tidak bisa instan, perlu ditanamkan terus-menerus. Prinsipnya adalah hidup sederhana dalam birokrasi tanpa menurunkan kualitas pelayanan publik,” ujarnya dengan tegas.

Menanamkan Budaya Sadar dan Bijak dalam Birokrasi

Erik menjelaskan budaya kerja sederhana bukan berarti menekan produktivitas, melainkan mengembalikan semangat ASN pada esensi pelayanan publik. Ia menyebut konsep ini sejalan dengan prinsip mindful living yang kini mulai diterapkan dalam birokrasi modern yakni kesadaran penuh dalam menggunakan fasilitas dan anggaran negara.

“Setiap pegawai harus sadar bahwa setiap rupiah yang dikeluarkan berasal dari uang rakyat. Jadi penggunaannya harus bijak, efisien, dan berdampak langsung,” ucap Erik.

Ia mencontohkan aset milik Pemerintah Kota Malang seperti ruang pertemuan, gedung, dan fasilitas umum harus dimanfaatkan secara optimal.

“Kita memiliki banyak aset di balai kota maupun perangkat daerah. Pemanfaatannya harus tepat guna dan tepat sasaran, jangan sampai ada fasilitas yang mangkrak atau tidak digunakan,” tekan Erik.

Efisiensi Dimulai dari Hal Sederhana

Menurut Erik, perubahan budaya birokrasi dimulai dari hal-hal kecil yang sering dianggap sepele. Misalnya, menghemat listrik, air, dan penggunaan fasilitas kantor.

“Hal sederhana seperti mematikan lampu, AC, atau air setelah digunakan adalah bentuk efisiensi yang bisa dilakukan setiap hari. Ini bukan hanya soal penghematan, tapi soal disiplin dan kesadaran,” tutur Erik.

Erik menilai, jika seluruh ASN Kota Malang menerapkan hal-hal kecil tersebut secara konsisten, maka dampaknya akan terasa besar terhadap efisiensi anggaran operasional pemerintah daerah.

Bijak dalam Perjalanan Dinas dan Anggaran

Dalam arahannya, Erik juga menyoroti efisiensi pada kegiatan perjalanan dinas. Ia meminta agar metode daring lebih diutamakan dibandingkan tatap muka jika memungkinkan.

“Kalau memang harus luring, batasi peserta dan pastikan kegiatan itu benar-benar penting serta ada urgensi yang jelas,” sebutnya.

Ia mengingatkan setiap rupiah yang dihemat dari perjalanan dinas atau kegiatan seremonial bisa dialihkan untuk program yang lebih bermanfaat bagi masyarakat, seperti layanan pendidikan, kesehatan, atau bantuan sosial.

“Efisiensi bukan sekadar penghematan, tapi bentuk tanggung jawab moral birokrasi. Tanggung jawab untuk tidak membebani keuangan negara dan masyarakat,” tegas Erik.

Birokrasi Efisien untuk Kota yang Berkelanjutan

Lebih jauh, Sekda menilai bahwa budaya sederhana dan efisien adalah fondasi birokrasi yang sehat dan adaptif. Di tengah tantangan fiskal dan kebutuhan publik yang terus meningkat, birokrasi dituntut untuk bekerja cerdas, bukan boros.

Ia menambahkan, efisiensi juga menjadi bentuk keteladanan bagi masyarakat.

“Kalau birokratnya bisa hidup sederhana, rakyat akan percaya bahwa pemerintahnya tidak berlebihan. Kepercayaan publik tumbuh dari keteladanan kecil seperti itu,” lugasnya.

Erik juga mengingatkan bahwa efisiensi bukan berarti mengorbankan kualitas. Sebaliknya, efisiensi justru mendorong pegawai untuk bekerja lebih inovatif dan menemukan cara baru agar pelayanan publik tetap optimal dengan sumber daya terbatas.

“Dengan pola kerja yang sederhana dan efisien, saya yakin birokrasi Kota Malang bisa menjadi contoh bagi daerah lain. Kita ingin menghadirkan pemerintahan yang tangguh, transparan, dan benar-benar melayani masyarakat,” ungkap Erik.

Menumbuhkan Kebiasaan Positif, Bukan Sekadar Instruksi

Erik menutup arahannya dengan menegaskan bahwa perubahan budaya kerja hanya bisa terjadi jika dimulai dari kesadaran pribadi setiap ASN.

“Instruksi tanpa kebiasaan tidak akan bertahan lama. Tapi kalau setiap individu sadar dan konsisten, budaya itu akan tumbuh dengan sendirinya,” serunya.

Ia berharap agar semangat efisiensi tidak berhenti pada tataran seremonial, tetapi benar-benar menjadi kebiasaan yang melekat dalam setiap aktivitas birokrasi.

“Kalau budaya efisien sudah menjadi kebiasaan, maka pelayanan publik akan lebih cepat, transparan, dan berorientasi hasil,” lugasnya.

“Dengan semangat tersebut, Pemerintah Kota Malang berkomitmen menegakkan birokrasi yang hemat, cerdas, dan berintegritas bukan sekadar slogan, melainkan langkah nyata menuju pemerintahan yang bersih dan berdaya saing tinggi,” pungkas Erik. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *