google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Simulasi Perang Dunia III: Pangan, Tanah, dan Hak Hidup Adat

  • Bagikan
banner 468x60

Jakarta, iKoneksi.com – Di tengah ancaman krisis iklim, ketidakstabilan geopolitik, dan perebutan sumber daya alam, sebuah forum lintas negara digelar untuk membicarakan masa depan pangan, tanah, dan hak hidup masyarakat adat. Power of Voice (POV) Community, bekerja sama dengan International Youth Training Centre (IYTC) Thailand dan Indigenous Movement for Climate Justice Southeast Asia (IMCS), menggelar talkshow internasional bertajuk “World War III Simulation: Food, Land, and the Right to Life”, Jumat (9/8/2025), bertepatan dengan Hari Masyarakat Adat Internasional.

Acara yang berlangsung daring ini menghadirkan berbagai tokoh, aktivis, dan akademisi dari Asia, Eropa, hingga Pasifik. Tujuannya jelas: membicarakan bagaimana perebutan pangan dan tanah kini menjadi medan perang baru yang mengancam keberlangsungan hidup komunitas adat, petani, nelayan, perempuan, dan kelompok minoritas di seluruh dunia.

Membuka Dialog tentang Hak Hidup di Tengah Ancaman Global

Pendiri POV Community, Lucia Damanik, membuka acara dengan nada tegas. Ia menekankan Hari Masyarakat Adat Internasional adalah momentum refleksi sekaligus perlawanan terhadap dominasi korporasi dan kebijakan negara yang kerap menggerus hak-hak komunitas adat.

“Hari Masyarakat Adat Internasional menjadi momentum untuk memperkuat perjuangan hak-hak masyarakat adat yang terus digerogoti oleh kepentingan korporasi dan negara,” kata Lucia, yang juga menjadi moderator diskusi.

Lucia mengingatkan krisis yang dihadapi masyarakat adat bukan sekadar isu lokal, melainkan bagian dari ketidakadilan struktural global yang saling terhubung dengan krisis iklim, ekstraktivisme, dan konflik geopolitik.

Perang Dunia Ketiga Bukan Lagi Senjata, Tapi Pangan dan Tanah

Keynote speaker, Dr. Teguh Santosa, mengupas perspektif historis dan strategis. Menurutnya, apa yang disebut sebagai “Perang Dunia Ketiga” bukan lagi pertempuran militer semata, melainkan perebutan sumber daya fundamental: pangan, tanah, dan energi.

Ia menyoroti warisan kolonialisme yang memecah komunitas adat melalui perbatasan buatan, menciptakan konflik berkepanjangan. Solusinya, kata Teguh, adalah diversifikasi pangan dan energi untuk memperkuat kedaulatan, baik di level negara maupun komunitas.

Suara dari Eropa: Perlawanan terhadap Militerisasi Sumber Daya

Giulia dari PAX Christi Internasional, Belgia, menyampaikan perspektif gerakan pemuda di Eropa. Ia menyoroti dampak militerisasi terhadap akses masyarakat pada sumber daya alam dan menegaskan pentingnya solidaritas lintas benua untuk melawan ketidakadilan yang memicu konflik global.

Asia Tenggara: Tanah dan Budaya Terus Terancam

Dari Filipina, Beverly Longid (IPMSDL) membawa pesan lantang: perjuangan mempertahankan tanah bukan hanya soal ruang fisik, tetapi juga identitas, budaya, dan hubungan spiritual dengan alam. Ia memperingatkan bahwa proyek ekstraktif dan kebijakan “kolonial modern” semakin menggerus ruang hidup masyarakat adat.

Peran Strategis Generasi Muda

Rachelle Junsay dari YACAP Filipina menegaskan generasi muda memegang peranan kunci. Mereka mendorong gerakan lintas sektor yang kreatif untuk menanggapi dampak perubahan iklim dan konflik agraria, terutama di wilayah yang paling rentan.

Kesepakatan Bersama: Pendekatan Holistik untuk Bertahan

Para panelis sepakat bahwa konflik sumber daya saat ini adalah serangan sistemik: merampas tanah, menghilangkan akses pangan, dan mengancam budaya, bahasa, hingga kedaulatan digital masyarakat adat. Mereka menyerukan pengakuan hak-hak adat, perlindungan budaya, dan pemanfaatan teknologi secara etis.

Solidaritas Lintas Generasi

Manajer IYTC, Titi Ghale, menutup dengan refleksi bahwa perjuangan masyarakat adat harus beradaptasi dengan teknologi digital tanpa meninggalkan akar budaya. Solidaritas lintas generasi menjadi kunci bertahan di era perubahan cepat ini.

Acara ini bukan sekadar diskusi. POV Community menegaskan komitmen menjadi penghubung komunitas terdampak di berbagai negara, memfasilitasi kolaborasi strategis, dan mendorong gerakan pro-rakyat dan pro-planet.

Pesan akhirnya tegas: pangan dan tanah bukan sekadar komoditas, tetapi hak hidup yang harus dilindungi demi masa depan yang adil dan berkelanjutan. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *