google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

STIE Malangkuçeçwara dan BPIP Bahas Tantangan Pancasila di Era AI

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Tantangan menjaga dan menanamkan nilai-nilai Pancasila di tengah derasnya arus digitalisasi dan kemajuan kecerdasan buatan (AI) menjadi sorotan utama dalam Dialog Kebangsaan: Pembinaan Ideologi Pancasila” yang digelar di Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi (STIE) Malangkuçeçwara (ABM), Jumat (17/10/2025).

Acara yang mengusung tema “Penguatan Relawan Gerakan Kebajikan Pancasila kepada Masyarakat di Kota Malang” ini merupakan hasil kolaborasi antara Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) dan Komisi XIII DPR RI, menghadirkan para akademisi, mahasiswa, dan pegiat kebangsaan untuk membedah bagaimana nilai Pancasila bisa tetap relevan di era teknologi yang serba cepat.

Ketua STIE Malangkuçeçwara, Drs. Bunyamin, M.M., Ph.D., menegaskan perguruan tinggi memiliki peran vital dalam membentuk generasi Pancasilais di era digital. Namun, menurutnya, tantangan terbesar bukan pada teknologi, melainkan pada bagaimana manusia memegang kendali atas nilai-nilai kemanusiaannya.

“Kalau bicara bisnis dan digital kami percaya diri. Tapi bicara Pancasila, ini tantangan tersendiri. Sebab, kita berbicara soal moralitas, etika, dan karakter di tengah kemajuan teknologi,” katanya dalam sambutan.

Formula ATTITUDE: Pendekatan Unik Mendidik Generasi Pancasilais

Dalam forum tersebut, Bunyamin memperkenalkan formula soft skill yang telah menjadi ruh pendidikan karakter di STIE ABM selama dua dekade terakhir. Ia menyebutnya dengan akronim ATTITUDE, yang terdiri dari Appreciative, Time Management, Teamwork, Initiative, Thoughtfulness, Usefulness, Dedicative, dan Endless Learning.

“Delapan nilai ini merepresentasikan semangat kelima sila Pancasila,” jelasnya.

“Misalnya, Teamwork mencerminkan gotong royong, sedangkan Endless Learning mencerminkan nilai Ketuhanan, karena orang yang mau terus belajar menunjukkan niat baik dan keikhlasan dalam mencari ilmu,” sambungnya.

Konsep ATTITUDE, lanjutnya, bukan sekadar pelengkap kurikulum, tetapi sebuah kerangka pembentukan karakter mahasiswa yang berdaya kendali terhadap teknologi.

“Mahasiswa harus bisa mengatur AI, bukan dikendalikan AI,” tegasnya.

Sebagai contoh, ia menyoroti penerapan nilai Time Management, di mana mahasiswa dapat menggunakan AI seperti Google Calendar untuk mengelola jadwal belajar dan menjaga keseimbangan kehidupan pribadi.

“AI seharusnya menjadi mitra yang membantu manusia lebih produktif, bukan sebaliknya,” urainya.

Etika dan Integritas di Era AI

Selain kecakapan teknis, Bunyamin menekankan pentingnya integritas dan etika digital. Dalam era di mana AI mampu meniru gaya berpikir manusia, risiko plagiarisme dan kemalasan intelektual semakin besar. Oleh karena itu, mahasiswa dituntut untuk menjadikan AI sebagai spark of idea, bukan alat untuk menjiplak.

“Nilai terpenting di era AI adalah integritas, berpikir kritis, dan etika dalam berdialog dengan teknologi. Mahasiswa harus bisa membedakan antara inspirasi dan manipulasi,” ujarnya tegas.

Konsep ini telah diterapkan STIE ABM sejak 20 tahun lalu melalui program PSSM (Pengendalaman Soft Skill Mahasiswa), yang diintegrasikan dalam setiap Rencana Pembelajaran Semester (RPS).

“Pendekatan ini diyakini mampu menumbuhkan kesadaran kebangsaan sekaligus daya adaptif menghadapi disrupsi teknologi,” lugasnya.

BPIP dan DPR Dorong Penguatan Ideologi di Kampus

Dalam kesempatan yang sama, Dr. Ahmad Basarah, S.H., M.H., anggota Komisi XIII DPR RI, menyampaikan apresiasinya terhadap STIE Malangkuçeçwara yang konsisten menanamkan nilai Pancasila di lingkungan akademik.

“Daerah pemilihan saya adalah Malang Raya, dan saya tahu betul kiprah kampus ini. STIE ABM adalah salah satu perguruan tinggi swasta terbaik di Jawa Timur. Kampus seperti inilah yang perlu dilibatkan dalam upaya penguatan ideologi Pancasila,” ujarnya.

Basarah menjelaskan kegiatan ini merupakan bagian dari upaya kolektif antara BPIP dan DPR RI untuk mengarusutamakan ideologi Pancasila ke berbagai lapisan masyarakat, terutama generasi muda.

Ia juga menyinggung perkembangan terbaru Rancangan Undang-Undang BPIP (RUU BPIP) yang kini tengah dibahas di Badan Legislasi DPR RI.

“Kami berharap tahun depan RUU ini dapat disahkan, sehingga pembinaan ideologi Pancasila menjadi lebih kokoh, berkelanjutan, dan memiliki payung hukum yang kuat,” terangnya.

Menyemai Nilai Pancasila di Era Digital

Menurut Basarah dialog kebangsaan ini menegaskan satu pesan penting: Pancasila tidak boleh tenggelam di tengah derasnya arus digitalisasi dan AI. Justru di era seperti sekarang, nilai-nilai dasar kemanusiaan, persatuan, dan keadilan sosial semakin dibutuhkan untuk menuntun arah kemajuan bangsa.

“STIE Malangkuçeçwara dan BPIP, melalui kolaborasi ini, menunjukkan pembinaan ideologi bukan sekadar wacana, tetapi bisa diwujudkan melalui pendidikan karakter yang kontekstual dan adaptif terhadap zaman,” terangnya.

“Dengan semangat ATTITUDE dan dukungan regulasi yang kuat, generasi muda Indonesia diharapkan tidak hanya cerdas secara digital, tetapi juga berkarakter Pancasilais manusia yang menguasai teknologi, namun tetap berpijak pada nilai-nilai luhur bangsa,” pungkas Basarah.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *