google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Tangsel Masuk 10 Besar Kota Termiskin Terendah

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Tangerang Selatan, iKoneksi.com — Kota Tangerang Selatan (Tangsel) kembali mencatat prestasi membanggakan di kancah nasional. Berdasarkan data terbaru dari Badan Pusat Statistik (BPS) per Maret 2024, Tangsel berhasil menempati peringkat keempat sebagai kota dengan tingkat kemiskinan terendah di Indonesia. Dengan hanya 2,36 persen penduduknya yang hidup di bawah garis kemiskinan, kota ini membuktikan diri sebagai wilayah dengan ketahanan ekonomi yang kuat di tengah tantangan nasional.

Prestasi yang Tidak Datang Secara Instan

Tangsel berada di bawah Balikpapan (2,23 persen), Sawahlunto (2,33 persen), dan Depok (2,34 persen) dalam daftar sepuluh kota dengan angka kemiskinan terendah. Dibandingkan dengan rata-rata angka kemiskinan nasional yang masih berada di angka 9,03 persen dan Provinsi Banten yang mencapai 5,84 persen, posisi Tangsel patut diapresiasi.

Capaian ini menunjukkan program-program penanggulangan kemiskinan yang diterapkan pemerintah daerah berjalan dengan baik dan memberi dampak nyata bagi masyarakat. Tangsel juga menunjukkan konsistensi dalam menjaga kestabilan ekonomi dan meningkatkan kesejahteraan warganya.

Angka Rendah, Tapi Bukan Tanpa Tantangan

Meski berada di posisi aman dalam statistik nasional, BPS mencatat bahwa masih terdapat sekitar 43 ribu penduduk Tangsel yang hidup di bawah garis kemiskinan. Garis kemiskinan tersebut dihitung berdasarkan pengeluaran minimal sebesar Rp828.278 per orang per bulan, yang mencakup kebutuhan dasar seperti makanan dan barang kebutuhan hidup lainnya.

Artinya, di balik angka yang tampak menggembirakan, masih ada bagian masyarakat yang berjuang keras setiap hari untuk memenuhi kebutuhan paling mendasar. Mereka terdiri dari kelompok rentan seperti buruh harian, pekerja informal, lansia tanpa pendapatan tetap, hingga keluarga dengan tanggungan besar namun penghasilan minim.

Dibalik Data: Siapa yang Masih Tertinggal?

Penting untuk dicatat bahwa statistik tidak selalu mencerminkan realitas sepenuhnya. Angka kemiskinan yang rendah bisa jadi menutupi fakta bahwa sebagian warga berada dalam kondisi “hampir miskin” — yakni mereka yang hanya sedikit berada di atas garis kemiskinan dan rentan jatuh kapan saja akibat guncangan ekonomi, seperti kehilangan pekerjaan, krisis kesehatan, atau bencana alam.

Kelompok rentan ini sering kali terpinggirkan dari skema bantuan pemerintah karena tidak tercatat sebagai warga miskin resmi. Padahal, kondisi mereka hampir tidak berbeda dengan kelompok yang sudah masuk kategori miskin.

Apa yang Menjadi Kunci Sukses Tangsel?

Keberhasilan Tangsel menekan angka kemiskinan tidak lepas dari peran sektor jasa dan perdagangan yang berkembang pesat. Selain itu, akses yang semakin merata terhadap pendidikan dan layanan kesehatan juga turut memperbaiki kualitas hidup masyarakat.

Pemerintah kota Tangsel diketahui konsisten mendorong pembangunan berbasis pelayanan publik dan pemberdayaan ekonomi lokal. Infrastruktur perkotaan yang memadai, ditambah dengan tingginya partisipasi swasta dalam pembangunan kawasan permukiman dan sentra ekonomi, juga menjadi pendorong pertumbuhan ekonomi daerah.

Namun, tantangan terbesar ke depan adalah bagaimana mempertahankan prestasi ini sekaligus mempersempit jurang ketimpangan yang masih ada. Pemerintah tidak boleh sekadar puas pada capaian angka, tetapi harus menelusuri lebih dalam siapa saja yang masih tertinggal dan memastikan mereka mendapatkan perlindungan serta akses terhadap program pemberdayaan ekonomi.

Menatap Masa Depan: Angka Bukan Tujuan Akhir

Capaian Tangsel seharusnya tidak membuat kita terlena. Sebab, tujuan akhir dari pembangunan adalah meningkatkan kesejahteraan seluruh lapisan masyarakat, bukan hanya mengejar angka statistik. Upaya pemberdayaan ekonomi, pelatihan keterampilan, serta perlindungan sosial bagi kelompok rentan harus terus digencarkan agar prestasi ini benar-benar dirasakan hingga ke level akar rumput.

Di tengah tantangan nasional yang masih dihantui oleh kemiskinan struktural dan ketimpangan ekonomi, langkah Tangsel bisa menjadi inspirasi bagi kota-kota lain di Indonesia. Namun, keberhasilan sejati hanya akan tercapai bila tidak ada satu pun warga yang tertinggal dari arus kemajuan.

Tangsel boleh bangga atas posisinya saat ini. Tapi kerja besar masih menanti: memastikan 43 ribu warganya keluar dari jerat kemiskinan dan hidup dengan layak, bukan hanya cukup. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *