google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Trump Longgarkan Tarif Impor China, Pasar Siap-Siap

  • Bagikan
banner 468x60

Washington DC, iKoneksi.com – Ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan China yang selama ini membara dalam perang dagang akhirnya menunjukkan sedikit celah untuk mereda. Dalam pernyataan yang cukup mengejutkan, Menteri Keuangan AS Scott Bessent mengisyaratkan pemerintahan Presiden Donald Trump tengah mempertimbangkan pelonggaran tarif impor terhadap produk-produk dari China. Pernyataan ini muncul di tengah tekanan besar dari pelaku pasar dan dunia usaha yang khawatir dengan dampak buruk kebijakan proteksionis Trump terhadap stabilitas ekonomi global.

Sinyal Damai di Balik Ketegangan

Pernyataan Scott Bessent disampaikan dalam sebuah forum tertutup yang digelar oleh JPMorgan Chase pada Selasa waktu AS, sebagaimana dilansir oleh AFP pada Rabu, 23 April 2025. Dalam kesempatan itu, Bessent mengakui kebuntuan dagang antara dua ekonomi terbesar dunia ini sudah berada di titik yang tidak berkelanjutan. Ia menyebut tarif saling balas yang telah diberlakukan sebagai bentuk embargo perdagangan timbal balik, yang pada akhirnya harus dide-eskalasi demi menjaga kestabilan global.

“Presiden Donald Trump memperkirakan tarif yang sangat tinggi pada banyak impor China akan turun secara substansial,” kata Bessent dalam pertemuan tersebut, sebagaimana dikutip oleh sumber yang hadir di forum tersebut.

Menurut Bessent, meskipun masih banyak hal yang perlu dinegosiasikan dengan pemerintah Beijing, namun arah pergerakan saat ini menuju pada penyusunan ulang kebijakan perdagangan yang lebih realistis dan menguntungkan kedua belah pihak.

Bak Menjilat Ludah Sendiri

Sejak kembali menduduki Gedung Putih pada Januari 2025, Donald Trump memang kembali menggencarkan retorika proteksionisnya. Ia memberlakukan tarif tambahan hingga 145% terhadap berbagai produk dari China, dengan dalih melindungi industri dalam negeri serta menekan praktik dagang tidak adil dan dugaan keterlibatan China dalam rantai pasokan fentanil. Namun, dalam pernyataan terbarunya, Trump tampak melunak. Ia menyadari angka tarif tersebut sangat tinggi dan memberi sinyal nilai tersebut kemungkinan besar akan diturunkan.

“Mereka tidak akan mendekati angka itu. Tapi juga tidak akan menjadi nol,” kata Trump, menunjukkan tarif tetap ada namun dengan skala yang lebih rasional.

Pernyataan ini jelas berbeda dari nada keras yang selama ini ia pertahankan. Tak sedikit pengamat yang menilai ini sebagai langkah realisme ekonomi, di tengah kekhawatiran bahwa perang dagang justru menjerumuskan ekonomi AS dalam tekanan berkepanjangan.

Peluang Kesepakatan Dagang Mulai Terbuka

Di sisi lain, Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt juga turut memperkuat sinyal bahwa Washington kini tengah mempersiapkan panggung untuk mencapai kesepakatan dagang dengan Beijing.

“Presiden dan pemerintahan sedang menyiapkan panggung untuk sebuah kesepakatan. Bola sedang bergerak ke arah yang benar,” ujarnya kepada wartawan.

Leavitt menambahkan ada keinginan dari kedua belah pihak untuk menyudahi pertarungan tarif yang tak menguntungkan siapa pun. Ia juga menyebut bahwa suasana hati para perunding mengarah ke solusi damai, dengan perdagangan yang lebih adil sebagai pijakan bersama.

China Siap Balas, Tapi Beri Sinyal Negosiasi

Sementara itu, China tidak tinggal diam. Menanggapi serangan tarif AS, Beijing telah menetapkan tarif balasan sebesar 125% terhadap produk-produk asal Amerika. Namun, Presiden Xi Jinping juga menunjukkan sikap terbuka, menyatakan perang dagang tidak akan membawa keuntungan bagi siapa pun.

Pemerintah China bahkan memberi peringatan kepada negara-negara mitra AS yang tengah melakukan negosiasi tarif, agar tetap memperhatikan kepentingan Beijing dan tidak tunduk sepenuhnya pada tekanan Washington.

Pasar Masih Menanti Kejelasan

Pernyataan dari para pejabat AS ini sedikit membawa angin segar ke pasar global. Para pelaku pasar berharap bahwa sinyal pelonggaran tarif bisa menjadi awal dari berakhirnya ketegangan panjang antara dua raksasa ekonomi dunia ini.

Namun, jalan menuju normalisasi tampaknya masih panjang. Trump dan Xi harus membuktikan komitmen mereka di meja perundingan, bukan hanya dalam retorika. Dunia kini menanti apakah kedua pemimpin itu benar-benar siap melepaskan ego politik demi kestabilan ekonomi global. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *