google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

UMM Salurkan Hewan Kurban Hingga ke Filipina

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com – Universitas Muhammadiyah Malang (UMM) kembali meneguhkan komitmennya sebagai kampus berjiwa dakwah dan kemanusiaan. Menjelang Hari Raya Idul Adha tahun ini, lebih dari 100 hewan kurban disiapkan untuk didistribusikan. Namun yang membuat langkah ini begitu istimewa bukan sekadar jumlahnya, melainkan arah distribusinya yang melampaui batas geografis Indonesia.

Tak hanya menjangkau masyarakat lokal di sekitar Malang maupun berbagai wilayah nasional, UMM juga melakukan distribusi hewan kurban ke luar negeri. Filipina menjadi negara tujuan utama pada tahun ini, sebuah negara yang mayoritas penduduknya beragama non-Muslim.

Menyentuh Komunitas Muslim Minoritas di Filipina

Keputusan menyalurkan hewan kurban ke Filipina bukan tanpa alasan. UMM memahami bahwa komunitas Muslim di negara tersebut hidup dalam jumlah kecil dan seringkali terpinggirkan dari perhatian umat Muslim global, terutama saat hari-hari besar Islam seperti Idul Adha. Inilah yang kemudian mendorong UMM untuk menjadikan Filipina sebagai wilayah prioritas dalam misi kemanusiaannya.

M.S. Wahyudi, M.E., Ph.D., Ketua Pelaksana kegiatan Idul Adha di UMM, menjelaskan bahwa distribusi hewan kurban ke luar negeri dilakukan melalui kerja sama dengan Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) di Filipina. Menariknya, salah satu pengurus PCIM tersebut adalah alumni UMM, yang kini berperan aktif dalam menjembatani kepedulian antarnegara.

“Kami melihat ada urgensi besar untuk menyapa dan menguatkan komunitas Muslim di negara minoritas. Di Filipina, kurban menjadi momen penting yang sangat ditunggu-tunggu,” jelas Wahyudi.

Momen Kurban Jadi Alat Mempererat Warga

Lebih dari sekadar menyalurkan daging, Wahyudi menekankan kurban memiliki nilai sosial yang kuat, khususnya dalam konteks masyarakat minoritas. Di Filipina, budaya makan bersama saat kurban menjadi ajang kebersamaan yang mempererat hubungan antartetangga, baik yang Muslim maupun non-Muslim.

“Kurban itu bukan sekadar ibadah ritual. Di wilayah minoritas seperti Filipina, ia menjadi jembatan persaudaraan lintas agama dan budaya,” kata Wahyudi.

Dalam beberapa laporan PCIM Filipina, distribusi daging kurban dari UMM bahkan turut menciptakan rasa penasaran dan penghargaan dari warga non-Muslim, yang turut menyaksikan semangat berbagi di tengah perayaan umat Islam.

“Momen ini sekaligus menjadi ruang syiar Islam yang damai, sejuk, dan inklusif,” lugas Wahyudi.

Langkah Strategis: Bukan Sekadar Aksi, Tapi Dakwah

UMM memandang bahwa kurban adalah salah satu bentuk dakwah nyata yang tidak melulu dilakukan lewat ceramah atau literasi keislaman. Distribusi hewan kurban ke daerah minoritas seperti Filipina merupakan langkah strategis menyebarkan nilai rahmatan lil alamin ke wilayah yang jarang mendapat sorotan.

“Negara-negara mayoritas Muslim seperti Malaysia atau Singapura relatif sudah tercukupi dari segi distribusi kurban. Justru tantangan besarnya adalah menjangkau komunitas Muslim minoritas yang belum banyak tersentuh,” ungkap Wahyudi.

Pendekatan ini menurut Wahyudi menunjukkan bahwa UMM tidak hanya berkutat dalam lingkup akademik, tapi juga serius memikirkan peran globalnya sebagai institusi yang berpihak pada kemanusiaan.

“Misi ini juga memperluas citra Indonesia sebagai negara mayoritas Muslim yang aktif menyapa dunia dengan kepedulian dan kasih sayang,” terang Wahyudi.

Harapan UMM: Menjadi Agenda Tahunan dan Lebih Luas

Wahyudi mengungkapkan harapannya agar distribusi kurban ke luar negeri tidak hanya berhenti di Filipina. Menurutnya, masih banyak negara dengan komunitas Muslim minoritas yang menghadapi keterbatasan dalam menjalankan ibadah kurban. Oleh karena itu, ia menyatakan pentingnya menjadikan agenda ini sebagai program tahunan UMM.

“Kami ingin memperluas jangkauan. Filipina menjadi awal, tapi ke depan kami berharap bisa menyentuh komunitas Muslim di wilayah lain yang serupa, seperti Thailand Selatan, Myanmar, Vietnam, atau bahkan negara-negara di Eropa Timur yang memiliki populasi Muslim cukup besar namun aksesnya terbatas,” jelasnya.

UMM juga membuka kemungkinan kolaborasi lebih luas, baik dengan jaringan alumni, PCIM di berbagai negara, maupun organisasi kemanusiaan internasional.

“Dengan demikian, dampak dari kurban tidak hanya berhenti di sebaran daging, tetapi menjadi proses panjang membangun harmoni dan keberlanjutan nilai-nilai Islam dalam kehidupan global,” seru Wahyudi.

Kurban Sebagai Simbol Globalisasi Dakwah UMM

Distribusi hewan kurban oleh UMM ke luar negeri mencerminkan perluasan makna dakwah yang lebih universal. Tidak lagi eksklusif untuk komunitas dalam negeri, namun melebar ke wilayah-wilayah yang sangat membutuhkan. Ini menjadi wujud nyata bahwa UMM menginternalisasi nilai-nilai Islam dalam tindakan nyata, bukan hanya dalam wacana.

“Langkah ini juga memperlihatkan bagaimana pendidikan tinggi bisa bertransformasi menjadi agen perubahan global. UMM, dengan segala daya dan jaringan yang dimilikinya, menjadikan kurban sebagai simbol kepedulian dan dakwah lintas batas,” ungkap Wahyudi.

UMM, Dakwah yang Merangkul Dunia

Apa yang dilakukan Universitas Muhammadiyah Malang tahun ini bukan sekadar distribusi hewan kurban, melainkan juga penyampaian pesan bahwa Islam adalah agama yang menyapa, bukan memisahkan. Filipina mungkin hanya satu dari sekian banyak wilayah minoritas Muslim di dunia, tetapi langkah kecil UMM ini menjadi tanda bahwa perubahan besar bisa dimulai dari kepedulian.

“UMM bukan hanya kampus akademik, tetapi kampus yang menjadikan kemanusiaan sebagai prinsip gerak. Di tengah era globalisasi yang sering diwarnai ketegangan identitas, UMM hadir membawa pesan damai dan kasih sayang. Dan Idul Adha tahun ini, menjadi salah satu panggung utama di mana pesan itu disampaikan lewat seekor sapi, lewat sepiring daging, dan lewat pelukan antarbangsa,” tukas Wahyudi. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *