Kab Malang, iKoneksi.com – Petani kopi di Desa Kucur, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang kini memiliki produk unggulan baru: Wine Coffee. Inisiatif ini lahir dari kepedulian seorang akademisi, Dr. apt. Rollando, S.Farm., M.Sc., yang ingin menyelamatkan tanaman kopi di daerah tersebut dari ancaman pembabatan untuk beralih ke tanaman jeruk.
Rollando, yang merupakan staf pengajar di Program Studi Farmasi Universitas Ma Chung, Malang, memiliki hubungan emosional yang kuat dengan perkebunan kopi. Sejak kecil, ia terbiasa menghabiskan waktu di kebun kopi milik kakeknya di Ngabang, Kalimantan Barat.
“Ketika liburan, saya selalu bermain di kebun kopi kakek saya. Saya bisa seharian di sana karena suasananya yang segar dan sejuk,” kata Dekan Fakultas Ilmu Kesehatan ini.
Kecintaannya pada kopi semakin kuat ketika ia melihat banyak petani di Desa Kucur beralih ke tanaman jeruk dan menebang pohon kopi serta cengkeh mereka. Desa ini berdekatan dengan kampus tempat Rollando mengajar, sehingga ia merasa perlu mengambil langkah untuk melestarikan tanaman kopi di sana.
“Saat itu, seorang petani kopi mengatakan bahwa jeruk lebih menguntungkan secara ekonomi,” ungkapnya.
“Memang masih ada petani yang menanam kopi, tetapi jumlahnya sangat sedikit,” lanjutnya.
Sebagai akademisi yang mengemban Amanah Tri Dharma Perguruan Tinggi, Rollando merasa bertanggung jawab untuk mengabdi kepada masyarakat. Pada tahun 2021, ia pun mengembangkan program Pengembangan dan Scale-Up Produk Kopi Fermentasi (Wine Coffee) pada Kelompok Tani Kopi di Desa Kucur, Malang.
“Sejak saat itu, saya semakin sering berinteraksi dengan para petani kopi. Saya mengajak mereka untuk berlatih mengolah biji kopi agar kualitasnya meningkat dan memiliki nilai jual yang lebih tinggi,” jelasnya.
Dari Budi Daya Konvensional ke Proses Fermentasi Kopi Modern
Selama ini, metode budi daya kopi di Desa Kucur masih sangat sederhana: petik, jemur, dan jual. Hal ini menyebabkan nilai jual kopi sulit meningkat, apalagi jika biji kopi yang dipanen belum semuanya matang atau tidak melalui proses petik merah. Rollando pun menawarkan solusi inovatif dengan memperkenalkan teknik pembuatan Wine Coffee.
“Wine Coffee adalah kopi hasil fermentasi yang memiliki karakter rasa lebih kompleks, menyerupai anggur atau wine, yang sangat diminati pasar premium,” paparnya.
Upaya ini mendapat sambutan positif dari masyarakat, terutama generasi muda. Pada tahun 2019, Rollando bersama sekelompok pemuda merintis Kelompok Tani Kopi ‘Republik Tani Mandiri’ (RTM) sebagai mitra program yang ia dan timnya jalankan.
“Program ini mencakup berbagai aspek, mulai dari pelatihan teknik fermentasi, pengolahan pasca-panen seperti pengeringan dan penyimpanan biji kopi, hingga strategi pemasaran agar nilai jual kopi meningkat,” terang Rolando.
Tidak hanya fokus pada produksi, kelompok tani ini juga dilatih dalam aspek branding dan desain kemasan. Rollando menekankan bahwa tampilan produk berperan penting dalam menarik perhatian konsumen.
“Pendampingan kami tidak hanya sampai di tahap produksi, tetapi juga strategi pemasaran berbasis digital. Para petani kami ajarkan memanfaatkan media sosial, e-commerce, serta berkolaborasi dengan pemilik kafe dan roastery,” ungkap Rolando.
Dengan inovasi ini, harapan besar disematkan pada Wine Coffee dari Desa Kucur. Rollando berharap produk hasil budi daya Kelompok Tani Kopi RTM dapat menjadi kopi specialty dengan harga lebih baik, sehingga kesejahteraan petani kopi pun ikut meningkat.
“Kami ingin Wine Coffee dari Desa Kucur menjadi produk unggulan yang dikenal luas, tidak hanya di pasar lokal tetapi juga nasional, bahkan internasional,” tandas Rolando. (04/iKoneksi.com)




















