google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Wabah DBD Meluas di Pematangsiantar, Dua Warga Meninggal

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Pematangsiantar, iKoneksi.com – Kota Pematangsiantar kembali dikejutkan oleh lonjakan kasus Demam Berdarah Dengue (DBD) yang menyebar cepat dan merenggut dua nyawa. Kepala Dinas Kesehatan (Dinkes) Pematangsiantar, Irma Suryani, mengonfirmasi bahwa hingga akhir Mei 2025, sebanyak 94 warga terjangkit DBD, dan dua di antaranya dinyatakan meninggal dunia. Temuan ini memunculkan kekhawatiran serius, mengingat potensi penyebaran penyakit bisa meningkat jika tidak segera diatasi.

Persebaran kasus tidak merata, namun menyentuh seluruh delapan kecamatan yang ada di kota ini. Masing-masing wilayah menunjukkan tren peningkatan yang memerlukan perhatian ekstra dari pemerintah daerah dan masyarakat.

Persebaran Kasus DBD di Tiap Kecamatan

Irma merinci data sebaran kasus DBD di tiap kecamatan sebagai berikut:

Kecamatan Siantar Marihat: 12 kasus

Kecamatan Siantar Marimbun: 16 kasus

Kecamatan Siantar Selatan: 6 kasus

Kecamatan Siantar Barat: 8 kasus dan 1 meninggal

Kecamatan Siantar Utara: 8 kasus

Kecamatan Siantar Timur: 10 kasus

Kecamatan Siantar Martoba: 19 kasus dan 1 meninggal

Kecamatan Siantar Sitalasari: 15 kasus

Irma mengungkapkan dari data tersebut, terlihat Kecamatan Siantar Martoba mencatat jumlah kasus tertinggi, yakni 19 orang, dan satu di antaranya meninggal dunia. Sedangkan kematian kedua tercatat di Kecamatan Siantar Barat.

“Fakta ini menunjukkan bahwa dua kecamatan tersebut menjadi episentrum penyebaran DBD saat ini,” tutur Irma.

Langkah Cepat Dinas Kesehatan: Dari Fogging hingga Edukasi

Menanggapi situasi ini, Irma menyampaikan bahwa Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar tidak tinggal diam. Sejumlah langkah cepat dan sistematis tengah dilakukan untuk menekan angka penyebaran virus dengue yang dibawa oleh nyamuk Aedes aegypti.

1. Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN)

Langkah pertama yang kembali digencarkan adalah Gerakan Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN). Irma menegaskan pentingnya menghilangkan habitat nyamuk dari rumah dan lingkungan warga.

“Yang paling penting adalah jangan biarkan jentik nyamuk berkembang. Kita harus mulai dari rumah masing-masing,” tekan Irma.

Warga diminta rutin melakukan 3M Plus:

Menguras tempat penampungan air, Menutup rapat tempat penampungan air, dan Mendaur ulang barang bekas yang berpotensi menjadi sarang nyamuk, serta ditambah tindakan pencegahan lain seperti penggunaan lotion anti-nyamuk.

2. Fogging Fokus pada Wilayah Terdampak

Dinkes juga telah mengerahkan tim untuk melakukan fogging (pengasapan) di daerah-daerah yang terdapat kasus positif DBD. Namun, Irma mengingatkan bahwa fogging bukan solusi utama karena hanya membunuh nyamuk dewasa, sementara jentik nyamuk di air tetap bisa berkembang. Oleh karena itu, fogging hanya dilakukan secara fokus, bukan menyeluruh.

“Fogging dilakukan hanya di titik yang terbukti terdapat kasus DBD. Tapi tetap, pemberantasan sarang nyamuk jauh lebih penting dan efektif dalam jangka panjang,” sebut Irma.

3. Kampanye Hidup Bersih dan Sehat

Selain itu, pemerintah daerah menggencarkan edukasi dan sosialisasi kepada masyarakat untuk menerapkan perilaku hidup bersih dan sehat. Lingkungan bersih akan memutus mata rantai nyamuk pembawa virus dengue berkembang biak. Edukasi dilakukan melalui kader posyandu, kelurahan, dan media sosial.

Irma juga mendorong keterlibatan aktif dari RT, RW, dan masyarakat dalam memastikan lingkungan sekitar bebas dari genangan air yang menjadi tempat ideal bagi jentik nyamuk tumbuh.

Penanganan Medis: Ringan Bisa Sembuh di Rumah, Berat Harus ke RS

Selain tindakan pencegahan, Irma juga menjelaskan bagaimana penanganan medis terhadap penderita DBD dilakukan berdasarkan tingkat keparahan.

“Untuk kasus ringan, pasien bisa dirawat di rumah dengan istirahat total, pemberian cairan sebanyak mungkin, serta pemantauan suhu tubuh. Konsumsi cairan, baik berupa air putih, jus buah, maupun oralit, sangat penting untuk mencegah dehidrasi dan mempercepat pemulihan,” ungkap Irma.

Namun, untuk kasus berat, di mana penderita menunjukkan gejala seperti penurunan trombosit yang drastis, muntah terus-menerus, atau tanda-tanda syok, maka harus segera dirujuk ke rumah sakit.

“Jangan tunda kalau gejalanya memburuk. DBD bisa berakibat fatal jika tidak ditangani dengan cepat dan tepat,” seru Irma.

Warga Diimbau Tidak Panik, Tapi Waspada

Meski angka kasus tergolong tinggi, Dinas Kesehatan meminta masyarakat untuk tidak panik. Irma menekankan bahwa DBD adalah penyakit yang bisa dicegah dan dikendalikan asal semua pihak berperan aktif.

“Tidak perlu panik, tapi jangan anggap remeh. Kalau ada gejala seperti demam tinggi mendadak, nyeri otot, bintik merah di kulit, segeralah periksakan diri ke fasilitas kesehatan terdekat,” jelasnya.

Pentingnya Keterlibatan Semua Pihak

Wabah DBD di Pematangsiantar menjadi pengingat penting bahwa kesehatan lingkungan adalah tanggung jawab bersama. Pemerintah daerah melalui Dinkes sudah bergerak, namun peran masyarakat sangat krusial.

“Kesadaran kolektif untuk menjaga kebersihan lingkungan, memantau jentik, dan mengedukasi sesama menjadi benteng terkuat dalam mencegah DBD merebak lebih luas. Terlebih, kondisi cuaca yang fluktuatif saat ini menjadi lingkungan ideal bagi nyamuk pembawa virus untuk berkembang biak,” papar Irma.

Saatnya Bergerak Bersama

Irma mengungkapkan lonjakan kasus DBD di Pematangsiantar bukan sekadar statistik. Dua nyawa telah melayang, dan puluhan lainnya masih berjuang untuk sembuh. Ini adalah peringatan nyata bagi seluruh warga kota untuk lebih waspada dan peduli terhadap lingkungan.

“Kini, saatnya semua pihak, mulai dari rumah tangga, sekolah, kantor, hingga pemerintah daerah, bersatu dalam satu gerakan: membasmi nyamuk dan menghentikan rantai penyebaran DBD. Karena satu genangan air kecil bisa menjadi awal dari tragedi besar,” pungkas Irma. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *