google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Wayang Kulit di Jantung Kota Malang, Refleksi Pancasila Lewat Budaya

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Malam di pusat Kota Malang berubah menjadi panggung kebudayaan yang sarat makna. Ratusan warga tumpah ruah di Jalan Trunojoyo, tepat di depan Stasiun Kota Baru, untuk menyaksikan Pagelaran Wayang Kulit dalam rangka memperingati Hari Kesaktian Pancasila, Jumat malam (3/10/2025).

Di tengah sorotan lampu dan iringan gamelan yang mengalun lembut, suasana terasa khidmat dan sakral. Aroma tembakau dan kopi dari para penonton berpadu dengan suara kendang, gong, dan saron yang menghentak ritmis. Dari kejauhan, panggung yang berdiri megah dengan layar kelir berwarna putih menjadi pusat perhatian masyarakat yang memenuhi area hingga trotoar.

Dalang Hakim Agung, Wayang Jadi Sarana Refleksi Nilai Pancasila

Pagelaran dimulai tepat pukul 19.00 WIB. Yang membuat acara ini istimewa bukan hanya karena digelar di ruang publik terbuka, tetapi juga karena dalang utama berasal dari jajaran Hakim Agung Republik Indonesia. Sosok yang biasanya identik dengan toga dan palu sidang, malam itu tampil di balik kelir, memerankan tokoh-tokoh pewayangan dengan penuh penghayatan.

Pertunjukan berlangsung dengan alur cerita yang menggambarkan perjuangan, kejujuran, dan pengorbanan nilai-nilai yang merefleksikan semangat Pancasila dalam kehidupan berbangsa. Setiap dialog tokoh dalam wayang mengandung pesan moral yang relevan dengan kondisi masyarakat masa kini: tentang keadilan, persatuan, serta pentingnya menjaga nurani dalam setiap keputusan.

Pagelaran ini tidak sekadar menjadi hiburan, melainkan juga ruang refleksi bersama. Di tengah arus modernisasi dan digitalisasi yang kian deras, wayang kulit hadir sebagai pengingat bahwa kebijaksanaan leluhur masih menjadi sumber nilai yang menuntun bangsa Indonesia untuk tetap berdiri kokoh.

Kehadiran Ketua Mahkamah Agung dan Wali Kota Malang

Kehadiran tokoh-tokoh penting di acara tersebut menambah kesan mendalam. Di antara deretan tamu undangan tampak Ketua Mahkamah Agung RI, Prof. Dr. Sunarto, S.H., M.H., duduk berdampingan dengan Wali Kota Malang, Dr. Ir. H. Wahyu Hidayat, M.M., serta sejumlah pejabat publik dari Malang Raya.

Dalam sambutannya, Ketua Mahkamah Agung RI, Prof. Dr. Sunarto, S.H., M.H mengapresiasi langkah Pemkot Malang dalam menghadirkan pagelaran budaya di tengah hiruk-pikuk kota. Ia menilai bahwa wayang kulit bukan sekadar tontonan, tetapi juga tuntunan moral yang diwariskan dari generasi ke generasi.

“Wayang kulit bukan hanya tontonan, tapi juga tuntunan. Di dalamnya tersimpan nilai-nilai moral, spiritual, dan kebijaksanaan yang sangat relevan untuk membentuk karakter bangsa. Kami bangga melihat generasi muda yang masih mencintai dan melestarikan budaya bangsanya,” ucap Sunarto disambut tepuk tangan hangat dari penonton.

Wali Kota Malang, Wahyu Hidayat, menambahkan pagelaran ini menjadi momentum untuk merenungkan kembali makna Pancasila sebagai dasar kehidupan berbangsa. Ia menilai bahwa budaya adalah jembatan paling efektif untuk menanamkan nilai-nilai luhur tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

“Hari Kesaktian Pancasila bukan hanya peringatan sejarah, tapi juga refleksi kolektif atas nilai-nilai luhur bangsa. Dalam konteks kebudayaan, wayang kulit adalah salah satu simbol tradisi yang tak lekang oleh waktu. Pemerintah Kota Malang berkomitmen menjaga dan melestarikan seni tradisional sebagai bagian dari jati diri kota,” ungkap Wahyu.

Malam Penuh Makna di Kota Bunga

Wahyu membeberkan antusiasme masyarakat terlihat begitu tinggi. Dari anak-anak hingga lansia, semuanya duduk beralaskan tikar dan kursi lipat menikmati jalannya pertunjukan hingga larut malam. Tak sedikit warga yang sengaja datang dari luar kota untuk menyaksikan pergelaran budaya yang langka di ruang publik modern seperti ini.

Cerita wayang malam itu bukan sekadar kisah klasik tentang Pandawa dan Kurawa, tetapi juga simbol pertempuran nilai-nilai kebaikan dan keburukan yang terus hidup di tengah masyarakat.

“Setiap babak mengajarkan penonton tentang pentingnya kejujuran, kesetiaan, dan tanggung jawab sosial esensi dari ajaran Pancasila yang dijabarkan dalam bentuk kesenian,” terang Wahyu.

Salah satu warga yang hadir, Elang mengaku terharu melihat para pejabat tinggi ikut turun langsung menyaksikan dan mendukung kegiatan budaya tradisional.

“Bangga banget, Kota Malang bukan cuma mikirin pembangunan fisik tapi juga budaya. Wayang ini ngingetin kita supaya nggak lupa jati diri,” kata Bambang, warga Kelurahan Klojen.

Kota Malang: Maju, Berbudaya, dan Berkarakter

Wahyu membeberkan pagelaran Wayang Kulit dalam rangka Hari Kesaktian Pancasila ini menjadi bukti nyata bahwa Kota Malang bukan hanya pusat pendidikan dan pariwisata, tetapi juga kota yang peduli terhadap pelestarian budaya dan karakter bangsa. Pemerintah daerah bersama masyarakat menunjukkan sinergi kuat antara kemajuan modern dan akar tradisi.

“Melalui kegiatan seperti ini, nilai-nilai Pancasila, keadilan, dan gotong royong tak sekadar diajarkan di ruang kelas, tetapi dihidupkan di tengah masyarakat lewat seni pertunjukan. Malam itu, langit Malang menjadi saksi bagaimana sebuah kota yang terus berlari menuju modernitas tetap menapak kuat pada akar budayanya. Di balik denting gamelan dan bayangan wayang di atas kelir, pesan luhur itu bergaung Pancasila hidup bukan hanya di teks, tapi di hati dan karya bangsa,” pungkas Wahyu. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *