Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Dalam Idjen Talk, Alfi Nurhidayat Tekankan Sekolah Tanpa Bullying

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com — Kepala Dinas Pendidikan (Disdik) Kota Batu, Alfi Nurhidayat, menegaskan komitmen Pemerintah Kota Batu dalam mencegah dan menghapus praktik perundungan di lingkungan pendidikan, khususnya di Sekolah Rakyat Menengah Pertama (SRMP) 14 Batu. Penegasan tersebut disampaikan dalam Idjen Talk yang digelar oleh Malang Post bersama Kepala SRMP 14 Batu, Yulianah, yang membahas upaya mewujudkan sekolah rakyat berbasis pencegahan perundungan.

Dalam diskusi tersebut, Yulianah memaparkan perkembangan SRMP 14 Batu sejak diluncurkan pada 14 Juli 2025. Hingga kini, sekolah yang masuk tahap 1A dalam program Sekolah Rakyat itu telah berjalan selama tujuh bulan dan menunjukkan perubahan signifikan, baik dari sisi karakter, kesehatan, maupun proses pembelajaran peserta didik.

“Anak-anak kami berasal dari berbagai daerah, mulai Malang Raya, Kota Kediri, Jombang, Kasembon, Nganjuk, Pujon, hingga Kota Batu. Dari keberagaman ini, perubahan paling terlihat adalah penguatan karakter spiritual,” kata Yulianah.

Ia menjelaskan, peningkatan karakter spiritual menjadi program wajib di SRMP 14 Batu. Anak-anak yang sebelumnya belum terbiasa menjalankan ibadah, kini mulai tertib menjalankan ibadah wajib maupun sunah. Selain itu, aspek kesehatan juga menjadi perhatian utama dengan pemberian tiga kali makan dan dua kali camilan setiap hari yang disesuaikan dengan kebutuhan gizi.

“Setiap minggu dilakukan penimbangan berat badan dan pengukuran tinggi badan. Anak-anak yang sebelumnya kurus kini mulai menunjukkan peningkatan kondisi fisik,” ujarnya.

Dari sisi kesehatan, SRMP 14 Batu bekerja sama dengan Puskesmas Batu untuk pemantauan rutin. Berbagai masalah kesehatan seperti gigi, kulit, dan mata yang sebelumnya banyak dialami siswa kini mulai teratasi melalui kontrol berkala.

Sementara itu, fasilitas pendidikan di SRMP 14 Batu juga terus dilengkapi. Setiap siswa mendapatkan perlengkapan sekolah lengkap, delapan set seragam, sepatu, tas, alat tulis, hingga laptop pribadi untuk menunjang pembelajaran berbasis digital. Proses belajar di kelas pun didukung dengan smartboard.

“Dengan fasilitas yang memadai, motivasi belajar anak-anak meningkat. Mereka tinggal 24 jam bersama guru, wali asrama, dan pendamping,” jelas Yulianah.

Terkait pencegahan perundungan, Yulianah menjelaskan bahwa pihak sekolah menerapkan tiga langkah utama, yakni edukasi, pencegahan, dan pendampingan. Sekolah menggandeng berbagai pihak eksternal seperti Dinas Sosial, Dinas Kesehatan, TNI-Polri, perguruan tinggi, hingga Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) untuk memantau kondisi psikologis siswa.

“Selain itu, SRMP 14 Batu meluncurkan program internal SERAPA BADIS, yakni sistem pendampingan bagi siswa yang masuk kategori rentan mengalami perundungan. Program ini memetakan kerentanan siswa dan melibatkan teman sebaya sebagai pendamping penguat,” sebutnya.

“Kami juga menyediakan kotak curhat OSIS yang dibuka rutin bersama guru BK. Anak-anak bisa menyampaikan keluhan tanpa mencantumkan identitas,” terang dia.

Menanggapi hal tersebut, Kepala Disdik Kota Batu Alfi Nurhidayat menyampaikan apresiasi atas upaya SRMP 14 Batu dalam membangun sistem pencegahan perundungan yang komprehensif.

“Apa yang dilakukan SRMP 14 Batu ini luar biasa. Upaya mitigasi perundungan dilakukan secara serius dan melibatkan banyak pihak,” kata Alfi.

Menurut Alfi, potensi perundungan selalu ada, terutama di sekolah berasrama yang memiliki interaksi 24 jam. Karena itu, pencegahan harus melibatkan seluruh pihak, mulai dari pemerintah, sekolah, siswa, hingga orang tua.

“Kami tegaskan, Pemerintah Kota Batu tidak pernah main-main soal perundungan. Jika terjadi, akan ada langkah tegas dan terukur,” ujarnya.

Alfi menekankan bahwa kasus perundungan yang pernah terjadi di Kota Batu hingga menimbulkan korban jiwa harus menjadi pelajaran terakhir. Pemerintah, kata dia, berkomitmen memastikan kejadian serupa tidak terulang.

“Sekolah Rakyat ini menampung anak-anak dengan latar belakang sosial dan ekonomi yang beragam. Pendekatan hati dan ketulusan pendidik menjadi kunci utama,” jelas mantan kepala DPUPR Kota Batu itu.

Ia berharap, pola perlindungan berbasis empati, komunikasi, dan pendampingan yang diterapkan di SRMP 14 Batu dapat menjadi contoh bagi sekolah lain di Kota Batu.

“Tujuan kita jelas, tidak ada lagi perundungan di Kota Batu. Ini tanggung jawab bersama,” tegas alumnus kampus luar negeri itu.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *