google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Patar: Organisasi Harus Berdampak Nyata Bagi Masyarakat Pematangsiantar

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Pematangsiantar, iKoneksi.com – Penasehat Perhimpunan Sarjana dan Profesional Kesehatan Masyarakat Indonesia (PERSAKMI) Kota Pematangsiantar, Patar Luhut Panjaitan, SKM, MPH, menegaskan pentingnya kolaborasi lintas sektor dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS) sebagai fondasi pembangunan kesehatan daerah.

Penegasan itu disampaikan Patar dalam pertemuan pengurus dan anggota PERSAKMI di Aula Dinas Kesehatan Kota Pematangsiantar, Rabu (28/1/2026). Pertemuan berlangsung dialogis dan reflektif, dihadiri anggota dari berbagai latar belakang profesi kesehatan masyarakat.

Dalam arahannya, Patar menekankan pembangunan kesehatan tidak dapat diserahkan hanya kepada pemerintah atau fasilitas layanan medis. Menurutnya, persoalan kesehatan masyarakat harus dianalisis secara komprehensif dengan pendekatan orang, waktu, dan tempat.

“Ilmu kesehatan masyarakat mengajarkan kita berpikir sistematis. Siapa yang terdampak, kapan terjadi, dan di mana lokasinya. Kalau salah membaca konteks, kebijakan bisa meleset,” ucapnya.

Ia menilai, banyak program kesehatan gagal bukan semata karena keterbatasan anggaran, melainkan lemahnya analisis sosial dan lingkungan. Karena itu, organisasi profesi seperti PERSAKMI harus mampu menjadi mitra strategis pemerintah daerah dalam menyusun kebijakan berbasis data.

Patar juga menyoroti pentingnya kekompakan internal organisasi. Menurutnya, PERSAKMI tidak boleh berhenti pada kegiatan seremonial, tetapi harus menghadirkan manfaat nyata bagi masyarakat.

“Organisasi harus kompak dan bergerak. Hal kecil yang dilakukan konsisten bisa berdampak besar,” sebut dia.

Ia mengajak seluruh anggota untuk menumbuhkan kecintaan terhadap Kota Pematangsiantar sebagai ruang pengabdian. Kontribusi, lanjutnya, tidak selalu harus dalam skala besar, tetapi harus konsisten dan terukur.

Selain itu, Patar mendorong peningkatan kapasitas sumber daya manusia melalui budaya membaca dan memahami regulasi. Ia menilai tenaga kesehatan masyarakat memiliki tanggung jawab moral untuk terus memperbarui wawasan, baik dari literatur ilmiah maupun kebijakan pemerintah.

“Luangkan waktu membaca setiap hari. Ilmu di bangku kuliah tidak pernah cukup. Kita harus terus belajar agar mampu memberi solusi,” terangnya.

Dalam konteks pembangunan daerah, Patar menegaskan tantangan terbesar saat ini bukan hanya ketersediaan fasilitas kesehatan, melainkan perubahan perilaku masyarakat. Ia mencontohkan persoalan sanitasi, pengelolaan sampah, hingga kebiasaan hidup sehari-hari yang masih menjadi pekerjaan rumah.

“Sebagus apa pun rumah sakit, kalau perilaku masyarakat tidak berubah, derajat kesehatan tidak akan meningkat signifikan,” tegasnya.

Karena itu, ia mendorong kolaborasi erat antara organisasi profesi, pemerintah kota, DPRD, akademisi, serta masyarakat. Menurutnya, isu kesehatan merupakan tanggung jawab bersama.

“Kata kuncinya kolaborasi. Tidak bisa berjalan sendiri-sendiri,” ungkap dia.

Ia menambahkan, PERSAKMI memiliki posisi strategis sebagai jembatan antara ilmu pengetahuan dan kebijakan publik. Dengan kapasitas akademik dan pengalaman lapangan, organisasi tersebut diharapkan mampu memberi masukan berbasis analisis kepada pemerintah daerah.

Menutup arahannya, Patar kembali menegaskan bahwa tujuan utama profesi kesehatan masyarakat adalah meningkatkan derajat kesehatan warga secara berkelanjutan.

“Ilmu dan jabatan harus memberi manfaat. Kalau tidak, tidak ada artinya,” seru dia.

“Pertemuan tersebut menjadi momentum penguatan komitmen internal PERSAKMI Pematangsiantar untuk lebih aktif berkontribusi dalam pembangunan kesehatan berbasis kolaborasi dan perubahan perilaku masyarakat,” tutup Patar

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *