google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Ketua PGI Kabupaten Malang Apresiasi Doa Bersama Gus Iqdam di Malang

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Ribuan jamaah memadati Stadion Gajayana, Kota Malang, Selasa (2/6/2026) malam. Mereka hadir mengikuti doa bersama yang menghadirkan pendakwah muda Gus Iqdam dalam rangka peringatan Hari Bhayangkari sekaligus mengenang dan mendoakan para korban Tragedi Kanjuruhan.

Suasana stadion dipenuhi nuansa religius dan haru. Lantunan doa yang dipanjatkan bersama menjadi bentuk penghormatan kepada ratusan korban yang meninggal dunia dalam tragedi kemanusiaan yang hingga kini masih membekas di hati masyarakat Malang.

Kegiatan tersebut juga dihadiri sejumlah tokoh daerah. Ketua Persatuan Golf Indonesia (PGI) Kabupaten Malang, Aditya Eka Putra, turut mendampingi Wakil Bupati Malang, Lathifah Shohib, dalam penyambutan Gus Iqdam sebelum acara dimulai.

Aditya menilai kegiatan doa bersama tersebut memiliki makna yang sangat mendalam bagi masyarakat Malang. Menurutnya, selain menjadi bagian dari peringatan Hari Bhayangkari, acara itu juga menjadi bentuk kepedulian dan penghormatan kepada para korban Tragedi Kanjuruhan yang sebagian besar berasal dari kalangan generasi muda.

Ia mengapresiasi inisiatif Kapolresta Malang Kota, Kombes Pol Putu Kholis Aryana, yang dinilai menghadirkan ruang refleksi sekaligus penguatan nilai kemanusiaan bagi masyarakat.

“Ini merupakan bentuk kepedulian yang luar biasa. Sebagai generasi muda yang berkecimpung di dunia olahraga, kami sangat mengapresiasi kegiatan yang mengedepankan nilai kemanusiaan dan kebersamaan seperti ini,” ujar Aditya.

Kehadiran Gus Iqdam menjadi magnet utama yang menarik ribuan jamaah dari berbagai daerah. Sosok pendakwah yang dikenal dekat dengan kalangan muda itu dinilai mampu menyampaikan pesan keagamaan dengan bahasa sederhana, ringan, dan mudah diterima oleh berbagai lapisan masyarakat.

Sepanjang acara, jamaah tampak khusyuk mengikuti rangkaian doa dan tausiah. Momen tersebut menjadi pengingat bahwa Tragedi Kanjuruhan bukan hanya catatan kelam dalam dunia sepak bola Indonesia, tetapi juga luka bersama yang membutuhkan kepedulian dan pembelajaran dari seluruh elemen masyarakat.

Aditya berharap seluruh doa yang dipanjatkan dapat menjadi amal kebaikan bagi para korban yang telah berpulang serta memberikan ketenangan bagi keluarga yang masih merasakan kehilangan hingga saat ini.

Menurutnya, tragedi tersebut harus menjadi pelajaran penting agar kecintaan terhadap olahraga tidak berubah menjadi fanatisme yang merugikan diri sendiri maupun orang lain.

“Pesan yang disampaikan Gus Iqdam malam ini sangat relevan. Fanatisme boleh ada, tetapi jangan sampai menimbulkan mudarat. Semoga kejadian yang pernah terjadi menjadi pembelajaran bersama agar ke depan seluruh elemen masyarakat semakin mengedepankan keselamatan, persaudaraan, dan rasa saling menghormati,” katanya.

“Melalui kegiatan doa bersama tersebut, masyarakat Malang menunjukkan semangat kebersamaan dan solidaritas masih terus hidup. Stadion Gajayana yang biasanya menjadi arena olahraga malam itu berubah menjadi ruang refleksi, doa, dan harapan agar tragedi serupa tidak pernah terulang kembali di masa mendatang,” tutup dia

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *