google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Saat Piala Dunia Menyatukan Orang-Orang di Depan Layar yang Sama

  • Bagikan
banner 468x60

Euforia FIFA World Cup kembali terasa di berbagai kota. Kafe, warung kopi, hingga ruang publik dipenuhi masyarakat yang menggelar acara nonton bareng atau nobar pertandingan sepak bola. Namun di balik ramainya layar pertandingan, fenomena nobar kini tidak lagi sekadar tentang memahami jalannya permainan di lapangan, melainkan telah berkembang menjadi ruang sosial dan bagian dari gaya hidup masyarakat, khususnya anak muda.

Sepak bola sendiri masih menjadi olahraga paling populer di dunia. Federasi Sepak Bola Dunia FIFA dalam laporan The Football Landscape menyebut terdapat sekitar lima miliar penggemar sepak bola secara global. Popularitas tersebut juga terlihat di Indonesia. Survei Jakpat 2024 terhadap 2.103 responden menunjukkan sepak bola menjadi acara olahraga yang paling banyak ditonton masyarakat, dengan angka mencapai 74 persen penonton olahraga pernah menyaksikan pertandingan sepak bola.

Fenomena tersebut terlihat dari semakin banyaknya masyarakat yang datang ke acara nobar meski tidak seluruhnya memahami pertandingan secara mendalam. Sebagian hadir karena ingin merasakan suasana ramai, berkumpul bersama teman, hingga mengikuti tren yang sedang berlangsung di media sosial. Jersey klub sepak bola pun kini semakin sering digunakan dalam aktivitas sehari-hari, tidak hanya ketika pertandingan berlangsung.

Budaya nobar mulai berkembang pesat di Indonesia sejak era Piala Dunia 2002 ketika akses siaran pertandingan semakin mudah dijangkau masyarakat. Seiring berkembangnya media sosial, budaya tersebut semakin meluas. Momen selebrasi gol, chant suporter, hingga reaksi penonton kini dengan cepat menyebar melalui TikTok, Instagram, dan X. Akibatnya, pengalaman menonton sepak bola tidak lagi hanya terjadi di stadion atau televisi rumah, tetapi juga menjadi bagian dari budaya digital masyarakat.

Fenomena ini juga berdampak pada sektor ekonomi kecil. Ramainya kegiatan nobar membuat banyak pelaku usaha kuliner dan kafe memanfaatkan pertandingan sepak bola untuk menarik pengunjung. Kepala Kajian Iklim Usaha dan Rantai Nilai Global LPEM FEB UI, Mohamad Dian Revindo, menyebut kegiatan olahraga berskala besar mampu menciptakan perputaran ekonomi pada sektor makanan, hiburan, hingga usaha mikro di sekitar lokasi kegiatan.

Di sisi lain, budaya nobar memperlihatkan bagaimana sepak bola mampu menciptakan ruang kebersamaan di tengah kehidupan perkotaan yang semakin individual. Bagi sebagian anak muda, acara nobar menjadi tempat untuk membangun relasi, mencari komunitas, hingga melepas penat dari rutinitas sehari-hari. Tidak sedikit pula masyarakat yang merasa lebih menikmati atmosfer pertandingan ketika ditonton bersama dibanding sendirian.

Fenomena tersebut menunjukkan bahwa sepak bola kini telah berkembang menjadi bagian dari budaya populer masyarakat. Pertandingan mungkin hanya berlangsung selama 90 menit, tetapi kebersamaan dan identitas sosial yang terbentuk melalui budaya nobar terus hidup jauh setelah peluit akhir dibunyikan.

Source: FIFA The Football Landscape 2021; Survei Jakpat 2024; Nielsen Sports 2024

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *