google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Qintharra Yassifa: Era Digital Bukan untuk Penonton, Pemuda Mojokerto Harus Jadi Pencipta Peluang

  • Bagikan
Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Qintharra U. Yassifa, dalam forum RedTalk memperingati Bulan Bung Karno yang digelar PAC PDI Perjuangan Prajuritkulon di 38Street Mojokerto, Sabtu (27/6/2026)
banner 468x60
Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Qintharra U. Yassifa, dalam forum RedTalk memperingati Bulan Bung Karno yang digelar PAC PDI Perjuangan Prajuritkulon di 38Street Mojokerto, Sabtu (27/6/2026)(Aisyah Dyah Novayanti Suep/iKoneksi.com)

Kota Mojokerto, iKoneksi.com – Pemuda Mojokerto diminta tidak hanya menjadi pengguna teknologi, tetapi juga memanfaatkan era digital untuk menciptakan peluang usaha, membangun personal branding, dan meningkatkan daya saing. Pesan itu disampaikan Wakil Ketua Bidang Ekonomi Kreatif dan Ekonomi Digital DPD PDI Perjuangan Jawa Timur, Qintharra U. Yassifa, dalam forum RedTalk memperingati Bulan Bung Karno yang digelar PAC PDI Perjuangan Prajuritkulon di 38Street Mojokerto, Sabtu (27/6/2026) malam.

Dalam paparannya bertajuk “Level Up di Era Digital: Pemuda Kreatif, Inovatif, dan Berdaya Saing”, Qintharra menyoroti besarnya peluang yang terbuka bagi generasi muda di tengah transformasi digital yang mengubah cara masyarakat bekerja, berbisnis, hingga berinteraksi.

Menurutnya, perubahan teknologi saat ini bukan lagi sesuatu yang akan terjadi di masa depan, melainkan sedang berlangsung dan harus dimanfaatkan oleh generasi muda.

“Sekarang kita tidak bisa membayangkan bahwa 10 tahun lalu transfer uang harus ke bank, jualan harus punya toko besar, dan modal usaha harus besar. Hari ini semuanya bisa dilakukan hanya melalui telepon genggam. Ini adalah keniscayaan transformasi yang tidak bisa kita pungkiri. Pertanyaannya sekarang, apakah kita hanya mau menjadi penonton atau ikut menjadi arsitek masa depan di era digital ini?” ujar Qintharra di hadapan peserta.

Ia menjelaskan bahwa bonus demografi yang sedang dialami Indonesia menjadi momentum penting yang tidak boleh disia-siakan. Sebab, mayoritas penduduk saat ini berada pada usia produktif yang dapat menjadi kekuatan besar bagi pertumbuhan ekonomi jika mampu memanfaatkan peluang dengan baik.

“Bonus demografi adalah kesempatan emas. Kalau dimanfaatkan dengan baik, Indonesia bisa melompat menjadi negara yang lebih maju. Tetapi kalau tidak dimanfaatkan, justru akan menjadi beban karena banyaknya pengangguran. Karena itu anak muda harus berani menciptakan peluang, membangun usaha, dan menghasilkan karya,” katanya.

Qintharra juga menyoroti potensi UMKM di Mojokerto yang menurutnya sangat besar untuk dikembangkan melalui teknologi digital. Ia menyebut sektor kuliner, fesyen, dan kriya sebagai tiga bidang yang memiliki peluang luas bagi anak muda.

“Sekarang tidak perlu punya toko besar untuk memulai usaha. Produk bisa dipasarkan melalui marketplace, media sosial, bahkan hanya dengan modal telepon genggam, kreativitas, dan keberanian. Digital marketing, online business, content creator, desain grafis, editing video, semuanya adalah peluang yang terbuka lebar. Dulu mungkin dianggap sekadar hobi, tetapi hari ini menjadi profesi yang bernilai ekonomi tinggi,” jelasnya.

Sebagai pengusaha muda yang membangun perusahaan arsitektur setelah kembali dari Inggris, Qintharra mengaku kesuksesan yang diraih saat ini tidak datang secara instan. Ia pernah mengalami penolakan, kehilangan uang, hingga menghadapi keluhan klien. Namun, pengalaman tersebut justru menjadi bahan evaluasi untuk berkembang.

“Saya pernah ditipu, pernah kehilangan uang, pernah menerima komplain dari klien. Tetapi itu tidak membuat saya berhenti. Setiap kesalahan saya jadikan evaluasi untuk bergerak lebih baik. Kuncinya adalah konsisten, punya daya tahan, dan terus belajar. Anak muda jangan takut gagal karena kegagalan itu bagian dari proses untuk naik level,” ungkapnya.

Selain kemampuan teknis, Qintharra menilai personal branding menjadi salah satu modal penting bagi generasi muda di era digital. Menurutnya, media sosial dapat digunakan sebagai sarana membangun reputasi dan menunjukkan kemampuan yang dimiliki.

“Bangun personal branding yang baik, tunjukkan nilai yang kalian miliki, dan fokus pada kemampuan terbaik yang kalian punya. Hari ini orang tidak cukup hanya pandai berbicara, tetapi juga harus menunjukkan karya dan kompetensinya. Media sosial bisa menjadi alat untuk memperkenalkan kemampuan kita kepada dunia,” terang ketua BPC HIPMI Kabupaten Malang itu

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa era digital juga membawa tantangan berupa penyebaran hoaks, kebiasaan doom scrolling, dan rasa tidak percaya diri akibat perbandingan sosial di media digital.

“Hoaks, doom scrolling, dan insecurity adalah tantangan besar generasi muda saat ini. Karena itu kita harus bijak menggunakan teknologi. Jangan sampai teknologi yang seharusnya membantu kita berkembang justru membuat kita kehilangan arah dan produktivitas,” pungkas Qintharra.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *