Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

AJI Malang Kecam Brutalitas Polisi hingga Tewaskan Ojek Daring

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Gelombang kecaman keras mengalir deras usai insiden kekerasan aparat kepolisian terhadap peserta demonstrasi di Gedung DPR Jakarta, Kamis (28/8/2025), yang berujung tewasnya seorang pengemudi ojek daring bernama Affan Kurniawan. Tragedi ini tidak hanya menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban, tetapi juga memunculkan kemarahan publik yang menilai aparat bertindak sewenang-wenang.

Salah satu suara lantang datang dari Aliansi Jurnalis Independen (AJI) Malang. Organisasi profesi jurnalis ini menilai tindakan aparat dalam mengamankan aksi sudah jauh melampaui batas kemanusiaan.

Kecaman Keras AJI Malang

Ketua AJI Malang, Benni Indo, menegaskan  pihaknya mengutuk keras kekerasan yang dilakukan polisi, apalagi hingga merenggut nyawa anak muda yang hanya mencari nafkah sebagai pengemudi ojek daring.

“Kami mengutuk tindakan brutal polisi, termasuk yang mengakibatkan nyawa Affan hilang. Kami juga turut berduka atas peristiwa itu,” tegas Benni dalam rilis resminya, Jumat (29/8/2025).

Ia menambahkan, aparat kepolisian semestinya menjalankan tugas sebagai pelindung masyarakat, bukan justru bertindak represif hingga menimbulkan korban jiwa.

“Polisi tidak manusiawi. Mereka harusnya ingat bahwa tugasnya adalah melindungi, bukan memukuli apalagi membunuh,” lugasnya.

Desakan Usut Tuntas

Benni menekankan bahwa kasus ini tidak boleh berhenti pada permintaan maaf dan pemberian santunan semata. Menurutnya, keluarga korban berhak memperoleh keadilan yang nyata, bukan sekadar formalitas.

“Permintaan maaf hanya terkesan seremonial. Penindakan hukum yang jelas dan tegas harus ditunjukan kepada anggota polisi yang melakukan kekerasan, termasuk yang melindas Affan Kurniawan,” ujarnya.

AJI Malang mendesak kepolisian dan lembaga berwenang untuk mengusut tuntas siapa saja yang bertanggung jawab dalam tragedi tersebut, serta memastikan adanya proses hukum yang transparan.

Kekerasan terhadap Jurnalis

Tak hanya soal korban sipil, AJI Malang juga menyoroti adanya kekerasan terhadap jurnalis yang meliput aksi di Gedung DPR. Menurut Benni, pemukulan dan intimidasi terhadap jurnalis menunjukkan aparat gagal bekerja secara profesional.

“Kejadian berulang ini bukti bahwa polisi tidak bisa kerja profesional. Rakyat berhak demo dan berhak mendapatkan informasi yang benar. Maka memukuli jurnalis sama saja dengan memukuli hak rakyat,” tegasnya.

Tindakan represif terhadap jurnalis, lanjut Benni, dapat merusak kepercayaan publik terhadap aparat dan menghalangi transparansi informasi.

Maraknya Hoaks di Media Sosial

Selain masalah kekerasan, Sekretaris AJI Malang, Dendy Ganda Kusumah, menyoroti maraknya hoaks yang berseliweran di media sosial pasca demonstrasi. Salah satunya, narasi bohong yang menyebut ada korban meninggal dari pihak kepolisian.

Narasi tersebut beredar di sejumlah platform digital, mulai dari X (Twitter), Facebook, hingga Threads. Setelah diverifikasi, kabar itu terbukti tidak benar. Anggota Brimob yang disebut meninggal sebenarnya hanya mengalami luka.

“Nah, hoaks macam ini juga harus diwaspadai. Apa motifnya? Untuk menunjukkan bahwa mereka sama-sama korban? Atau ingin membenarkan tindak kekerasan aparat terhadap massa aksi?” tanya Dendy retoris.

Ia menegaskan pentingnya literasi digital di tengah masyarakat. “Semua informasi harus diverifikasi terlebih dulu. Saring sebelum sharing, itu prinsipnya,” pungkasnya.

Tuntutan Publik atas Keadilan

Kasus ini kembali menyoroti problem klasik penanganan demonstrasi di Indonesia: aparat yang kerap mengedepankan kekerasan dibandingkan pendekatan persuasif. Publik pun menanti langkah konkret dari institusi kepolisian, apakah benar-benar berani menindak anggotanya yang bersalah, atau justru berusaha menutupinya.

“Tragedi yang merenggut nyawa Affan Kurniawan menjadi pengingat keras bahwa tugas utama polisi adalah melindungi rakyat, bukan sebaliknya. AJI Malang bersama banyak pihak kini menuntut keadilan agar peristiwa serupa tak kembali terulang,” tandas Benni. (05/iKoneksi.com,)

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *