google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Alfi Nurhidayat Tegaskan DBD Bukan Lagi Urusan Dinkes, Kota Batu Siapkan Strategi 2026-2029

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Pemerintah Kota Batu mulai memperkuat langkah pengendalian demam berdarah dengue (DBD) melalui penerapan Rencana Aksi Nasional (RAN) Pengendalian Dengue 2026-2029. Strategi tersebut diarahkan bukan hanya untuk menekan kasus, tetapi juga mencegah kematian akibat dengue.

Hal itu mengemuka dalam forum RAN DBD 2026-2029 yang digelar Dinas Kesehatan Kota Batu di Samara Hotel, 6 Agustus 2026. Sekretaris Daerah Kota Batu, Alfi Nurhidayat, menegaskan pengendalian DBD harus menjadi agenda bersama seluruh sektor.

“Pengendalian dengue bukan hanya urusan Dinas Kesehatan. Ini isu prioritas daerah yang membutuhkan komitmen seluruh perangkat daerah, masyarakat, dunia usaha, hingga sektor pariwisata,” tegas Alfi.

Alfi Dorong Target Zero Dengue Deaths 2030

Alfi mengatakan Pemkot Batu mendukung penuh target nasional Zero Dengue Deaths 2030. Upaya itu dilakukan dengan menurunkan angka kesakitan sekaligus memperkuat sistem kesehatan daerah. Dalam pointer sambutannya, Alfi menekankan empat pilar utama pengendalian dengue, yakni deteksi dan diagnosis, tata laksana serta rujukan, pencegahan terintegrasi, dan sistem peringatan dini atau early warning system.  Menurut dia, penguatan deteksi dini diperlukan agar kasus dapat ditangani lebih cepat dan akurat. Sistem rujukan juga harus diperkuat untuk menekan risiko komplikasi dan kematian. Di sisi pencegahan, Pemkot Batu mendorong pengendalian vektor secara terintegrasi, inovasi, serta komunikasi risiko kepada masyarakat.

“Pencegahan harus dimulai dari masyarakat. Gerakan Satu Rumah Satu Jumantik dan PSN 3M Plus harus dilakukan secara berkelanjutan, bukan hanya ketika kasus meningkat,” ujar Alfi.

Empat Strategi DBD Kota Batu

Dalam pelaksanaan RAN 2026-2029 di Kota Batu, terdapat sejumlah strategi yang menjadi perhatian. Pertama, pencegahan dan pemberdayaan masyarakat melalui Gerakan 1 Rumah 1 Jumantik serta pemberantasan sarang nyamuk secara rutin, termasuk gerakan PSN setiap Jumat.

Kedua, surveilans dan kewaspadaan dini dengan memperkuat data dari puskesmas, desa dan sekolah. Ketiga, pengendalian vektor terintegrasi melalui fogging terukur, penggunaan larvasida serta inovasi pengendalian nyamuk.

Keempat, penanganan kasus dan kemitraan, dengan memastikan kesiapan rumah sakit, puskesmas serta dukungan lintas sektor. Alfi juga menekankan pentingnya integrasi data kasus, vektor, serotipe dan kondisi iklim agar respons terhadap potensi penyebaran dengue dapat dilakukan lebih cepat.

Camat dan Kepala Desa Diminta Jadikan DBD Indikator Kinerja

Alfi meminta seluruh camat dan kepala desa mengambil peran lebih aktif. Pengendalian DBD, kata dia, harus diterjemahkan menjadi aksi nyata hingga tingkat lingkungan.

“Saya titip kepada Bapak dan Ibu camat serta kepala desa, jadikan pengendalian DBD sebagai indikator kinerja. Mari kita lombakan desa dan kelurahan bebas jentik,” ucap dia.

Ia juga meminta dunia usaha, khususnya sektor pariwisata dan perhotelan, memastikan lingkungan usahanya terbebas dari tempat berkembang biaknya nyamuk.

“Wisatawan yang sehat adalah bagian dari Kota Batu yang maju,” tekan dia.

Alfi: Harus Ada Tiga Hasil Konkret

Alfi berharap forum tersebut tidak berhenti pada diskusi. Sedikitnya ada tiga hasil konkret yang harus diwujudkan. Pertama, komitmen bersama seluruh sektor, sehingga tidak ada lagi anggapan bahwa DBD hanya menjadi urusan Dinas Kesehatan.

Kedua, Rencana Aksi Daerah yang jelas, lengkap dengan target, anggaran dan penanggung jawab. Ketiga, sinergi nyata antara pemerintah, swasta, dunia usaha dan masyarakat. Alfi juga menegaskan pengendalian dengue membutuhkan keterlibatan seluruh perangkat daerah, termasuk sektor kesehatan, lingkungan hidup, pendidikan, perumahan, kecamatan, masyarakat, kader, swasta dan akademisi.

Sementara itu, Kepala Dinas Kesehatan Kota Batu Aditya Prasaja menjadi bagian penting dalam penguatan program pengendalian dengue di daerah. Melalui forum tersebut, Dinkes diharapkan mampu mengonsolidasikan seluruh pemangku kepentingan agar strategi pengendalian DBD berjalan terpadu dan berkelanjutan.

“Mulai dari rumah kita sendiri. 3M Plus bukan sekadar slogan, tetapi harus menjadi gaya hidup,” ucap Aditya.

“Dengan kolaborasi lintas sektor tersebut, Pemkot Batu menargetkan pengendalian dengue tidak hanya bersifat reaktif ketika kasus meningkat, tetapi menjadi gerakan preventif yang berlangsung terus-menerus menuju Kota Batu sehat dan tangguh,” tukas dia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *