google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Dari Lurah di Kota Malang ke Sekda Kota Semarang, Perjalanan Karier Handi Priyanto

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Semarang, iKoneksi.com — Pemerintah Kota Semarang resmi memiliki Sekretaris Daerah (Sekda) definitif baru. Handi Priyanto dilantik dalam prosesi khidmat di Gedung Moch Ichsan, Balai Kota Semarang, Senin (18/5/2026), menandai babak baru penguatan birokrasi dan keuangan daerah di Kota Atlas.

Penunjukan Handi bukan tanpa alasan. Birokrat kelahiran Mataram, Nusa Tenggara Barat, 7 Juni 1976 itu dikenal memiliki rekam jejak panjang di pemerintahan, terutama saat menjabat Kepala Badan Pendapatan Daerah (Bapenda) Kota Malang selama lima tahun terakhir.

Usai dilantik, Handi langsung bergerak cepat. Ia menggelar rapat bersama Tim Anggaran Pemerintah Daerah (TAPD) untuk memetakan potensi Pendapatan Asli Daerah (PAD) dari sejumlah organisasi perangkat daerah (OPD) penghasil pendapatan.

“Kami langsung mengidentifikasi sektor-sektor yang bisa dimaksimalkan tanpa membebani masyarakat,” ucap Handi.

Langkah awal ini dinilai krusial di tengah tren penurunan dana transfer pusat yang dialami hampir seluruh daerah di Indonesia. Handi menegaskan, strategi peningkatan PAD tidak akan ditempuh melalui kenaikan tarif pajak, melainkan optimalisasi sistem dan penutupan celah kebocoran.

“Salah satu sektor yang menjadi fokus adalah Pajak Barang dan Jasa Tertentu (PBJT), yang mencakup pajak restoran, hotel, hiburan, parkir, hingga tenaga listrik. Menurutnya, sektor ini memiliki potensi besar jika dikelola dengan pendekatan digital,” sebut Handi.

“Digitalisasi adalah kunci. Selain mempermudah, juga meminimalkan kebocoran,” tegasnya.

Pengalaman Handi di Kota Malang menjadi modal utama. Ia mengklaim peningkatan PAD di kota tersebut berhasil didorong melalui sistem digitalisasi yang mempersempit ruang praktik pungutan liar serta meningkatkan transparansi penerimaan.

“Selain pajak, Pemkot Semarang juga akan mendorong penerapan sistem pembayaran non-tunai (cashless) untuk retribusi, termasuk di pasar tradisional dan pedagang kaki lima. Kebijakan ini diharapkan tidak hanya meningkatkan akuntabilitas, tetapi juga memberikan kemudahan bagi masyarakat,” ungkap Handi.

Handi memastikan setiap rupiah pajak yang dibayarkan masyarakat akan kembali dalam bentuk pembangunan dan pelayanan publik yang lebih baik.

“Tugas kami memastikan uang rakyat masuk ke kas daerah secara utuh, tanpa kebocoran,” tutur dia.

Di balik gebrakan awal tersebut, perjalanan karier Handi terbilang panjang dan berjenjang. Lulusan Institut Pemerintahan Dalam Negeri (IPDN) angkatan 1998 ini memulai karier dari level bawah sebagai lurah, kemudian camat, hingga menduduki berbagai jabatan strategis di lingkungan Pemkot Malang. Ia pernah menjabat sebagai Kepala Satpol PP, Kepala Dinas Perhubungan, Kepala Bakesbangpol, hingga Kepala Pelaksana BPBD. Konsistensi dan pengalaman lintas sektor itulah yang membentuk karakter kepemimpinannya saat ini.

Pelantikan Handi juga menandai berakhirnya masa jabatan Penjabat (Pj) Sekda sebelumnya, Budi Prakosa. Dengan status definitif, Handi kini memiliki ruang lebih luas untuk mengeksekusi program jangka panjang.

Salah Satu Pengamat pemerintahan Jawa Tengah, Joko Prambudi menilai, tantangan terbesar Handi adalah menjaga keseimbangan antara optimalisasi pendapatan dan stabilitas ekonomi masyarakat. Terlebih, tekanan fiskal akibat berkurangnya dana pusat menjadi isu yang harus segera diantisipasi.

“Namun, langkah cepat di hari pertama dinilai sebagai sinyal kuat bahwa Handi tidak ingin kehilangan momentum,” ungkapnya.

“Dengan strategi digitalisasi, penguatan sistem, serta pendekatan transparansi, publik kini menanti sejauh mana Sekda baru ini mampu membawa perubahan nyata bagi keuangan dan pelayanan publik di Kota Semarang,” pungkas alumnus Undip itu.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *