google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Empat Longsor dalam Dua Hari Guncang Lawang, Ratusan Warga Terdampak

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com – Cuaca ekstrem kembali menghantam wilayah Kabupaten Malang. Dalam rentang waktu hanya dua hari, tepatnya Rabu (22/10) hingga Kamis (23/10), Kecamatan Lawang diguncang empat kejadian tanah longsor yang menyebabkan akses jalan terputus dan ratusan warga terdampak. Data dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Malang mencatat, seluruh longsor terjadi hampir bersamaan di titik-titik rawan yang selama ini menjadi perhatian.

Kabid Kedaruratan dan Logistik (KL) BPBD Kabupaten Malang, Sadono Irawan, mengungkapkan bahwa kejadian pertama terjadi pada Rabu (22/10) sekitar pukul 11.30 di Dusun Bledongan, Desa Sidoluhur, Kecamatan Lawang. Hujan dengan intensitas tinggi mengguyur wilayah tersebut sejak pagi hingga siang hari, membuat tanah di dekat rumah warga tak kuat menahan tekanan air dan akhirnya ambles.

“Tanah di sekitar rumah warga mengalami pergeseran cukup parah. Dua rumah dilaporkan terdampak, beruntung tidak ada korban jiwa,” tutur Sadono.

Rumah pertama yang terdampak longsor adalah milik Marzuki, warga RT 05/RW 11 Dusun Bledongan. Longsor terjadi di bagian depan rumah dengan panjang sekitar 15 meter, menyebabkan kerusakan ringan. Sementara di rumah Mesnati, warga RT 03/RW 10 dusun yang sama, longsor terjadi di bagian belakang rumah dengan panjang 10 meter. Bagian dapur rumah Mesnati rusak ringan akibat pergerakan tanah.

Namun, bencana tak berhenti di situ. Masih di hari yang sama, dua longsor lain dilaporkan terjadi di Dusun Jeruk RT 03/RW 06 dan Dusun Mendek, Desa Srigading. Di lokasi terakhir, dampaknya lebih luas dan mengganggu aktivitas warga. Longsor di jalan penghubung antara Dusun Mendek Barat dan Dusun Mendek Timur membuat jalur utama warga benar-benar terputus.

“Longsor di sana mengakibatkan dampak yang cukup besar. Kontur tanah di lokasi ambrol sepanjang 25 meter, membuat jalan sama sekali tidak bisa dilalui kendaraan roda empat,” terang Sadono.

Akibat terputusnya akses tersebut, sekitar 125 kepala keluarga (KK) kini kesulitan beraktivitas. Warga yang biasa menggunakan jalan itu sebagai jalur utama ke pasar, sekolah, atau tempat kerja terpaksa mencari jalan memutar dengan jarak lebih jauh. Ironisnya, di wilayah itu belum tersedia jalur alternatif yang layak untuk kendaraan roda empat.

Keesokan harinya, Kamis (23/10), hujan deras kembali mengguyur wilayah Lawang dan sekitarnya. Kali ini, longsor terjadi di Desa Sidodadi, tepatnya di jalan alternatif yang menghubungkan Lawang, Singosari, dan Jabung. Panjang longsoran mencapai 12 meter, membuat jalur penghubung antara Desa Sidodadi dan Kelurahan Kalirejo menjadi sangat rawan dilalui.

“Itu mengakibatkan jalan penghubung Sidodadi–Kalirejo rawan amblas lagi jika hujan deras kembali turun,” terang Sadono.

Tim BPBD bersama perangkat desa setempat segera melakukan penanganan darurat dengan memasang tanda peringatan dan pembatas jalan agar kendaraan berat tidak melintas di jalur tersebut.

Sadono menegaskan, kondisi geografis Kecamatan Lawang yang berbukit serta curah hujan tinggi menjadi kombinasi berbahaya yang meningkatkan potensi bencana hidrometeorologi, terutama longsor. Ia juga mengingatkan bahwa intensitas hujan di wilayah utara Kabupaten Malang mulai meningkat sejak awal Oktober, seiring peralihan musim dari kemarau menuju penghujan.

“Potensi bencana hidrometeorologi, seperti longsor dan banjir, masih sangat tinggi dalam beberapa bulan ke depan. Kami imbau masyarakat yang tinggal di lereng atau sekitar tebing agar lebih waspada,” katanya.

BPBD Kabupaten Malang telah menyiagakan tim siaga bencana dan peralatan tanggap darurat di beberapa kecamatan rawan, termasuk Lawang, Singosari, Poncokusumo, dan Wagir. Selain itu, koordinasi dengan perangkat desa dan relawan terus diperkuat untuk mempercepat deteksi dini serta evakuasi bila terjadi bencana susulan.

Warga diimbau untuk segera melaporkan jika menemukan retakan tanah, rembesan air di tebing, atau pohon yang mulai miring. Gejala-gejala kecil itu bisa menjadi tanda awal pergerakan tanah yang berpotensi menimbulkan longsor besar.

“Langkah cepat dari warga sangat penting. Kami akan langsung menurunkan tim begitu laporan masuk,” tegas Sadono.

Dalam situasi cuaca yang tak menentu, kesiapsiagaan menjadi kunci utama. Kejadian beruntun di Lawang menjadi peringatan keras bahwa bencana bisa datang kapan saja, bahkan hanya dalam hitungan jam setelah hujan deras turun.

“Kini, harapan terbesar warga adalah agar hujan tidak lagi menjadi ancaman, melainkan berkah yang tak membawa bencana,” tukasnya.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *