Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Jembatan Soehat Wisata Bundir Kota Malang, Bendahara PA GMNI Kota Malang: Walikota Minim Pergerakkan

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com — Kasus bunuh diri yang melibatkan mahasiswa kembali terjadi di Kota Malang. Rentetan peristiwa ini menambah daftar kejadian serupa yang dinilai sudah berulang di lokasi yang sama. Kondisi tersebut memantik keprihatinan publik sekaligus desakan agar upaya pencegahan dilakukan secara lebih serius dan sistematis.

Bendahara PA DPC GMNI Kota Malang, Agustian Siagian, menilai fenomena bunuh diri di kalangan mahasiswa tak bisa lagi dianggap insiden terpisah. Menurutnya, pola kejadian yang berulang menunjukkan adanya persoalan mendasar, terutama terkait kondisi psikologis generasi muda dan lingkungan yang melingkupinya.

“Bunuh diri ini kan memang sudah seperti langganan. Yang menjadi korban mayoritas mahasiswa atau mahasiswi. Ini menandakan ada faktor psikologis yang perlu ditangani secara serius,” tutur Agustian.

Ia menyebut, depresi mental menjadi salah satu faktor dominan yang melatarbelakangi tindakan nekat tersebut. Depresi itu, lanjutnya, dapat bersumber dari berbagai persoalan mulai masalah pribadi, keluarga, lingkungan kampus, hingga lingkungan kos. Pada usia muda, ketahanan mental yang belum kuat membuat tekanan tersebut mudah berkembang menjadi stres berat.

“Ketika anak muda ini menghadapi problem dan tidak punya daya tahan psikologis yang cukup, beban itu bisa terasa sangat berat. Bagi sebagian yang sudah putus harapan, bunuh diri dianggap jalan keluar,” katanya.

Agustian menegaskan pentingnya penanganan preventif yang berkelanjutan. Ia mendorong agar layanan psikolog dan konseling tidak bersifat insidental, melainkan dilakukan secara intens dan terprogram. Edukasi serta sosialisasi mengenai kesehatan mental, menurutnya, harus rutin menyasar mahasiswa sebagai kelompok rentan.

“Tim psikolog dan konseling perlu lebih sering hadir. Edukasi penguatan mental harus dilakukan intens, terutama untuk mahasiswa milenial,” ucapnya.

Tak hanya kampus, Agustian juga menilai faktor lingkungan sekitar turut berpengaruh. Ia menyebut peran RT/RW dan lingkungan tempat tinggal penting dalam mendeteksi dini perubahan perilaku mahasiswa yang mengarah pada depresi, sekaligus memberi dukungan sosial.

Sorotan khusus diarahkan pada fakta sejumlah kasus berasal dari kampus yang sama yaitu Universitas Brawijaya. Agustian menilai hal ini perlu dikaji lebih mendalam oleh pihak kampus terkait, termasuk mengevaluasi sistem pendampingan akademik dan akses mahasiswa terhadap dosen pembimbing.

“Ini bukan kebetulan lagi. Kalau kasusnya berulang dan dari kampus yang sama, perlu ada pengkajian serius. Apalagi ada keluhan mahasiswa yang kesulitan menemui dosen pembimbing. Ini harus jadi evaluasi internal kampus,” tegasnya.

Menurut Agustian, kampus sebagai lembaga pendidikan independen memiliki tanggung jawab utama dalam memperkuat kesehatan mental mahasiswa. Ia mendorong kampus meningkatkan intensitas kegiatan seperti workshop, forum diskusi, hingga pelatihan penguatan psikologis yang melibatkan tenaga profesional.

“Kampus itu penuh orang-orang pintar. Perencanaannya pasti bisa. Tinggal kemauan untuk meningkatkan intensitas program penguatan mental mahasiswa,” ujarnya.

Terkait peran pemerintah daerah, Agustian menyebut Pemerintah Kota Malang terkhususnya Wali Kota Malang pada dasarnya telah memiliki perangkat pendukung. Mulai dari tim psikolog, layanan konseling sosial, hingga unit perlindungan perempuan dan anak (PPA) serta dukungan kepolisian. Namun, efektivitasnya sangat bergantung pada koordinasi dan sasaran intervensi.

“Pemkot siap, unit konseling ada, psikolog ada, PPA ada. Tapi kalau mayoritas korban mahasiswa, maka pihak kampus harus menjadi garda terdepan dan meningkatkan volumenya,” terang Agustian.

Agustian berharap, kejadian bunuh diri yang berulang ini menjadi alarm bagi semua pihak untuk bergerak bersama kampus, pemerintah, keluarga, dan lingkungan dalam membangun sistem pencegahan yang lebih kuat demi melindungi generasi muda dari krisis kesehatan mental.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *