Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Koperasi Merah Putih Mojokerto, Simbol Baru Ekonomi Gotong Royong

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Mojokerto, iKoneksi.com – Pemerintah Kabupaten Mojokerto menegaskan komitmennya dalam memperkuat ekonomi kerakyatan melalui pembangunan Koperasi Desa Merah Putih (KDMP) yang kini resmi berdiri di Desa Gunungsari, Kecamatan Dawarblandong, Jumat (17/10/2025). Koperasi ini bukan sekadar proyek pembangunan ekonomi, tetapi simbol kolaborasi dan semangat gotong royong untuk menumbuhkan kemandirian masyarakat desa.

Bupati Mojokerto, Muhammad Albarraa dalam keterangannya menyebut, pembangunan KDMP merupakan bagian dari implementasi Asta Cita Presiden Republik Indonesia, sebuah visi nasional yang menekankan penguatan ekonomi berbasis komunitas.

“Program ini menjadi bagian Asta Cita Presiden. Koperasi Merah Putih merupakan salah satu upaya nyata memperkuat ekonomi masyarakat dengan semangat gotong royong,” katanya dengan tegas.

Gerakan Nasional dari Mojokerto

Pendirian KDMP di Gunungsari menjadi salah satu dari 800 titik koperasi Merah Putih yang diresmikan secara serentak di seluruh Indonesia pada hari yang sama. Langkah besar ini menjadi fondasi menuju target ambisius pemerintah untuk menghadirkan 80.000 koperasi di seluruh desa dan kelurahan Indonesia.

Albarraa menekankan Mojokerto siap menjadi daerah percontohan dalam realisasi program ini.

“Kami tidak hanya membangun gedung koperasi, tapi juga menyiapkan sistem distribusi, administrasi, dan sumber daya manusia yang andal. Harapan kami, model KDMP Mojokerto dapat direplikasi di seluruh Indonesia,” jelasnya.

Kehadiran KDMP di Mojokerto diharapkan mampu menciptakan sirkulasi ekonomi di tingkat lokal yang lebih efisien, di mana kebutuhan pokok masyarakat bisa didapat langsung dari koperasi tanpa melalui rantai distribusi panjang yang memicu kenaikan harga.

Pemangkasan Jalur Distribusi, Harga Lebih Terjangkau

Model bisnis Koperasi Merah Putih dirancang dengan prinsip efisiensi dan keberlanjutan. Rantai pasok KDMP Mojokerto menggandeng langsung sejumlah pemasok besar seperti Pertamina, Bulog, Pupuk Indonesia, hingga Gempolkrep. Komoditas utama yang akan dijual antara lain beras, gas elpiji, pupuk, dan gula semua disalurkan langsung ke koperasi tanpa perantara.

“Bukan sekadar koperasi, tapi solusi agar warga mendapat harga terjangkau untuk kebutuhan sehari-hari,” tutur Albarraa.

Dengan sistem ini, pemerintah daerah optimistis harga kebutuhan pokok bisa lebih stabil sekaligus meningkatkan kesejahteraan pelaku usaha mikro di pedesaan.

Selain menyediakan bahan pokok, KDMP juga dilengkapi dengan layanan apotek dan akses perbankan. Bank-bank milik negara seperti BRI, Mandiri, dan BNI akan menjadi mitra strategis dalam memberikan layanan keuangan kepada masyarakat, mulai dari tabungan, pinjaman usaha kecil, hingga transaksi digital.

“Ini akan menjadi model koperasi multifungsi: tempat berbelanja, berkonsultasi kesehatan, sekaligus mengakses layanan keuangan. Semua dalam satu atap,” terang Bupati Albarraa.

Target 100 Persen Beroperasi Sebelum Akhir 2025

Pemerintah Kabupaten Mojokerto menargetkan seluruh Koperasi Desa Merah Putih di wilayahnya sudah beroperasi penuh sebelum akhir tahun 2025. Sebagai langkah awal, dua koperasi telah dibuka lebih dulu di Gempolkrep, Kecamatan Gedeg, dan Ketapanrame, Kecamatan Trawas.

“Seluruh kecamatan sudah siap dari sisi administrasi. Kami targetkan 30 koperasi aktif pada Agustus, 150 koperasi pada November, dan akhir tahun nanti seluruh desa atau kelurahan sudah memiliki koperasi aktif,” papar Albarra dalam keterangan resminya.

Albarra menerangkan target ini didukung oleh sinergi lintas sektor, mulai dari perangkat desa, kelompok usaha kecil, hingga pihak swasta. Pemerintah daerah juga tengah menyiapkan pelatihan manajemen koperasi dan digitalisasi sistem untuk memastikan setiap KDMP mampu beroperasi mandiri dan transparan.

Gotong Royong Sebagai Pilar Ekonomi Desa

Pembangunan KDMP bukan sekadar proyek ekonomi, tetapi juga gerakan sosial. Dengan semangat gotong royong, masyarakat diharapkan dapat terlibat langsung dalam pengelolaan koperasi, mulai dari menjadi anggota, pengurus, hingga pemasok produk lokal.

“Koperasi Merah Putih adalah simbol kemandirian bangsa dari akar rumput. Kita ingin masyarakat desa punya akses ekonomi yang setara dan mandiri,” tegas Albarraa.

Gerakan ini sekaligus menjadi langkah strategis mengatasi persoalan klasik desa seperti ketimpangan harga, keterbatasan akses modal, dan dominasi tengkulak. Dengan koperasi sebagai wadah ekonomi rakyat, desa tidak lagi hanya menjadi konsumen, tetapi juga produsen dan penggerak ekonomi daerah.

Mojokerto Jadi Titik Awal Ekonomi Gotong Royong Nasional

Pembangunan Koperasi Desa Merah Putih di Mojokerto menandai babak baru ekonomi berbasis solidaritas nasional. Dari desa kecil di Dawarblandong, pemerintah berharap semangat ini menular ke seluruh pelosok negeri.

“Jika target 80.000 koperasi benar-benar tercapai, bukan tidak mungkin Indonesia akan memasuki era baru ekonomi inklusif, di mana kesejahteraan masyarakat tumbuh dari desa ke kota, dari rakyat untuk rakyat,” ungkapnya.

Seperti disampaikan Albarraa, “Koperasi bukan hanya lembaga ekonomi, tapi rumah bersama yang menumbuhkan keadilan sosial. Dari Mojokerto, kita mulai membangun ekonomi gotong royong Indonesia.”

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *