Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Perbaikan Pasar Comboran Menunggu DED, Pedagang Resah

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Harapan pedagang Pasar Comboran untuk segera berjualan dengan nyaman pasca-kebakaran yang terjadi pada 13 September 2024 tampaknya harus kembali ditunda. Proses perbaikan pasar yang dijanjikan Pemerintah Kota Malang melalui Dinas Koperasi, Perindustrian, dan Perdagangan (Diskopindag) belum juga terealisasi. Hingga pertengahan Mei 2025 ini, proyek tersebut masih berada di tahap perencanaan dan pengadaan, jauh dari aktivitas fisik yang dijanjikan sejak Februari lalu.

Proyek Molor, Pedagang Menunggu Kepastian

Kepala Diskopindag Kota Malang, Eko Sri Yuliadi, membenarkan keterlambatan proses perbaikan. Ia menyampaikan hingga kini proyek masih menunggu penyelesaian Detail Engineering Design (DED) sebagai syarat teknis untuk memulai pembangunan fisik.

“Kemungkinan pengerjaan fisik baru bisa dimulai semester dua tahun ini, targetnya selesai Desember. Anggaran yang digunakan untuk perbaikan sekitar Rp 1,8 Milliar, ” ujar Eko, Sabtu (15/5/2025).

Perbaikan ini menurut Eko sejatinya menjadi prioritas karena bagian yang rusak cukup parah. Area lantai dua pasar yang sebelumnya digunakan untuk berdagang dan parkir mobil hancur akibat kebakaran tahun lalu.

“Selain itu, sebagian besar atap juga bolong sehingga kerap menyebabkan genangan air di lantai dasar ketika hujan turun,” tutur Eko.

Meskipun ada perbaikan kecil pada atap di bulan Januari lalu, itu belum cukup untuk mengatasi seluruh permasalahan yang ada. Pedagang masih mengeluh lantaran aktivitas jual-beli sering terganggu oleh kebocoran air dan kondisi bangunan yang kurang layak.

Legislatif Soroti Penurunan Anggaran dan Keterlambatan

Keterlambatan proyek ini juga mendapat sorotan dari Komisi B DPRD Kota Malang. Ketua Komisi B, Bayu Rekso Aji, menyatakan dirinya telah mendapat laporan dari pedagang mengenai kegiatan mencurigakan di lantai dua pasar. Laporan tersebut memicu Bayu untuk berkomunikasi langsung dengan pihak Diskopindag demi memastikan kejelasan proyek revitalisasi.

“Kami dapat informasi dari LPSE bahwa proyek ini masih dalam proses pengadaan. Tapi yang membuat kami prihatin, anggaran untuk revitalisasi malah berkurang dari Rp 2 miliar menjadi Rp 1,5 miliar,” ungkap Bayu dari Fraksi PKS.

Penurunan anggaran ini berdampak langsung terhadap cakupan revitalisasi. Pemerintah kini hanya mampu memperbaiki sebagian lokasi, khususnya yang terdampak langsung oleh kebakaran.

“Area lain yang juga membutuhkan perbaikan menyeluruh kemungkinan besar akan tertunda,” jelas Bayu.

Bayu menekankan pentingnya percepatan proyek ini agar para pedagang tidak terus-menerus berada dalam ketidakpastian. Ia berharap proses revitalisasi tidak lagi terkendala birokrasi atau minimnya anggaran.

Pasar Tradisional Butuh Komitmen Pemerintah

Revitalisasi pasar tradisional seperti Comboran bukan hanya soal infrastruktur fisik, tetapi juga menyangkut keberlangsungan ekonomi ratusan pelaku usaha kecil dan menengah. Pasar ini adalah denyut nadi ekonomi rakyat. Jika penataannya tidak diprioritaskan, maka efek dominonya sangat terasa mulai dari menurunnya daya beli masyarakat hingga turunnya pendapatan pedagang.

“Kita berharap, Pemkot Malang tidak hanya sekadar menjanjikan. Pasar adalah ruang ekonomi rakyat, dan rakyat menunggu janji itu ditepati,” tegas Bayu.

Ia juga menambahkan keterlibatan legislatif dalam mengawasi proyek ini akan terus berlanjut hingga tuntas. Bayu memastikan DPRD akan melakukan pengecekan rutin, baik dari sisi penggunaan anggaran maupun kualitas pengerjaan proyek.

Tantangan dan Harapan Menyongsong Semester Dua

Dengan sisa waktu menuju semester dua yang tinggal beberapa bulan lagi, Bayu mengungkapkan publik kini menanti keseriusan Pemkot Malang dalam menyelesaikan proyek ini tepat waktu. Jangan sampai proses revitalisasi kembali tertunda karena persoalan teknis atau lemahnya koordinasi antar instansi.

“Bagi para pedagang, keberhasilan revitalisasi ini bukan sekadar soal bangunan baru, tapi juga tentang harapan untuk memulai kembali kehidupan ekonomi yang sempat porak-poranda akibat kebakaran. Di tengah tekanan ekonomi pasca-pandemi dan persaingan dengan retail modern, pasar tradisional seperti Comboran membutuhkan perhatian ekstra dari pemerintah. Kini, yang dibutuhkan adalah kepastian dan aksi nyata. Masyarakat menunggu: akankah janji revitalisasi Pasar Comboran akhirnya menjadi kenyataan? Ataukah sekali lagi, pasar rakyat harus bersabar menunggu di tengah genangan air dan reruntuhan harapan?,” tutup Bayu. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *