Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

PKL di Kota Batu Gantung Diri Usai Gagal Daftar Ojol

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com – Suasana tenang di Kelurahan Sisir, Kota Batu, mendadak berubah menjadi duka mendalam. Seorang pedagang kaki lima (PKL) bernama Gregorius Yessy Mawas Andi (41) ditemukan tewas gantung diri di rumahnya di Jalan Wilis pada Senin (13/10/2025) siang. Korban yang sehari-hari berjualan kopi di kawasan Alun-Alun Kota Batu diduga mengakhiri hidupnya setelah mengalami tekanan batin karena gagal mendaftar ojek online (ojol) akibat ponselnya rusak.

Peristiwa ini bukan hanya mengguncang lingkungan sekitar, tetapi juga menjadi potret pilu kehidupan masyarakat kecil yang bergulat dengan tekanan ekonomi dan mental di tengah perkembangan zaman yang semakin digital.

Ditemukan Istri dalam Kondisi Mengenaskan

Kasat Reskrim Polres Batu, Iptu Joko Suprianto, menjelaskan korban pertama kali ditemukan oleh istrinya sekitar pukul 14.30 WIB. Sang istri yang semula beristirahat di kamar mendapati suaminya tidak merespons ketika dipanggil.

“Ketika memeriksa ke kamar mandi, pelapor melihat korban sudah dalam keadaan gantung diri menggunakan tali tambang yang diikatkan pada kayu penyangga atap,” terang Joko kepada iKoneksi.com, Senin (13/10/2025).

Dalam kepanikan, istri korban berusaha menurunkan tubuh suaminya dengan bantuan warga sekitar sebelum kemudian melapor ke pihak kepolisian. Tim Inafis Polres Batu segera melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP) dan memastikan tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan di tubuh korban.

“Dari hasil olah TKP, korban gantung diri menggunakan tali tambang sepanjang 270 sentimeter dengan diameter 70 sentimeter, yang diikat kuat pada rangka atap rumah sederhana mereka,” tuturnya.

Awal Masalah: Ponsel Rusak dan Kegagalan Daftar Ojol

Sehari sebelum kejadian, korban diketahui tengah berusaha mendaftar sebagai mitra ojek online. Menurut keterangan istrinya, korban tampak bersemangat ingin mencari penghasilan tambahan di tengah penurunan omzet jualannya sebagai PKL. Namun semangat itu berubah menjadi kemarahan setelah ponselnya mengalami kerusakan saat proses pendaftaran berlangsung.

Dalam kondisi emosi, korban dikabarkan membanting ponselnya hingga rusak parah, membuat upaya pendaftaran gagal total. Kejadian itu membuat suasana rumah memanas. Setelahnya, korban memilih menyendiri di rumah sementara istrinya beristirahat.

“Dari keterangan saksi, korban memang memiliki emosi yang mudah meledak. Sebelumnya, dia juga pernah menunjukkan gejala depresi ringan akibat tekanan ekonomi,” ungkap Joko.

Riwayat Percobaan Bunuh Diri Tiga Tahun Lalu

Fakta lain yang terungkap membuat tragedi ini semakin memilukan. Berdasarkan penyelidikan, tiga tahun lalu korban pernah melakukan percobaan bunuh diri dengan cara serupa gantung diri. Beruntung, saat itu aksinya diketahui lebih cepat oleh tetangga sehingga nyawanya dapat diselamatkan.

‘Namun kali ini, nasib berkata lain. Tidak ada seorang pun yang menyadari bahwa Gregorius kembali berada di ujung keputusasaan. Tekanan ekonomi, kesulitan mencari pekerjaan, dan rusaknya ponsel yang menjadi modal utama untuk mendaftar ojol diduga menjadi pemicu utama keputusan tragis tersebut,” ucapnya.

Potret Gelap Tekanan Hidup Masyarakat Kecil

Kasus ini menjadi cermin getir kehidupan masyarakat kecil yang semakin bergantung pada dunia digital, namun tak semua siap menghadapi dampaknya. Ponsel dan teknologi kini bukan sekadar alat komunikasi, tetapi juga pintu masuk untuk mencari penghidupan. Ketika akses itu terputus, sebagian orang kehilangan harapan dan bagi mereka yang rapuh secara mental, situasi tersebut bisa berujung fatal.

“Korban dikenal sebagai sosok yang pekerja keras, tapi mudah tersulut emosi. Ia sering merasa gagal ketika tidak bisa memenuhi ekspektasinya sendiri,” ujar seorang warga sekitar yang enggan disebut namanya.

Joko memastikan tidak ditemukan tanda kekerasan fisik, dan peristiwa ini murni tindakan bunuh diri.

“Jenazah korban kini telah diserahkan kepada pihak keluarga untuk dimakamkan secara layak di TPU setempat,” sebutnya.

Refleksi dan Peringatan Sosial

Tragedi Gregorius menjadi pengingat keras bahwa masalah kesehatan mental tidak boleh diabaikan, terutama di kalangan masyarakat pekerja informal seperti pedagang kaki lima. Tekanan ekonomi, beban keluarga, hingga kegagalan kecil dalam hidup dapat menjadi pemantik depresi berat jika tidak mendapatkan pendampingan.

“Kasus ini juga menegaskan pentingnya peran pemerintah daerah dan masyarakat dalam memberikan dukungan psikologis dan akses ekonomi bagi warga berpenghasilan rendah agar tidak terjebak dalam keputusasaan yang mematikan. Kota Batu berduka, dan semoga kisah ini menjadi pelajaran berharga di balik hiruk pikuk kota wisata, ada suara-suara sunyi dari mereka yang sedang berjuang melawan diri sendiri,” tandasnya. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *