google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Talas dan Singkong Naik Kelas, Workshop UM di Singosari Buka Peluang Usaha Baru bagi Warga

  • Bagikan
banner 468x60

Kab Malang, iKoneksi.com – Komoditas talas dan singkong selama ini identik sebagai bahan pangan sederhana yang banyak dikonsumsi masyarakat pedesaan. Namun di tangan masyarakat yang memiliki keterampilan pengolahan, dua komoditas lokal tersebut dapat berubah menjadi produk bernilai ekonomi tinggi dan menjadi sumber pendapatan baru bagi keluarga.

Semangat itulah yang diusung dalam kegiatan pengabdian masyarakat bertajuk “Workshop Food Processing Talas dan Singkong: Upaya Peningkatan Ekonomi Masyarakat” yang digelar di Sekretariat Pasukan Kuning Kelurahan Pagentan, Kecamatan Singosari, Kabupaten Malang, Kamis (18/6/2026).

Ketua tim pengabdian, Dr. Aniek Handajani, S.Pd., M.Ed, mengatakan kegiatan yang diinisiasi Tim Pengabdian Universitas Negeri Malang (UM) tersebut menjadi upaya konkret mendorong pemberdayaan masyarakat melalui pemanfaatan potensi pangan lokal yang selama ini belum tergarap secara optimal.

“Talas dan singkong dipilih karena merupakan komoditas yang cukup melimpah di berbagai wilayah pedesaan, termasuk di Kabupaten Malang. Namun selama ini pemanfaatannya masih terbatas untuk konsumsi rumah tangga sehingga nilai tambah ekonominya relatif rendah,” kata Aniek.

Aniek menerangkan melalui workshop tersebut, masyarakat diajak melihat peluang baru bahwa talas dan singkong tidak hanya dapat dikonsumsi secara tradisional, tetapi juga dapat diolah menjadi berbagai produk bernilai jual seperti keripik, tepung, makanan siap saji, hingga produk pangan kreatif yang memiliki daya saing di pasar.

Dorong Warga Berani Memulai Usaha

Workshop diikuti 20 peserta yang merupakan anggota Pasukan Kuning Kelurahan Pagentan Singosari. Selama kegiatan berlangsung, peserta mendapatkan materi teori sekaligus praktik langsung mengenai teknik pengolahan pangan berbasis talas dan singkong. Ia menjelaskan bahwa kegiatan ini tidak hanya berorientasi pada peningkatan keterampilan teknis, tetapi juga bertujuan membangun pola pikir kewirausahaan masyarakat.

Menurutnya, potensi pangan lokal akan memiliki nilai ekonomi lebih besar apabila masyarakat mampu mengolahnya menjadi produk yang menarik, berkualitas, dan memiliki pasar yang jelas.

“Banyak potensi pangan lokal yang sebenarnya memiliki nilai jual tinggi, tetapi belum dimanfaatkan secara maksimal. Melalui workshop ini kami ingin membuka wawasan masyarakat bahwa talas dan singkong bisa menjadi peluang usaha yang menjanjikan,” ujarnya.

Dalam sesi pertama, Aniek menyampaikan materi bertajuk “Food Processing Talas dan Singkong: Upaya Meningkatkan Kesejahteraan Masyarakat Desa.”

“Materi tersebut membahas pentingnya hilirisasi produk pertanian, pengembangan UMKM berbasis potensi lokal, hingga strategi meningkatkan kesejahteraan masyarakat melalui usaha pangan kreatif,” ucap dia.

Belajar Mengolah Pangan Bernilai Tambah

Sementara itu, materi kedua disampaikan oleh Sofiatur Rosida, S.Pd, guru SMKN 1 Batu, dengan tema “Olahan Kreatif Talas dan Singkong: Dari Pangan Lokal ke Produk Bernilai Ekonomi.”

Peserta mendapatkan berbagai contoh inovasi produk yang dapat dikembangkan dari talas dan singkong, mulai dari produk makanan ringan hingga bahan baku industri pangan.

“Tidak hanya mendengarkan materi, peserta juga terlibat dalam praktik langsung pengolahan bahan pangan. Mereka mempelajari tahapan produksi, teknik pengemasan sederhana, hingga strategi pemasaran produk agar lebih menarik bagi konsumen,” jelas Rosida.

Ia memaparkan suasana workshop berlangsung interaktif. Banyak peserta yang aktif berdiskusi mengenai peluang usaha yang dapat dikembangkan dari bahan baku yang tersedia di lingkungan mereka. Pendekatan yang digunakan dalam kegiatan ini mengacu pada metode Participatory Action Research (PAR) yang menempatkan masyarakat sebagai subjek utama dalam proses pemberdayaan.

“Metode tersebut diawali dengan analisis kebutuhan mitra, penyusunan materi pelatihan, pelaksanaan workshop, praktik dan pendampingan produksi, hingga evaluasi kegiatan,” terang Aniek.

Perkuat UMKM dan Kurangi Kemiskinan

Tim pengabdian menilai pengembangan usaha berbasis pangan lokal memiliki potensi besar dalam memperkuat ekonomi masyarakat desa. Selain membutuhkan modal yang relatif terjangkau, bahan baku talas dan singkong juga mudah diperoleh sehingga memungkinkan masyarakat memulai usaha skala rumah tangga.

“Melalui pelatihan ini, peserta diharapkan memiliki pengetahuan baru mengenai teknik pengolahan pangan, kemampuan menciptakan produk kreatif, serta motivasi untuk mengembangkan usaha kecil secara berkelanjutan,” terangnya.

Manfaat lain yang ingin dicapai adalah tumbuhnya UMKM baru berbasis potensi lokal yang mampu menciptakan lapangan kerja dan meningkatkan kesejahteraan keluarga.

“Ketika masyarakat mampu mengolah hasil pertanian menjadi produk bernilai tambah, maka keuntungan yang diperoleh tentu lebih besar dibandingkan menjual bahan mentah. Di situlah nilai ekonominya meningkat,” jelas Aniek.

Selain mendukung penguatan UMKM desa, program tersebut juga diharapkan berkontribusi terhadap upaya pengentasan kemiskinan melalui peningkatan pendapatan masyarakat.

Hasilkan Produk dan Materi Edukasi

Aniek menegaskan kegiatan pengabdian ini menghasilkan sejumlah luaran, di antaranya produk olahan berbahan dasar talas dan singkong yang memiliki nilai tambah ekonomi, handout pelatihan, poster kegiatan, dokumentasi pengabdian, publikasi media sosial, serta pengajuan Hak Kekayaan Intelektual (HKI).

Tim pengabdian yang terlibat dalam program ini terdiri dari Dr. Aniek Handajani, S.Pd., M.Ed dari Program Studi Pendidikan Sejarah Universitas Negeri Malang, Wahyu Bowo Laksono, S.H., M.M sebagai tenaga kependidikan Fakultas Ilmu Sosial UM, serta Heru Hendra Yogi, mahasiswa Pendidikan Sejarah UM.

“Melalui kolaborasi antara akademisi, praktisi pendidikan, dan masyarakat, workshop tersebut diharapkan menjadi langkah awal lahirnya usaha-usaha baru berbasis potensi lokal. Di tengah tantangan ekonomi yang terus berkembang, talas dan singkong yang selama ini dipandang sebagai pangan sederhana kini mulai dilirik sebagai komoditas strategis yang mampu mendorong kemandirian ekonomi masyarakat sekaligus memperkuat ketahanan UMKM desa,” pungkas dia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *