Menu
Koneksi Informasi Pikiran Merdeka

Tragedi Pagi di Gunungsari, Warga Batu Dikejutkan Aksi Gantung Diri

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Batu, iKoneksi.com — Suasana tenang di Dusun Talangsari, Desa Gunungsari, Kecamatan Bumiaji, Kota Batu, mendadak berubah menjadi duka mendalam pada Senin pagi (3/11/2025). Warga digemparkan oleh kabar seorang pria muda yang ditemukan tewas gantung diri di dalam kamar rumah orang tuanya.

Korban diketahui bernama Rangga Yelvisa Pandu Pratama (30), seorang karyawan swasta yang dikenal pendiam dan jarang bergaul. Ia sehari-hari tinggal bersama kedua orang tuanya dan dua anaknya. Tak ada yang menyangka pria yang dikenal sopan itu akan mengakhiri hidupnya dengan cara tragis.

Pagi yang Berubah Jadi Duka

Pagi itu, sekitar pukul 05.00 WIB, sang ayah, Arif Hidayat (51), bermaksud membangunkan Rangga seperti biasa. Namun, panggilan dari luar kamar tak kunjung dijawab. Kecurigaan mulai muncul ketika pintu kamar terkunci rapat dari dalam.

Dengan perasaan cemas, Arif mencoba mengintip lewat jendela. Seketika tubuhnya lemas melihat pemandangan di balik kaca sang anak terlihat sudah tak bernyawa, dalam posisi duduk dengan leher terikat syal berwarna biru bertuliskan “Arema”.

“Panik dan diliputi rasa tak percaya, keluarga segera meminta pertolongan warga sekitar. Tak lama kemudian, petugas Polsek Bumiaji, tim Inafis Polres Batu, dan tenaga medis datang ke lokasi untuk melakukan olah tempat kejadian perkara (TKP),” kata Arif.

Penyelidikan dan Keterangan Polisi

Dari hasil pemeriksaan awal, tidak ditemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh korban. Polisi menyita sejumlah barang bukti, termasuk syal yang digunakan korban, untuk kepentingan penyelidikan lebih lanjut.

Kasi Humas Polres Batu, Iptu Mohamad Huda, membenarkan kejadian tersebut dan menyampaikan belasungkawa mendalam atas tragedi yang menimpa keluarga korban.

“Kami turut berduka atas peristiwa ini. Kasus masih dalam penanganan Satreskrim Polres Batu untuk memastikan motif di balik aksi nekat korban,” ujar Huda.

Ia menambahkan, keluarga korban menolak dilakukan autopsi, karena telah mengikhlaskan kepergian Rangga. Jenazah kemudian dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU) desa setempat pada hari yang sama.

Isyarat Depresi di Balik Keheningan

Meski polisi masih mendalami motif di balik aksi tragis ini, beberapa warga mengungkapkan bahwa Rangga sempat mengalami tekanan mental berat setelah bercerai dari istrinya sekitar satu tahun lalu.

Salah satu tetangga yang enggan disebut namanya menyebut bahwa korban pernah menggunakan zat terlarang dan belakangan terlihat murung serta jarang keluar rumah.

“Dia kelihatan sering menyendiri. Sejak cerai, hidupnya makin tertutup. Di rumah cuma sama anak-anaknya dan orang tuanya,” ujar warga tersebut dengan nada prihatin.

Informasi itu semakin memperkuat dugaan bahwa depresi dan kesepian menjadi pemicu utama di balik aksi bunuh diri tersebut. Namun, pihak kepolisian masih berhati-hati dalam menyimpulkan penyebab pasti hingga hasil penyelidikan lengkap keluar.

Pentingnya Kepedulian terhadap Kesehatan Mental

Kasus bunuh diri di Gunungsari ini menjadi pengingat pahit akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan mental. Iptu Huda menegaskan, masyarakat harus lebih terbuka dalam membicarakan beban hidup dan tidak segan mencari bantuan profesional.

“Kami harap keluarga dan masyarakat tidak segan mencari bantuan jika menghadapi tekanan mental. Dukungan sosial sangat penting agar kejadian serupa tidak terulang,” tegasnya.

Polres Batu juga berencana bekerja sama dengan lembaga sosial dan tenaga konseling di wilayahnya untuk memperkuat layanan pendampingan psikologis, terutama bagi masyarakat yang mengalami tekanan hidup.

Suara dari Balik Duka

Di rumah duka, suasana haru tak terbendung. Warga datang silih berganti, menyampaikan bela sungkawa dan mencoba menguatkan keluarga yang ditinggalkan. Sementara dua anak korban terlihat kebingungan, belum sepenuhnya memahami kehilangan besar yang mereka alami.

Arif, sang ayah, hanya bisa menatap kosong ke arah kamar tempat putranya ditemukan. Tak ada kata yang cukup menggambarkan duka seorang ayah yang harus kehilangan anaknya dengan cara demikian.

“Dia anak baik… cuma mungkin terlalu banyak pikiran,” ucapnya lirih.

Refleksi untuk Kita Semua

Tragedi yang terjadi di Gunungsari bukan sekadar kabar duka ia adalah cermin kondisi sosial dan mental masyarakat modern yang kian kompleks. Di tengah tekanan hidup, banyak orang memilih diam, memendam luka, dan kehilangan arah.

“Kejadian ini mengingatkan bahwa kesehatan mental sama pentingnya dengan kesehatan fisik. Butuh ruang aman untuk berbagi, butuh telinga yang mau mendengar, dan butuh tangan yang mau menolong sebelum semuanya terlambat. Kota Batu berduka, tetapi juga diingatkan: di balik senyum dan kesunyian, bisa jadi ada jiwa yang sedang berjuang sendirian,” pungkas Huda.

banner 325x300 banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *