google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Totalitas Mengabdi, Suwarjana Konsisten Perjuangkan Pendidikan Merata

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Kota Malang dikenal sebagai salah satu kota pendidikan di Indonesia, namun di balik reputasi tersebut, ada sosok yang terus bekerja senyap namun penuh keteguhan: Suwarjana, Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan (Disdikbud) Kota Malang. Selama empat tahun terakhir, Suwarjana mengabdikan dirinya untuk misi besar: memastikan bahwa setiap anak di Kota Malang memiliki akses yang sama terhadap pendidikan yang bermutu.

Komitmen Suwarjana tidak lahir dari ambisi pribadi, melainkan dari kesadaran bahwa pendidikan adalah hak semua warga negara, bukan hanya milik mereka yang mampu secara ekonomi atau unggul secara akademik. Menurutnya, pemerataan pendidikan bukan hanya soal membuka akses, tetapi juga memastikan keadilan dalam prosesnya.

“Pendidikan itu menyangkut semua kalangan. Dari yang mampu hingga yang tidak mampu, semuanya berhak mendapatkan akses dan kualitas pendidikan yang sama. Maka dalam menyikapi persoalan pendidikan, pemikiran harus cepat dan tepat, tapi tidak boleh gegabah,” ujarnya saat ditemui Jumat, (2/5/2025).

Zonasi Bukan Penghalang, Tapi Jembatan Pemerataan

Salah satu kebijakan yang terus diperjuangkan Suwarjana adalah sistem zonasi atau domisili dalam Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB). Meskipun kebijakan ini sering menuai kontroversi di berbagai daerah, ia justru melihatnya sebagai instrumen nyata kehadiran negara dalam mewujudkan pendidikan yang adil.

“Kalau tidak ada jalur zonasi, sekolah-sekolah favorit hanya akan dihuni siswa dari kalangan mampu atau mereka yang nilai akademiknya tinggi. Lalu yang lain bagaimana? Zonasi hadir agar semua anak punya peluang yang sama, tak peduli dari mana asal atau kondisi ekonominya,” jelas pria asal Yogyakarta ini.

UKD: Bukti Apresiasi Terhadap Proses, Bukan Hanya Nilai

Disdikbud Kota Malang, di bawah kepemimpinan Suwarjana, tidak hanya mengandalkan nilai rapor sebagai penentu prestasi. Mereka memperkenalkan Uji Kompetensi Dasar (UKD) sebagai bagian dari seleksi PPDB jalur prestasi. Menurutnya, nilai rapor bukan satu-satunya indikator kemampuan siswa.

“Kami ingin lebih adil. Karena setiap siswa memiliki latar belakang dan kurikulum yang berbeda. Di sinilah pentingnya proses. Maka kami buat UKD, agar anak-anak yang memang punya potensi, bisa mendapatkan tempat yang layak di sekolah negeri,” paparnya.

Menekan Angka Anak Tidak Sekolah

Pemerataan pendidikan tak bisa lepas dari upaya pengentasan anak tidak sekolah. Disdikbud pun bekerja sama erat dengan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kota Malang untuk mencocokkan data dan memetakan kondisi riil di lapangan. Suwarjana menyadari tantangan terbesar justru terletak pada jenjang paling dasar, yakni Sekolah Dasar (SD). Ia menekankan pentingnya memastikan bahwa setiap anak usia sekolah benar-benar terdata dan masuk ke jenjang pendidikan.

“Harus jelas berapa anak yang lahir, usia masuk sekolah, dan berapa yang sudah duduk di kelas 1 SD. Kalau jenjang SMP lebih mudah dipantau karena tinggal menghitung lulusan dari SD,” katanya.

Pendidikan Tak Cukup Akademik, Karakter Juga Penting

Namun bagi Suwarjana, pendidikan tak berhenti pada soal angka atau nilai semata. Ia memiliki visi besar agar siswa di Kota Malang tak hanya unggul secara akademik, tetapi juga kuat secara karakter.

“Kita tidak butuh hanya anak-anak yang pintar. Kota Malang sebagai Kota Pendidikan harus mencetak generasi yang seimbang. Pintar dan berkarakter. Karena itu adalah bekal utama mereka untuk menghadapi masa depan,” tegasnya.

Melangkah Pasti Menuju Kota Pendidikan yang Merata

Empat tahun bukan waktu yang singkat. Namun bagi Suwarjana, ini baru permulaan dari langkah panjang menuju pendidikan yang benar-benar inklusif dan merata. Dengan pendekatan yang menyeluruh, mulai dari kebijakan PPDB hingga data kependudukan, ia ingin memastikan bahwa tidak ada anak yang tertinggal dari hak dasarnya untuk belajar. Di tengah dinamika dunia pendidikan yang terus berubah, Suwarjana menjadi pengingat bahwa reformasi tidak selalu harus revolusioner. Yang dibutuhkan adalah konsistensi, empati, dan keberanian mengambil langkah yang kadang tak populer, namun berdampak besar.

“Kota Malang hari ini mungkin belum sempurna. Tapi dengan semangat dan keberpihakan seperti yang ditunjukkan oleh saha, harapan akan pendidikan yang adil dan bermutu bukanlah utopia melainkan tujuan yang sedang diperjuangkan dengan nyata,” tandas Suwarjana. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *