google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Update Harga Telur Ayam Juli 2026, Malang Raya Tembus Rp 19.500 per Kg

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Setelah sempat terpuruk hingga menyentuh level Rp 17 ribu per kilogram, harga telur ayam di Malang Raya kini mulai menunjukkan tren pemulihan. Kenaikan harga yang terjadi dalam beberapa hari terakhir menjadi kabar baik bagi para peternak yang sebelumnya harus menghadapi tekanan akibat melemahnya permintaan pasar.

Kepala Dinas Ketahanan Pangan dan Pertanian (Dispangtan) Kota Malang, Slamet Husnan, mengatakan harga telur ayam di tingkat peternak mulai bergerak naik. Berdasarkan data per 1 Juli 2026, harga telur ayam di Malang Raya tercatat mencapai Rp 19.500 per kilogram atau naik sekitar Rp1.300 dibandingkan periode sebelumnya.

Menurut Slamet, kenaikan harga tersebut terjadi setelah pasar mulai kembali bergairah pasca berakhirnya masa libur sekolah dan kuliah yang selama beberapa waktu terakhir menekan konsumsi masyarakat.

“Sebelumnya harga telur sempat turun hingga sekitar Rp 17 ribu per kilogram. Penurunan itu dipengaruhi berkurangnya permintaan akibat libur sekolah, libur kuliah, serta bulan Suro yang biasanya membuat jumlah kegiatan hajatan dan resepsi menurun,” ujarnya.

Kondisi tersebut dikatakan Slamet membuat serapan telur di pasar tidak optimal. Ketika permintaan melemah sementara produksi tetap berjalan, harga di tingkat peternak ikut tertekan.

“Namun memasuki awal Juli, situasi mulai berubah. Aktivitas masyarakat kembali meningkat, termasuk kegiatan usaha kuliner, industri makanan, hingga berbagai acara keluarga yang membutuhkan pasokan telur dalam jumlah besar,” ucap dia.

Meningkatnya permintaan itu perlahan mendorong harga telur kembali bergerak naik. Meski belum sepenuhnya kembali ke level ideal bagi peternak, tren kenaikan ini dinilai menjadi sinyal positif bagi keberlangsungan usaha peternakan ayam petelur di Malang Raya. Slamet menjelaskan, telur merupakan salah satu komoditas pangan yang sangat sensitif terhadap perubahan permintaan pasar. Berbeda dengan komoditas lain yang bisa disimpan dalam waktu lama, telur memiliki siklus distribusi yang relatif cepat sehingga perubahan konsumsi masyarakat langsung berdampak terhadap harga.

“Karena itu, momentum seperti libur panjang, perubahan musim, hingga tradisi budaya tertentu kerap memengaruhi fluktuasi harga telur di pasaran,” sebut dia.

Ia menerangkan selain faktor permintaan, peternak juga masih menghadapi tantangan dari sisi biaya produksi, terutama harga pakan ternak yang masih cukup tinggi. Kondisi tersebut membuat peternak berharap tren kenaikan harga telur dapat terus berlanjut sehingga mampu menutup biaya operasional dan menjaga keberlangsungan usaha.

“Meski demikian, Dispangtan Kota Malang tetap memantau perkembangan harga agar tidak terjadi lonjakan yang berlebihan dan membebani konsumen. Stabilitas harga dinilai penting untuk menjaga keseimbangan antara kepentingan produsen dan daya beli masyarakat,” ungkapnya.

Dispangtan Kota Malang optimistis harga telur akan tetap bergerak stabil seiring normalnya aktivitas ekonomi dan meningkatnya kebutuhan masyarakat pada semester kedua tahun 2026.

“Bagi peternak, kenaikan harga ini menjadi angin segar setelah beberapa bulan terakhir menghadapi tekanan pasar. Sementara bagi konsumen, kondisi tersebut menjadi sinyal bahwa aktivitas ekonomi dan konsumsi masyarakat mulai kembali bergerak normal. Dengan membaiknya permintaan dan stabilnya distribusi, sektor peternakan ayam petelur di Malang Raya diharapkan mampu terus menopang kebutuhan pangan masyarakat sekaligus menjaga kesejahteraan para peternak lokal,” tukas dia.

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *