google.com, pub-7927405703202979, DIRECT, f08c47fec0942fa0

Nusafest UM Kembali Digelar, Presiden BEM UM Tegaskan Tidak Akan Mengalami Kerugian

  • Bagikan
banner 468x60

Kota Malang, iKoneksi.com – Festival kebudayaan bertajuk Nusantara Festival atau Nusafest yang digagas oleh Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Negeri Malang (UM) kembali menjadi buah bibir. Bukan semata karena skala acara atau konsep yang diusung, tetapi lebih kepada kontroversi yang menyertainya. Akun Tiktok resmi Dewan Mahasiswa Biasa (DMB UM) kembali ramai dengan sorotan tajam dari sejumlah mahasiswa. Beberapa di antaranya bahkan menyebut gelaran ini ditunggangi kepentingan organisasi tertentu, yakni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII) UM.

Namun, di tengah derasnya sorotan dan kritik, Presiden BEM UM, Desita, angkat bicara dan menegaskan Nusafest kali ini tidak akan mengalami kerugian seperti halnya Feskala yang dihelat pada tahun 2022 lalu.

Luka Lama dari Festival 2022

Feskala 2022 meninggalkan jejak kelam dalam sejarah kegiatan besar kemahasiswaan di UM. Gelaran tersebut dilaporkan mengalami kerugian mencapai angka fantastis: Rp 300 juta. Kerugian ini menimbulkan trauma kolektif bagi kalangan pengurus BEM dan mahasiswa secara umum. Kala itu, ambisi besar menghadirkan kemeriahan budaya Nusantara tak dibarengi dengan perencanaan anggaran dan manajemen risiko yang matang.

Dampaknya tak hanya soal kerugian finansial, tetapi juga kepercayaan mahasiswa terhadap BEM UM yang sempat goyah. Tak heran, ketika kabar mengenai Nusafest tahun ini kembali mencuat, sejumlah mahasiswa langsung waspada dan menaruh curiga.

PMII UM Dibalik DMBUM

Sorotan lain yang mencuat adalah dugaan kritikan dari @dmbum kali ini ditunggangi oleh PMII UM. Dugaan ini mencuat dikarenakan narasi yang dibangun menggiring opini berlawanan dan menguntungkan salah satu pihak.

Desas-desus mengenai PMII UM mengoperasikan @dmbum memang belum terbukti secara konkret. Namun, narasi tersebut cukup kuat menggerakkan gelombang kritik yang mempertanyakan independensi BEM UM. Apakah kegiatan ini murni representasi keragaman budaya mahasiswa, atau hanya keuntungan pihak tertentu?

Desita Angkat Suara, Tegaskan Transparansi

Menanggapi situasi yang memanas, Desita selaku Presiden BEM UM memberikan klarifikasi terbuka. Ia menyatakan bahwa Nusafest tahun ini telah dirancang dengan matang dan mengedepankan transparansi anggaran serta akuntabilitas program.

“Saya pastikan Nusafest tidak akan mengalami kerugian seperti Feskala 2022. Kami belajar dari kegagalan itu,” ujarnya dengan tegas.

Menurut Desita, anggaran yang digunakan tidak akan sampai membengkak seperti Feskala. Lebih lanjut, Desita memastikan konsep Nusafest kali ini tidak akan mengandalkan artis atau guest star seperti tahun-tahun sebelumnya.

“Kita realistis, tidak akan menghadirkan guest star kalau jumlah sponsor tidak memadai,” tegasnya.

Mengangkat Budaya Lewat UKM dan Orda

Salah satu hal yang patut diapresiasi dari Nusafest adalah konsep penyajian budaya yang kembali ke akar: mengangkat peran aktif Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) se-UM dan kemungkinan pelibatan Organisasi Daerah (Orda). Tarian-tarian daerah dari Sabang sampai Merauke akan ditampilkan oleh para mahasiswa UM sendiri, yang menjadi bagian dari UKM seni maupun orda kedaerahan. Desita menekankan konsep ini tidak hanya lebih efisien dari sisi pembiayaan, tapi juga lebih autentik dalam menyampaikan semangat kebhinnekaan.

“Kami ingin memberi ruang untuk mahasiswa menunjukkan identitas budayanya, bukan hanya sekadar mendatangkan hiburan dari luar,” ungkapnya.

Pendekatan ini dinilai sebagai langkah maju untuk merangkul seluruh mahasiswa dari berbagai latar belakang daerah. Selain itu, Desita menegaskan pelibatan UKM juga menjadi bentuk pemberdayaan komunitas internal kampus.

Respon Mahasiswa Terbelah

Meski penjelasan dari Presiden BEM sudah cukup komprehensif, reaksi mahasiswa masih terbelah. Sebagian pihak menyambut baik ide Nusafest yang menonjolkan budaya lokal dan memberi ruang bagi mahasiswa untuk tampil. Namun sebagian lainnya masih menyimpan rasa khawatir, terutama menyangkut transparansi penggunaan dana.

“Kami ingin tahu, siapa yang duduk di balik kepanitiaan ini? Apakah mereka benar-benar mewakili semua mahasiswa atau hanya golongan tertentu?” ujar salah satu mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial.

Diskusi di media sosial masih terus bergulir. Beberapa mengusulkan agar BEM mengunggah laporan keuangan terbuka secara berkala, serta menyampaikan struktur kepanitiaan agar tak ada kecurigaan yang tak berdasar.

Membangun Kepercayaan Melalui Keterbukaan

Desita mengungkapkan kegiatan besar seperti Nusafest memang membutuhkan kepercayaan yang solid dari seluruh elemen kampus. Untuk itu, langkah Desita dan jajarannya dalam menjamin akuntabilitas serta menahan diri dari keputusan yang berisiko tinggi patut mendapat catatan positif.

“Maka dengan rancangan yang telah digagas dan skema yang dibuat saya tegaskan tidak akan mengalami kerugian seperti Feskala yang mengakibatkan panitia dan pengurus BEM UM yang terlibat di Feskala ditarik iuran yang fantastis. Saya juga berharap mahasiswa UM tidak kemakan isu yang menggiring opini,” pungkas Desita. (04/iKoneksi.com)

banner 325x300banner 325x300
banner 120x600
  • Bagikan

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *